Kepekatan Mistik Gunung Klabat

Tak ada yang dapat menyangkal, keindahan alam yang berdampingan dengan kisah-kisah mistik begitu banyak di tanag air … dan salah satunya adalah Gunung Klabat yang memiliki ketinggian 1.995 mdpl di Provinsi Sulawesi Utara ….
oleh: Lukas Ardiansyah

 

Neomisteri – Bagi masyarakat atau pecinta alam dari Tonsea (Munahasa Utara), biasa menyebut gunung yang satu ini dengan sebutan Gunung Tamporok. Menurut sahabat neomisteri yang akrab disapa dengan nama Lukas (24 tahun), untuk mencapai puncaknya untuk menyaksikan kepundan berbentuk danau kecil berair jernih diperlukan waktu sekitar 8 (delapan) jam.

Kali ini, sang sahabat akan menceritakan pengalamannya mula pertama mendaki Gunung Klabat , tepatnya, ketika ia pertama kali masuk menjadi anggota pecinta alam di sekolahnya — salah satu SMA yang cukup ternama di Manado.

Baca: Penghuni Gaib Kontrakan Tua

Seperti biasa, sebelum berangkat semua anggota muda yang kala itu hanya diikuti oleh 15 (lima belas) orang berkumpul di depan sekolah. Segala perizinan sudah diselesaikan oleh Willy, sementara ketua rombongan adalah Benny yang akrab disapa dengan Broer (Brur-red) mengingatkan kepada kita semua untuk kompak, saling tolong dan tidak membuang sampah sembarangan serta berlaku santun.

“Ingat itu …!” Demikian katanya lantang.

“Baik Broer …”, jawab kami serempak.

“Ingat di Pos Dua nanti, kita akan melihat ada batu besar yang bagian atasnya datar dengan sebatang kayu tua tertancap di depannya — di bagian atas kayu tersebut ada sebuah “topi koboi” yang sudah ditumbuhi lumut yang di belakangnya bertuliskan “Tuama:Oi” — kalian pasti siudah tahu artinya. Bagi masyarakat Minahasa, tulisan itu adalah merupakan penyebutan bagi pria yang dihormati”, tambah Benny sambil menatap lekat kepadaku. Maklum, aku satu-satunya anggota yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah.

Aku mengangguk tanda mengerti. Benny pun tersenyum puas.

“Baik … sekarang waktunya berdoa agar perjalanan kita dilindungi dan dapat kembali dengan lengkap dan selamat. Berdoa mulai”, demikian kata Benny tegas.

Kami semua menundukkan kepala, berdoa. Tak lama setelah itu, semua kembali sibuk mengemasi barang masing-masing dan menuju mobil yang akan membawa kami ke kaki Gunung Klabat. Waktu tempuh hanya sekitar 1 (satu) jam. Kami tiba di kantor Polisi untuk melaporkan atau meminta izin untuk melakukan pendakian.

Baca: Akibat Terkena Teluh

Singkat kata, di Pos Dua, cuaca mulai agak gelap. Waktu telah menunjukkan pukul 18.15 WITA lewat penerangan headlamp aku benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri tentang batu besar yang dikatakan oleh Benny. Tidak cukup cuma itu, aku bahkan melihat serakan arang dan aroma wewangian serta ceceran bekas sisa makanan.

Ternyata sama dengan di Jawa. Batu ini adalah sebagai sarana untuk tempat memanjatkan doa … yang sudah barang tentu harus disertai dengan membawa ubo rampe atau persyaratan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu.

Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak.

Menjelang Pos Tiga, mendadak, bulu kudukku meremang dan sesekali cuping hidungku mencium bau wewangian seiring dengan kelebat makhluk besar berkulit loreng. Aku menarik napas lega, ternyata, penjaga gaib ayah selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Ya … sejak berusia muda, ayah telah mewarisi penjaga gaib macan gembong yang kadang maujud sebagai lelaki gagah.

Kegelapan ditambah dengan turunnya kabut, tanpa sadar, membuat jarak antara kelompok menjadi agak berjauhan. Bahkan, aku tertinggal di belakang sendirian. Ketika itu, dari arah depan, muncul seseorang tengah membawa sekawanan anjing kesemuanya terikat dengan tali yang dililitkan menjadi satu di tangan kanannya.

Baca: Pengalaman Mistik Penggali Makam

Agar tidak mengganggu pandangannya, maklum, waktu itu, aku mendaki dan orang yang membawa kawanan anjing itu menurun, maka, aku membengkokkan headlamp ke bawah. Bersamaan dengan itu, Mbah Gembong (wujud dari penjaga gaib ayah-red) tiba-tiba sudah berdiri di depanku sambil memberikan isyarat agar terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Sementara itu, semua teman-teman di puncak Klabat kebingungan. Benny yang tanggap langsung meminta Willy dan Clift turun untuk mencariku. Kedua seniorku memang sangat hafal medan Gunung Klabat. Tak sampai sepuluh menit, keduanya berhasil menjumpaiku. “Ada masalah?” Tanya keduanya hampir bersamaan.

Aku tidak menjawab. Cukup hanya mengacungkan ibu jari. Willy dan Clift sejenak saling pandang sambil tersenyum dan memberikan kode kepadaku untuk terus mendaki sementara keduanya berjalan di belakangku. Setibanya di puncak, semua menyambutku dengan gembira ….

Baca: Pengalaman Mistik Supir Taksi

Siangnya, ketika turun, Clift sambil berbisik menanyakan apa yang sebenarnya kualami semalam. Aku pun menceritakan peristiwa berpapasan dengan pria yang membawa kawanan anjing. Mendengar itu, ia pun memotong; “Puji Tuhan … makhluk itu tidak mengganggu. Biasanya, orang yang sempat melihatnya akan hilang. Bisa kecelakaan atau hilang sama sekali … ada pula yang jadi gila”.

Aku terdiam sambil berdoa serta menghaturkan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa, lewat pertolongan Mbah Gembong aku tidak mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kekeramatan Tombak Kyai Panjang

Demi mengemban tugas Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Utsmaniyah, akhirnya, Syekh Subakir dapat mengetahui penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan ajaran...

Legenda Hantu Wanita di Taman Durand Eastman

Sejak saat itu, sosok wanita itu kerap menghantui wilayah di sekitar lokasi tempatnya bunuh diri. Kadang-kadang dalam penampakannya, sang wanita itu ditemani sosok anjing...

Artikel Terpopuler