Rumah Dinas Bapak

Kamar mbak Lis itu berundak, ada levelnya pintu datar kemudin naik 30 cm terus datar lagi. Saat tidur di situ, aku pernah nangis karena bertemu wanita lusuh kain putih rambut kayak orang gila yang cerita pada masa lalu dikubur di situ. Setelah bangun, aku demam 3 hari. Kata ibu, aku sawanen.

 

 

Neomisteri – Bermula pada tahun 1990-an aku kelas 1 SD. BTW, aku pernah tidak naik kelas, aku pernah kelas 1 SD dua kali, sip kan? Aku ikut pindah bapakku tugas Di kabupaten Blitar. Aku anak terakhir dari 5 bersaudara dan aku paling laki-laki. Keempat kakak ku cewek, untung aku enggak ngondek.

Kakak pertama mbak Menil ikut suami di Kalimantan, kakak kedua mbak Lis (dia ikut tinggal di rumah dinas dalam kondisi hamil). Kakak ketiga mbak Kun, masih SMA. Kakak keempat mbak EN, SMP. Yang tinggal di rumah dinas itu aku bapak, ibu, mbak Lis serta kakak keduaku yang dalam kondisi hamil dan suaminya.

Aku pindah-pindah sekolah gara-gara bapak. Huft. Aku tinggal di kota Blitar kemudian karena panggilan dinas bapak, Maka kami harus pindah ke kab. Blitar Selatan yang ada hutan jatinya. Di situlah tempat bapak berdinas, desanya bernama BA. Kecamatan PR. Dukuh K.

Karena bapak jabatanya mantri, maka rumah dinasnya bernama Kemantren. Bangunan dari jaman Belanda. Halamannya luas, di pojokan kiri depan dekat jalan ditanam pohon flamboyan besarnya 4 rangkulan orang dewasa. Rumah Dikelilingi kebun berisi pohon mangga yang sudah gede-gede.

Halaman belakang, kebun kelapa yang luas. Di samping dan belakang rumah terdapat tumpukan kayu Jati hasil sitaan dari Blandong (maling kayu). Mereka sejenis Iron Man. Mampu mengangkat kayu Jati yang sangat berat sendirian. Tentu saja selain terlatih, mereka diyakini memiliki susuk.

Ada rekan bapak yang nembak kaki Blandong, kemudian cuma diusap terus lari lagi. Aku kenal seorang blandong waktu kecil aku digendong belakang, pegangan punggungnya serasa pegang tangki GL Pro. Adem atos (keras).

Balik ke Bangunan rumah dinas Bapak, ini lantainya naik setengah meter, tembok 1,5 Meter, sisanya papan jati. Denah rumahnya, dua ruangan depan kiri dan depan kanan. Ruangan depan kiri adalah ruang tahanan, jadi aku meninggali rumah yang ada PENJARA-nya dari jaman kolonial broooo!!!

Jadi penjara ini menyimpan misteri, siapa yang tidur di situ itu pasti mendapat gangguan gaib. Anak buah bapak tidur di situ. Selama tidur, mandor ini serasa di seret-seret oleh laki-laki yang memakai seragam khas tentara Belanda. Subuh, mandor kaget bangun sudah berada di bawah pohon flamboyan.

Pernah ada tahanan yang meninggal di ruangan itu. Jaman Londo maling disiksa ditembak tidak mempan dipukul apa lagi, akhirnya ditusuk dengan bambu kuning, darahnya berceceran membekas di lantai. Bertahun kemudian aku tanya, bu apa ini darah, ibukku bilang itu tumpahan wedang.

Bapakku sekarang umurnya hampir 80 tahun. Bapakku bekerja sebagai seorang Jagawana dengan jabatan mantri hutan. Beda! bukan menteri kehutanan, tugas yang aku tau bapak selalu melakukan patroli keliling hutan Jati bersama mandor hutan, mereka anak buah bapak.

Keliling hutan siang dan malam tidak menentu. Menggunakan sepeda CB 100, tahun 1970-an bocor oli sana-sini, beli second. Tentu saja gampang mogok.

Nah dari Blitar kota, kami menuju Kemantren kabupaten Blitar 2 jam dengan sepeda motor. Aku duduk di tangki depan bapak dan ibuk berboncengan, antar desa dipisahkan dengan hutan Jati tempat bapak patroli, Selepas Isya kami menuju ke kemantren melewati hutan.

Masuk hutan melewati kuburan besar tunggal yang ada payungnya, beberapa meter kemudian motor mati sudah biasa pikirku. Bapak menuntun motor, aku tetap di tangki, ibu berjalan di belakang bapak sambil mendorong sadel CB 100.

Tiba-tiba ibu dengan nada was-was bilang: Pak… Pak, neng uwit kui opo (Pak… Di atas pohon itu apa)?”

Bapakku menjawab, “Menengo cangkemmu, menengo cangkemmu (Diam mulutmu, diam mulutmu).”

Setelah menuntun agak jauh, diperiksa busi, kemudian motor jalan akhirnya sampai kemantren.

Ibu cerita ada orang tua berbaju lurik celana hitam ongkang-ongkang di dahan kayu Jati sambil pringas-pringis. Dan bapak juga ternyata melihat, makanya menyuruh ibu diam.

Rumah dinas bapakku pintu masuk depan langsung ke ruang tamu, kiri belakang ruang tamu ada kamar tidur lagi, memanjang ke belakang seperti sekolahan diikuti ruang gudang, dapur, kamar mandi paling belakang. Kenapa orang dulu kamar mandi selalu dibikin paling jauh… Ya ampun.

Pada tahun 1990-an, belum ada listrik, pakai dimar ublik, suasana peteng remang-remang teve bapak pake accu, klo abis harus disetrumkan. Yang nonton warga sekitar.

Aku tidur bersama ibuku dan kakakku yang sedang hamil tua, kakakku yang hamil inilah yg selalu merasakan gangguan, tembok papan kami sering berbunyi kretuk-kretuk seperti 5 jari di ketuk secara berurutan membuat pola bunyi yang aneh. Aku cuma bisa nangis sambil tanya: bu kui opo….

Paling belakang adalah kamar mandi, berukuran besar bisa dimasukin 4 orang bareng, WC-nya juga gede banget. Kalau kpleset mungkin anda bisa bablas ke septiktank.

Air Di daerah itu beli dari pengantar air, mbah Selamat namanya. Jadi kita hemat banget pakenya. Sering terdengar orang mandi jebar-jebur tapi setelah dilihat kamar mandi, kering enggak ada apa-apa.

Aku seneng ekplorasi rumah itu setiap sudut rumah atau jelajahi. Aku menemukan banyak rokok utuh tidak dibuka diletakkan di setiap ventilasi. Rokoknya edisi lama yang Sudah jarang di peredaran, aku buka 1 aku ambil dan kulipat untuk permainan bungkus rokok, yang jaman itu sangat marak.

Menjelang Magrib, mbah Selamet pengantar air kesurupan minta rokok dengan merk yang sama.

Mbak Lis Sudah melahirkan dan kita masih tinggal di rumah dinas bapak, siang hari suami mbak Lis suka sekali membunuh cicak. Banyak sekali cicak yang dibunuh dengan dijepret atau dipanah menggunakan lidi, aku dari kecil sampai sebesar ini enggak ngerti ngapain dia gangguin binatang itu.

Malam harinya terdengar suara kucing kawin suaranya keras dan tiara henti, sepi mencekam yang ada suara kucing saja. Mbak lis dan suaminya mencari sumber suara. Dia meninggalkan bayinya yang ada di ayunan dan aku tidur di ranjang, bapak patroli di hutan.

Ibu tidur di kamar sebelah. Setelah kembali dari mencari sumber suara, mbak Lis berteriak mendapati keponakanku raib dari ayunan, mbak Lis hiteris aku bangun. Kami kebingungan mencari keponakanku. Kami mencari di setiap ruangan termasuk ruangan penjara.

Setiap sudut malam itu kita cari sampai akhirnya ada terdengar suara tangis di gudang gelap dekat kamar mandi, keponakanku lengkap dengan kainnya berada di pojokan sudut gudang.

Bercampur baur dengan gergaji mesin, Prekul ( kapak Besar untuk memotong pohon) Pecok, arit yang semuanya adalah barang bukti yang di situ dari maling kayu. Dan bayi itu tidak terluka sedikitpun.

Kamar mbak Lis itu berundak, ada levelnya pintu datar kemudin naik 30 cm terus datar lagi. Saat tidur di situ, aku pernah nangis karena bertemu wanita lusuh kain putih rambut kayak orang gila yang cerita pada masa lalu dikubur di situ. Setelah bangun, aku demam 3 hari. Kata ibu, aku sawanen.

Aku disuwuk sama mbahku, dikeroki sekalian. Sembuh aku mimpi lagi dikasih keris semar, keris-keris kecil dengan jumlah banyak.

Sekarang bangunan kemantren udah rata dengan tanah, pohon-pohon besar sudah dipotong semua diganti bangunan minimalis model baru. Karena aku waktu itu masih kecil aku enggak cerita mimpiku ke siapapun. Enggak ngerti bener apa enggak ada yang dipendem di situ.

Tanah adalah tetap, manusia yg menggonta-ngganti fungsi dan apa yg di atasnya. Dibawah tanahmu terpendam sesuatu dari pendahulu.

-selesai-

 

 

 

——————-

sumber: @Dodit_Mulyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *