Susuk Warisan

Kerja keras ayah yang tak kenal waktu karena ingin membuatku hidup pantas dan dapat bergaul bebas tanpa rasa rendah diri dengan teman-teman di sekolah, akhirnya, membuat ia sakit dan meninggal dunia ….
oleh: Anin Merva

 

Neomisteri – Tince (64 tahun) demikian panggilan akrabnya. Mata Tante Tince (64 tahun) demikian nama panggilan akrab Tini tampak menerawang jauh entah kemana. Wanita yang tak lagi muda itu berkali-kali menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat, sementara, tak jauh darinya duduk Dicky (22 tahun) anak angkat sekaligus merupakan pewaris tunggal dari pelbagai harta milik Tante Tince.

Dicky juga gelisah, betapa tidak, sekali ini sang Bunda demikian ia biasa memanggil Tante Tince tampak begitu tegang. Setelah berjalan mundar-mandir entah berapa kali, akhirnya, Tante Tince pun buka suara; “Dit … bunda mau bicara penting. Tapi jangan kaget, sakit hati, atau apapun … bahkan, jika kamu pergi dengan rasa dendam Bunda tidak bisa melarang”.

“Ada apa Bun? Apakah Dito salah …”, Tanya Dicky sambil memeluk kaki Bundanya. Suatu kebiasaan sedari kecil jika ia merasa bersalah atau melakukan suatu hal yang tidak disukai Bundanya.

Setelah beberapa kali menghela napas, akhirnya, Bunda pun bercerita; “sebenarnya, ia anak tunggal dari pasangan Herman dan Sutinah. Mulanya, di desa, sang ayah dikenal sebagai pengepul sayur mayur yang cukup berhasil, sehingga, sejak kecil Bunda hidup dalam limpahan kasih sayang serta berkecukupan. Malang tak dapat ditolak dan mujur tak dapat diraih, menginjak kelas 3 SMP, akibat kecelakaan tunggal keduanya meninggal di tempat”.

Baca: Membantu Merias Pengantin Putri Penunggu Pohon Gayam

Sejak itu, sampai lepas SMA ia tinggal bersama nenek Tugirah, ibu angkat dari almarhum Herman, ayahnya. Maklum, hampir semua harta peninggalan kedua orang tuanya ludes dipakai untuk membayar segala jenis sayur mayur dari para petani. Sayangnya, hanya beberapa pelanggan yang dengan jujur membayar sayur mayur yang diterimanya dari almarhum ayahnya.

Menurut Bunda Tince, sang nenek sejak muda adalah penari ronggeng. Kesintalan dan kegemulaian tubuhnya saat menari membuat banyak lelaki tergila-gila. Karena enggan membuat para lelaki berseteru hanya karena memperebutkan cintanya, maka, sang nenek lebih memilih untuk tidak menikah. Menurut para tetangga, Herman adalah anak angkat yang menerima curahan kasih sayang luar biasa besar, selain disekolahkan hingga SMA, sang nenek bahkan rela menjual sebagian besar hartanya untuk modal usaha sang anak.

“Bunda seolah mengikuti jejak nenek. Memilih tidak menikah dan mengangkatmu sebagai anak”, katanya sambil terus mengelap air matanya yang mengalir deras di pipinya.

Baca: Nyaris Jadi Tumbal Pesugihan

Sebulan setelah kelulusannya, sang nenek pun meninggal dunia. Tini hanya dapat meratap pilu. Hampir tiap malam, ia mengadu dan berkeluh kesah di makam sang nenek. Hingga malam keempat puluh, ia ditemui oleh sang nenek yang berpesan dalam bahasa Jawa yang kental; “Segera jual rumah untuk bekalmu ke Jakarta. Bekerjalah di sana dan jangan lupa sekolah lagi. Bilang ke Paklik Paidi untuk merawat sawah dan makamku”.

