Penjaga Gaib Harta Karun Candi Abang

Di kalangan para pemburu harta karun, Candi Abang yang terletak di bilangan Yogyakarta adalah bukan merupakan tempat yang asing lagi, namun apa daya, sampai sekarang belum ada satu orang pun yang berhasil menguasainya ….
oleh: Anandikha Marva

Neomisteri – Malam belum begitu tua, begitu aku sampai di pertigaan dekat rumah tempat kumpul-kumpul mulai dari orang tua, ibu-ibu bahkan anak-anak. Setelah sejenak masuk ke rumah dan membasuh badan yang berkeringat dengan air hangat, aku pun berjalan menuju ke pertigaan.

“Jangan malam-malam pulangnya. Jaga badan”, demikian bisik Maya, istriku yang begitu gamang jika aku nongkrong di pertigaan. Maklum, selain banyak ibu-ibu muda yang kadang nongkrong sampai larut dan menerapkan protokol kesehatan, esoknya juga harus bekerja.

“Assalamualaikum …”, sapaku sambil mengangkat kursi plastik aku mencari tempat duduk di antara bapak-bapak yang sedang asyik bermain gaple yang posisi duduknya saling berjauhan.

Baca: Salah Satu Titik Angker di Sungai Ciliwung

Belum lagi duduk, dari arah sebelah kanan terdengar suara; “Sini Om … ada teman mau kenal nih. Dia mau cerita … true story … yang ngalamin pamannya sendiri”.

“Siyap …”, kataku, “siapa takut”, lanjutku sambil berjalan menuju ke arah Mas Min dan Mas Bowo.

Keduanya keluarga muda yang kebetulan istrinya baru saja pulang ke kampung untuk suatu keperluan. Jadilah keduanya “jomblo” dan ikut duduk-duduk bergabung bersama tetangga yang lainnya.

“Kenalkan … ini Bang Chairuddin yang biasa kita panggil Bang Udin”, kata Mas Min sambil menunjuk ke arah temannya. Bang Udin langsung berdiri dan mengangguk, begitu pun aku yang langsung saja duduk di antara mereka.

Baca: Misteri Kota Padang 12

Setelah sejenak berbincang untuk mencairkan suasana, Bang Udin pun menceritakan pengalaman sang paman waktu berburu harta karun di Candi Abang, Jogjakarta. Tepatnya di Blambangan, Jogotirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman.

Singkat kata, setelah segala ubo rampe (persyaratan-red) lengkap, Paman Mustari, Mas Jio (yang konon pakar penarikan benda-benda gaib-red), Mustafa (asisten Mas Jio) dan Pak Jhoni selaku penyandang dana berangkat ke lokasi. Sayang, Bang Udin lupa tempat tepatnya.

Hari menjelang senja, setelah mengitari Candi Abang, Mas Jio tampak mengambil sejumput tanah dan membungkusnya dengan kain putih kemudian berjalan ke suatu tempat yang sebelumnya telah mereka tentukan.

Maklum, Candi Abang termasuk dalam cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-undang sehingga tak seorang pun boleh mengusik berbagai benda yang ada di kawasan itu.

Waktu terus merangkak, menjelang tengah malam, ubo rampe pun digelar dan dupa dinyalakan. Mas Jio tampak memejamkan mata dan menata napasnya. Perlahan namun pasti, langit yang semula cerah berubah gelap. Mendung tebal menggantung di atas awan disertai dengan angin yang begitu kencang dan gelegar petir yang sambung menyambung. Kecuali Mas Jio, kami semua gelisah dan sesekali melihat ke atas.

Bersamaan dengan gelegar petir, samar kami melihat sesosok bayangan hitam tinggi besar berdiri di depan Mas Jio dan langsung menyepak segala ubo rampe yang ada. Karena Mas Jio masih tenggelam dalam semedinya, sang makhluk gaib itu kian marah. Ia langsung menginjak dupa dan mengayunkan tangannya ke tubuh Mas Jio ….

Tubuh itu melayang lumayan jauh, sekitar tiga sampai empat meter dari tempatnya dan jatuh ke tanah sambil memuntahkan darah segar; “Huekkkk”.

“Ampun … saya tidak akan mengambilnya”, kata Mas Jio lirih dan kemudian tak sadarkan diri.

Baca: Dikuntit Banaspati

Paman Mustari, Mustafa dan Pak Jhoni bergegas mengangkat tubuh Mas Jio ke mobil. Beruntung, tak lama kemudian Mas Jio tersadar dan meminta air kelapa hijau dan langsung meminumnya. Kembali Mas Jio memuntahkan darah segar. Paman Mustari, Mustafa dan Pak Jhoni hanya bisa saling tatap dengan wajah khawatir. Setelah beberapa kali menghela napas dalam-dalam, akhirnya, Mas Jio pun mulai tampak tenang.

Ia pun bercerita, makhluk gaib yang tadi datang tak lain adalah Bima (tokoh pewayangan-red) pada waktu bergelar Jagal Abilowo ketika keluarga pandawa merantau ke Wirata saat menjalani pengasingan selama 12 tahun akibat kalah berjudi dengan pihak Kurawa. Oleh karena itu tidak heran, jika di Candi Abang, Bima sempat menyembunyikan seekor anak kerbau yang kemudian berubah menjadi emas dan menjaganya dengan sangat ketat.

Menurut penuturan Mas Jio, benda-benda peninggalan masa lalu baru bisa diambil bahkan keluar dengan sendirinya jika negara ini telah diperintah oleh Ratu Adil. Pada saat itulah negara Indonesia akan menjadi mercu suar dunia, khususnya, dalam hal kesantunan serta penghormatan terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. Semoga.

Kolom Komentar...