Bu Dar Mortir

Secara berurutan, tepat 1 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang yang ditandai dengan perjanjian Kalijati, kemudian, 1945, Jepang menyerah setelah sekutu menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki dan dilanjutkan dengan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 ….

Oleh: Adrianisa

 

Neomisteri – Kala itu, seluruh masyarakat khususnya para pejuang sedang beruapa keras untuk memulangkan bala tentara Jepang ke negaranya. Akibatnya sudah dapat diterka, pertempuran sengit pun terjadi di mana-mana. Dalam siatuasi yang kemelut itu, atas nama sekutu, maka, Inggris pun didatangkan ke Indonesia — sementara, pemerintahan Belanda, NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ingin kembali bercokol ikut membonceng rombongan Inggris.

Peristiwa itu, sudah barang tentu membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi berang.

Pagi 10 November 1945, pasca kematian Brgjen Mallaby yang disusul dengan ultimatum Mayor Jenderal Mansergh bahwa semua pemimpin dan pejuang Indonesia yang mempunyai senjata harus melapor dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan sampai batas waktu pukul 06.00 disambut dengan serangan balasan yang luar biasa sengitnya. Pihak Inggris beranggapan, dalam tempo 3 hari, Indonesia bakal bertekuk lutut. Oleh sebab itu, tak kurang dari 30.000 tentara dan 50 pesawat dan kapal perang dikerahkan untuk membumi hanguskan Surabaya.

Pertempuran yang sengit dan memakan korban jiwa, harta dan cinta pun merobek-robek ketenangan Surabaya.

Bersama dengan para Kyai dan Santri, para pejuang Indonesia dari berbagai penjuru memasuki Surabaya dengan satu tujuan yang mulia; Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di tengah-tengah ingarnya desingan peluru dan gelegar suara meriam, seorang wanita, Bu Dar (yang pada akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Bu Dar Mortir-pen) adalah sosok pertama yang berinisiatif mendirikan dapur umum untuk para pejuang yang sudah barang tentu tak sempat berpikir dari mana mereka mendapatkan makanan nantinya.

Mulai dari mengumpulkan bahan makanan, meracik, memasak kemudian membagikan nasi bungkus diawasi dengan ketat oleh Bu Dar — ia tak ingin jika nasi bungkus itu tidak tepat sasaran dan diterima dalam keadaan basi. Bahkan, ia juga mengumpulkan beberapa wanita untuk mendirikan pos-pos PMI untuk merawat para pejuang yang terluka.
Bersama dengan para sahabat seperjuangannya, di antaranya Ibu dr Angka Nitisastro, Ibu Soemantri, Ibu Dirdjo/Ibu Moenandar (istri dari dr Samsi), Ibu Soepeno dan masih banyak lagi yang lainnya, ia selalu berada di tengah-tengah para pejuang.

loading...

Kala itu, di antara Gresik dan Sidoarjo, terdapat hampir 100 (seratus) dapur umum. Sejarah mencatat betapa peranan perempuan pada saat meletusnya pertempuran 10 November 1945 tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka tersebar di berbagai sektor, mulai dapur umum dan pos-pos PMI dan dirasakan sangat terasa pada saat terjadi pengungsian anak-anak, wanita dan orang-orang tua.

Akhir 1945, pada suatu gerakan pengunduran diri Surabaya ke Jombang, ternyata, kota dalam keadaan kosong. Bersamaan dengan itu, hampir semua pejuang kelaparan. Melihat kenyataan itu, tanpa banyak bicara, Bu Dar langsung mendatangi salah satu Toko Cina yang masih buka. Dengan tenang, ia melepaskan gelang dan kalung emasnya seberat 100 gram dan menukarkannya dengan bahan makanan. Dan saat Surabaya secara total berhasil dikuasai oleh Inggris, maka, ia diminta bantuannya oleh Letkol Latif Hadiningrat untuk mengurusi dapur umum Markas Pertahanan COPP VI.

Pada rentang Agustus 1948, ia sengaja mendatangi kawasan Ploso dan Karangrejo untuk melihat kesiapan para penduduk dan cadangan pangan untuk makan para poasukan nantinya. Ketika dari Karangrejo menuju Mojo, Bu Dar bertemu dengan rombongan pasukan CPM (Corps Polisi Militer) yang merupakan para pengawal Panglima Besar Soedirman. Pada saat itu, Bu dar melaporkan bahwa Desa Mojo tidak aman. Oleh sebab itu, Panglima Besar Soedirman berpindah ke lain desa yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Desa Mojo.

Selanjutnya, pada 1949, Bu Dar acap masuk ke kota yang dikuasai musuh dengan menyamar sebagai pedagang. Selain mempersiapkan logistik bagi TNI dan para pejuang, ia juga turut mengamati keadaan dan situasi dalam kota. Sudah barang tentu, selain melewati jalan umum, wanita tangguh yang satu ini juga sudah terbiasa melalui jalur hutan.

Boleh dikata, Bu Dar merupakan salah satu saksi mata dari peristiwa genting aksi PKI pada rentang 1948. Operasi penumpasan pun dilakukan. Pasukan S di bawah kepemimpinan Jonosewojo bergerak dari arah Kediri, sementara, Ali Sadikin yang memimpin Pasukan Siliwangi bergerak dari arah barat.

Kala itu, Pasukan Siliwangi berhasil menduduki Madiun lebih awal. Namun sayang, para pemimpin RI yang menjadi tawanan PKI di desa Doengoes tidak berhasil diselamatkan, semuanya ditembak oleh pasukan PKI.

Tidak ada yang dapat menepis, boleh dikata, Bu Dar Mortir adalah sosok pejuang wanita tangguh yang selalu ada di tengah-tengah pertempuran sengit sejak awal meletusnya Perang Surabaya 1945 hingga masa Perang Kemerdekaan.

 

 

———————
Dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *