Pengalaman Mistik Supir Taksi

Dia diminta menunggu, sementara, sang penumpang yang bertubuh tambun dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang teramat menyengat masuk ke sebuah rumah mewah lagi megah ….
oleh: Rakyan Sumantri

Neomisteri – Malam semakin larut. Beberapa kali aku menatap layar ponselku. Tak lama kemudian, berhenti mobil Xenia dan pengemudi bergegas turun serta membukakan pintu sambil berkata sopan; “Silakan Pak Amry … Semoga perjalanannya menyenangkan dan tidak macet”.

Aku langsung duduk sambil menghembuskan napas panjang. Sang pengemudi yang bernama Arya pun langsung saja bertanya; “AC-nya kurang dingin atau ada yang ketinggalan?”

Tidak … lanjut, AC dan pelayanan sudah lebih dari cukup,” jawabku sambil menikmati kemudahan dari angkutan umum (OJOL-red) yang belakangan marak di berbagai kota.

Cuma sedikit capek. Ini jadi pekerjaan tetap atau sampingan?” tanyaku kembali membuka pembicaraan.

Mulanya sampingan, tapi, sekarang jadi pekerjaan utama,” jawab Arya sambil menceritakan perjalanan hidupnya yang menurutku penuh dengan tantangan dan perjuangan.

Betapa tidak, ia memulai karir sebagai tenaga sekuriti, kemudian berlanjut menjadi staf distribusi di salah satu perusahaan manufaktur kemudian mencari tambahan dengan menyambi pada salah satu perusahaan OJOL — setelah beberapa bulan menyelami, akhirnya ia dengan dukungan sang istri memutuskan untuk menjadikan OJOL sebagai mata pencaharian utamanya.

Suka dukanya jadi pengemudi OJOL?” Desakku.

Praktis lebih banyak sukanya Pak. Kita bisa mengatur jam kerja sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi lebih banyak waktu untuk istri dan anak,” jawabnya bersemangat.

Dukanya kalau order lagi sepi,” tambahnya lagi.

Setoran aman?” tanyaku.

Alhamdulillah. Untuk rumah dan cicilan kendaraan tiap bulan aman. Cuma saya belum bisa menabung seperti dulu. Sekarang rada sepi. Maklum, pada takut keluar rumah karena Covid,” jawabnya panjang lebar.

Ya …,“ kataku. “Pastinya banyak pengalaman yah?” sambungku.

Banyak Pak …,” sahutnya. “Yang paling serem kejadian dua bulan lalu,” imbuhnya.

Arya pun mulai menceritakan pengalamannya.

Tak seperti biasanya. Sudah tiga hari, order yang masuk hanya jarak-jarak pendek. Artinya, ia hanya dapat sekadar untuk bensin dan makan. Hatinya mulai gelisah. Betapa tidak, jika berkepanjangan bakal berakibat fatal baginya. Karena tak bisa membayar angsuran, sudah barang tentu ia terkena sangsi dan bukan tidak mungkin mobil yang dipakai untuk mencari nafkah bakal ditarik oleh dealer.

Di tengah-tengah kegalauannya, mendadak, ada order masuk untuk mengantarkan tamu ke Jl. Pantai Indah Selatan, Kapuk, Jakarta Utara. Arya langsung saja memencet tombol tanda oke, apalagi, ia kebetulan berada tak jauh dari lokasi penjemputan.

Singkat cerita, ia berhenti tepat di depan bar dan tampak olehnya petugas security tengah memapah seseorang bertubuh tambun yang tampaknya sudah mabuk berat. Dengan sigap Arya turun dan membuka pintu dan bantu menaikkan tamunya.

Tolong diantar sampai tujuan dengan selamat,” demikian pesan petugas security sambil tersenyum.

Siaaap,” kata Arya dengan singkat sambil melajukan kendaraannya.

Tak ada percakapan sama sekali. Ketika hampir sampai, lelaki itu terbangun sambil berkata; “Tunggu sebentar ya, nanti anterin gua pulang ke Semper, Cilincing”.

Belum lagi Arya menjawab, lelaki itu langsung merogoh saku celananya sambil memberikan segenggam uang; “Ini ongkos ama tambahan buat antar gua pulang. Kalo kurang bilang”.

Arya pun menerima. Ia baru tersadar ketika lelaki tambun itu menutup pintu mobilnya dengan keras dan berjalan ke sebuah rumah mewah dan megah bertingkat dua. Ia pun mulai menghitung uang yang baru saja diterimanya. Hatinya tercekat, di tangannya, walau agak kusut, tergenggam uang pecahan seratus ribu sebanyak dua puluh lembar.

Arya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam; “Mabuk memang membuat orang jadi lupa segala-galanya”.

Ia bertekad akan mengembalikan uang tersebut pada saat tamunya pulang nanti.

Malam yang terus merangkak dan lelah akibat seharian di kendaraan membuat Arya pun mengantuk. Ia berusaha tetap terjaga. Namun, kali ini, matanya benar-benar lengket. Tanpa sadar, ia pun tertidur dengan nyenyaknya.

Ia terbangun ketika mendengar ketukan agak keras di jendela mobilnya. Sambil menggeliat, Arya pun berusaha untuk segera sadar. Ketika turun ia terkejut … betapa tidak, di depannya berdiri dua orang petugas security yang menatapnya dengan curiga. Setelah uluk salam, keduanya meminta Arya untuk menyingkir dan yang seorang langsung saja memeriksa mobil Arya dengan teliti.

Aman …!” Katanya dengan keras.

Arya pun tersadar. Ia tak lagi melihat rumah mewah. Di depannya yang ada hanyalah hamparan tanaman bakau yang demikian rapat.

Lha … kok di sini?” Gumamnya.

Kedua security yang tanggap memberi Arya minum dan mengajaknya ke POSKO. Di sana Arya menceritakan pengalamannya dan menunjukkan kepada petugas order yang diterimanya.

Semua yang ada menepuk dahinya masing-masing sambil bergumam hampir bersamaan; “Baru sekali ini ada kejadian aneh begini”.

Setelah dirasa cukup dan suara adzan Subuh mulai terdengar lamat-lamat, Arya pun mohon diri dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas security yang telah menolongnya.

Keanehan pun mulai terasakan oleh Arya. Sejak itu, hampir sebulan ia selalu mendapatkan order dengan jarak tempuh yang panjang. Dengan kata lain, pendapatannya pun meningkat dengan pesat. Benar kata orang-orang tua, jika seseorang bertemu hantu, maka, ia akan kebanjiran rezeki. Benarkah … hanya Allah yang tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *