Dikuntit Banaspati

Bagi para pengendara kendaraan bermotor khususnya bus atau truk jalur Solo-Ngawi, sampai sekarang, Hutan Mantingan, masih dianggap sebagai salah satu ruas jalan yang tergolong angker …
Oleh: Surya Dewabrata

Neomisteri – Pagi itu, neomisteri sengaja menyambangi Pusat Pergudangan Kota Pedaringan, Solo, Jawa Tengah. Tak ada maksud untuk menyewa kendaraan, kecuali hanya sekadar berbincang dengan para sopir yang bukan tidak mungkin mempunyai pengalaman mistik yang layak untuk disajikan kepapa para pembaca sekalian.

Neomisteri sengaja memesan kopi di warung yang terletak jauh dari pusat pergudangan. Celoteh di antara para sopir dan kernet yang usai dan akan bertugas terdengar demikian riuh, ingar.

Setelah memperkenalkan diri, Mas Sur (45 tahun) demikian sapaan akrabnya langsung saja duduk di depan neomisteri. Setelah menyesap kopi panas dan menyalakan rokok, Mas Sur pun menceritakan peristiwa yang dialaminya beberapa bulan lalu, tepatnya sekitar April 2020 ketika kendaraannya melintas di Hutan Mantingan, Ngawi, ketika mengantarkan barang dengan tujuan Surabaya.

Sebenarnya bukan tugas saya”, katanya dalam dialek Jawa yang kental, “sore itu saya diminta Bos Besar untuk menggantikan Mas Yok yang kebetulan sedang kurang sehat”, lanjutnya lagi.

Mulanya saya menolak, maklum, saya baru saja kembali dari Surabaya. Biasa, ingin istirahat dan kumpul sama ibunya anak-anak”, katanya dengan senyum simpul penuh arti, “tapi apa daya, Bos Besar juga menjanjikan bonus yang lumayan untuk tambahan biaya sekolah “anak lanang” (anak lelaki-Jw)”, sambungnya.

Oh … memang, kalau sudah untuk kepentingan anak, kita sebagai orang tua pasti berjuang mati-matian untuk memenuhinya”, timpal neomisteri.

Setuju”, sambut Mas Sur dengan penuh semangat, “setelah mendapatkan kode dari “Gondes” panggilan akrab kernet saya bahwa segala sesuatunya telah beres, kami pun berangkat pas “srengenge surup” (menjelang rembang petang-Jw)”, imbuhnya.

Ojo lali ndongo (jangan lupa berdoa-Jw)”, Mas Sur mengingatkan Gondes, kernetnya.

Gondes hanya menyeringai memperlihatkan barisan giginya yang agak tonggos.

Sekitar pukul 22.00 WIB, kendaran pun mulai memasuki Alas Mantingan. Mas Sur mulai meningkatkan kewaspadaannya, mulutnya terus saja berkomat-kamit membaca doa. Sementara, Gondes yang duduk di sebelahnya asyik memperhatikan jalan sambil menghisap rokoknya. Tak ada yang bicara ….

Mas … ono geni, kae lho … kae (Mas, ada api, itu lho-Jw)”, kata Gondes memecah kesunyian.

Mas Sur yang tidak mau terpancing terus diam. Dengan ekor matanya, ia berusaha melihat ke arah yang ditunjuk Gondes. Hatinya sontak tercekat. Betapa tidak, ia melihat dengan jelas betapa ada bola api yang seolah mengikuti mobilnya — anehnya, bola api itu tidak menabrak pepohonan atau membakar semak yang dilewatinya.

Jangan-jangan ini yang kata Simbah namanya Banaspati”, gumam Mas Sur.

Hi … “, kata Gondes yang kebetulan mendengar gumaman Mas Sur.

Keduanya hanya bisa berdoa dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Mas Sur semakin meningkatkan konsentrasinya karena sebentar lagi akan melewati Jembatan Sidowayah yang keangkerannya juga sudah sangat terkenal. Biasanya, begitu menurut cerita para sopir, di jembatan ini kadang muncul bayangan hitam. Akibatnya sudah dapat ditebak, karena kemunculannya, maka, pengemudi akan kaget dan kehilangan konsentrasi sehingga kecelakaan pun tak terelakan lagi.

Lepas melewati Jembatan Sidowayah, bola api yang semula mengikuti lenyap tanpa bekas. Mas Sur dan Gondes sontak meneriakan kata; “Alhamdulillah … Gusti Allah, kawulo namung sak dermi (Ya Allah, hamba hanya sekadar menjalankan perintah-Jw)”.

Dalam sekian lama bekerja, baru sekali itu saya melihat penampakan. Semoga tidak terjadi lagi dan saya selalu ada di dalam lindungan-Nya”, pungkasnya sambil menjabat tangan neomisteri dan pamit untuk memeriksa kendaraannya di pul.

Leave a Reply