“Telan ini”, sambungnya sambil memberikan sebuah benda berkilau. Tini langsung menelannya, dan setelah itu, ia pun tersadar.

Esoknya, tanpa berlama-lama, ia menemui Paklik Paidi dan menceritakan apa yang semalam dialaminya. Paklik Paidi yang mafhum langsung saja mengangguk dan bersedia menjalankan amanah yang diterimanya.

Singkat kata, berbekal uang hasil penjualan rumah, Tini pun merantau ke Jakarta.

Keberuntungan Menghampiri

Dewi Fortuna seolah terus mendampinginya. Tak sampai sebulan, ia telah bekerja di salah satu perusahaan transportasi yang terletak di Jakarta Barat. Enam bulan kemudian, ia sengaja mengundurkan diri dari perusahaan dan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi yang cukup ternama di Jakarta Selatan.

Saat itu, kehidupannya benar-benar berubah, waktu luangnya digunakan untuk bergabung sebagai SPG. Perlahan namun pasti, karena hasil yang dicapai selalu melebihi target, maka, perusahaan yang selama ini mengontraknya meminta Tini yang lebih dikenal dengan sapaan Tince bergabung dalam divisi marketing dengan gaji dan fasilitas yang tergolong besar.

Baca: Legenda Hantu Wanita yang Kerap Menteror Toilet Sekolah di Afrika

Tini pun menyanggupinya, kini, berkat prestasinya, hidup dan kehidupan Tince benar-benar berubah. Selain memiliki rumah dan kendaraan yang mewah, banyak lelaki yang mengharap balasan cinta darinya. Tapi, ia lebih merasa nyaman hidup sendiri. Untuk mengisi kekosongan, Tince memutuskan untuk mengadopsi bayi lelaki dari salah satu panti asuhan. Curahan perhatian dan kasih sayang membuat bayi lelaki yang diberi nama Pradito Kusumo dan biasa dipanggil Dito tumbuh sebagai anak yang sehat, pandai dan santun.

“Dito tidak mungkin mengusir atau pergi dari Bunda. Juga tidak mungkin dapat membalas budi baik Bunda yang telah membesarkan dan mendidik Dito selama ini”, ujar Dito dengan berurai air mata sambil memeluk kaki bundanya.

“Kalau boleh, Dito hanya berharap Bunda mau menikah. Agar kebahagiaan Bunda dan Dito jadi semakin lengkap”, imbuh Dito dengan nada memohon, “menurut Dito, Om Anton yang kerap datang kelihatan sangat berharap Bunda dapat membalas cintanya”, lanjutnya lagi.

Baca: Jeritan Misterius di Reruntuhan Kastil Hachioji

“Bunda sudah memutuskan untuk hidup seperti Nenek Tugirah”, ujar Tince mantap, “jika Bunda meninggal, tolong kubur dan satukan dengan nenek. Bunda ingin kembali tenang bersama dengan nenek di desa”, imbuhnya.

“Biarlah susuk dari nenek menjadi yang terakhir dan terkubur bersama dengan jasad Bunda”, pungkasnya sambil memeluk Dito dengan erat.

Keduanya tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Sementara, di luar sana, terdengar cericit burung parkit peliharaan Dito seolah mengingatkan agar keduanya dapat menerima kenyataan hidup dan kehidupan yang memang sudah tertulis di atas sana ….

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Mengintip Rumah Berhantu Bekas Milik Nicolas Cage

Cerita seram rumah berhantu LaLaurie Mansion berawal dari keluarga LaLaurie sadis yang pernah tinggal di rumah itu sekitar tahun 1830. Mereka diketahui kerap menyiksa...

Menguak Fenomena Rep-repan

“Waduh, semalam gue kena rep-repan. Untung enggak lama, gue bisa langsung bangun,” ujar Arief kepada temannya, Agung. “Emang setau gue, rumah ini dihuni hantu jahil...

Artikel Terpopuler