Akibat Terkena Teluh

Berawal dari serangan migrain, paginya, selain lemas tak berdaya tubuhnya juga dipenuhi bintik-bintik penuh nanah mirip cacar dan mulutnya pun menguarkan bau busuk yang teramat menyengat ….
oleh: Rendy Setyawan

Neomisteri – Siapa yang tak mengenal Nia (24 tahun), gadis bertubuh sintal berkulit kuning langsat, ramah dan tergolong pandai yang berkantor di salah satu pencakar langit yang terletak di ruas Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Tak hanya teman sekantor, boleh dikata, hampir satu building itu selalu menyapanya dengan hangat bila berpapasan dengannya.

“Mbak Nia orangnya enak. Enggak mandang orang, siapa aja selalu ditegor”, demikian kata salah seorang cleaning service, “kadang, kita juga dibeliin nasi bungkus”, imbuhnya.

Keramahan dan kepandaiannya bergaul kepada semua orang membuat banyak lelaki jadi salah dalam mengartikan keramahannya. Diam-diam, walau tak berani mengutarakan secara terus terang, namun, banyak lelaki yang jatuh hati kepadanya. Nia bukan tak tahu hal itu, namun, ia tetap tidak berubah. Ia sudah bertekad dalam hati untuk menikah nanti diusia 30 tahun — dengan lelaki yang seiman — dan berjanji akan menyayangi diri serta keluarganya. Maklum, selama ini, Nia adalah tulang punggung keluarga, ia bekerja keras untuk membantu ekonomi ayah dan ibu serta dua orang adiknya yang masih duduk di bangku SMA di bilangan Sukabumi.

Baca: Kuntilanak di Studio Alam TVRI

Waktu terus berlalu, pagi itu, baru saja ia duduk, mendadak Nia mengeluh kepalanya pusing. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Semuanya sibuk dan bingung, akhirnya, mereka memutuskan untuk membawa Nia ke RS terdekat dan sudah itu membawanya pulang karena dokter hanya mengatakan; “Ibu Nia kelelahan. Butuh istirahat barang satu atau dua hari”.

“Saya berikan surat izin sakit untuk lima hari kerja. Jangan lupa minum obatnya Bu Nia, dan cepat sembuh ya …”, demikian kata sang dokter.

Setelah mengantarkan Nia ke tempat kos dan menitipkannya kepada pemilik kos, teman-temannya pun kembali ke kantor. Di sepanjang jalan, mereka berceloteh dan membenarkan diagnosa dokter; “Ya … Nia kecapekan, maklum lagi diminta Bos besar buat menghitung bonus sama kenaikan gaji semua karyawan, tapi, harus sesuai dengan kemampuan perusahaan”.

Semua yang di mobil hanya bisa saling pandang dengan wajah sumringah. Mereka yakin, karena selama ini Andre tergolong salah satu sahabat Nia yang paling dipercaya.

Pada hari keempat, tempat kos Nia mendadak gempar. Betapa tidak, hampir seluruh penghuni kos yang berjumlah sekitar 10 orang berkerumun di kamar Nia dengan wajah bingung sambil menekan masker yang dipakainya dalam-dalam. Selain lemas tak berdaya, sekujur tubuh Nia juga dipenuhi dengan bintik-bintik penuh nanah dan menguarkan bau mulut yang teramat busuk menyengat.

“Kok jadinya begini?” Demikian kata ibu kos dengan wajah bingung.

Tanpa banyak cakap, akhirnya, Ayu menelepon kantornya Nia untuk memberitahukan keadaannya. Operator langsung menerima dan mencatat, kemudian menyerahkan kertas kecil itu ke Pak Andre yang kebetulan merupakan karyawan senior di kantor itu. “What …”, katanya sambil memegang kertas kecil.

“Ada apa Ndre?” Tanya yang lain bersamaan.

“Nia makin parah. Kalau begitu aku lapor dulu ke Bos Besar dan minta izin membawa Nia pulang ke Sukabumi”, jawab Andre cepat.

Di tengah-tengah Andre menelepon Bos Besar, teman-temannya bergumam; “Kenapa enggak ke rumah sakit. Kenapa harus dibawa ke Sukabumi?”

Agaknya Andre mendapatkan persetujuan dari Bos Besar, sambil mempersiapkan segala sesuatunya, Andre pun berkata; “Itu permintaannya. Nia mau kalau dia ada apa-apa, keluarganya ada di sampingnya”.

“Hii … serem”, demikian kata mereka hampir bersamaan.

“Bagi tugas ya, Yuni dan Rachmat menghubungi RS untuk menyewa ambulance. Sementara, Ria tolong hendel kerjaan aku ya …”, teriak Andre sambil berjalan.

Singkat kata, Andre pun mengawal Ambulance Rumah Sakit menuju Sukabumi. Seisi kampung pun heboh, maklum, tidak biasanya ada ambulance masuk ke kampung bahkan sampai di depan rumah. Ayah dan ibu Nia tampak dengan tegar memperhatikan suster yang menurunkan tandu dan langsung membawanya ke kamar — sementara, kedua adiknya hanya berbisik lirih; “Teteh …”.

Baca: Legenda Penghuni Ghaib Jembatan Sewo

Setelah menghaturkan terima kasih dan ambulans kembali ke Jakarta, sang ayah langsung mendekati Andre dan menggamit bahunya. Keduanya berjalan menjauh sambil berkata-kata lirih. Andre yang mafhum langsung bergegas ke mobilnya diikuti oleh ayah Nia. Sambil berjalan, ayah Nia pun berkata; “Bu … urang ke Abah Ali”.

Sang ibu pun mengangguk dengan wajah penuh harap.

Tak sampai setengah jam, ayah Nia dan Andre diikuti lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian petani dengan ikat kepala batik pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar tidur Nia. “Beginilah risiko kalau punya nak perawan cantik, pintar dan luas pergaulannya. Banyak yang mau nyunting tapi tidak berani, tapi, semuanya kepingin memiliki”, ujar Abah Ali dengan dialek Sunda yang kental.

“Maksud Abah?” Desak Andre.

“Ada yang ditolak cintanya. Lelaki jauh … bukan sekantor”, tandasnya lagi.

Setelah sejenak memperhatikan, Abah Ali pun minta izin ke belakang untuk berwudu kemudian kembali dan mendirikan salat dua rakaat. Ia memberikan isyarat untuk menyiapkan air putih di kendi yang tadi mereka beli di pasar, dan setelah itu, Abah Ali dengan khusyuk membaca Hizib Nashr yang pada waktu di mobil ia telah menerangjelaskan tata cara pengalaman, kegunaan dan manfaat hizib tersebut.

Andre yang sebentar-sebentar melihat arlojinya menghitung, ternyata, hampir 150 menit Abah Ali tenggelam dalam lautan doa — begitu selesai dan ia berdiri sambil mengankat kendi yang berisi air putih — bersamaan dengan kumandang Azan Zuhur, Abah Ali menyiramkan air yang dikendi ke tubuh Nia mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Keajaiban pun terjadi. Sesaat Nia mengerang kesakitan, setelah itu, ia pun diam bagai tertidur nyenyak, sementara bintik-bintik di sekujur tubuh bahkan bau busuk yang semula menguar dari mulutnya hilang sama sekali.

“Alhamdulillah”, kata Abah Ali, “ini semua kuasa Allah, saya hanya perantara. Belajar dari pengalaman ini, maka, sebagai hamba yang lemah kita harus selalu ingat dengan cara tidak meninggalkan salat lima waktu”, imbuhnya.

Apa komentarmu?