Pemancing Tersesat di Perkampungan Siluman

Sekali ini, ia agak marah pada beberapa sahabatnya yang bersikap acuh tak acuh, ketika seorang kakek renta yang dengan bersusah payah mamanggul sebuah karung berukuran besar melintas di hadapan kami ….
Oleh: Mardhani Setyawan

 

Neomisteri – Ali, Burhan dan Agus, adalah tiga sekawan yang sejak kecil hingga dewasa selalu bersama-sama. Ya … selain berasal dari kampung yang sama, sekolah sejak SD, SMP dan SMA di tempat yang sama pula, dan baru berpisah sejak masing-masing menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun, bak sudah suratan takdir, ketiganya kembali didekatkan karena masing-masing bekerja di Jakarta, dan sengaja memilih untuk tinggal di salah satu perumahan yang elok dan asri di sekitar Bekasi.

Karena memiliki hobi yang sama, tak pelak, tiap ada kesempatan apalagi liburan, selain melepas kangen pada orang tua, kerabat dan teman-teman lain, ketiganya pasti menghabiskan waktu dengan memancing. Oleh karena itu, ketiganya sangat hafal dengan tempat-tempat pemancingan yang ada di sekitar Cirebon.

Malam itu, Ali dan Agus sengaja mendatangi rumah Burhan (satu-satunya di antara mereka yang belum menikah-red) hanya untuk melepas kepenatan. Mereka pun berbincang dengan hangat sambil menceritakan pengalaman masing-masing di kantornya.

Ketika akan pamit pulang, mendadak Agus berkata sambil menepuk keningnya; “Eh … Desember jangan lupa kita mudik. Ada libur panjang, mulai 17-20 Agustus.”

Ali dan Burhan saling tatap. Tak lama kemudian, keduanya mengangguk sambil berkata; “Oke … siapa takut. Masing-masing bawa kendaraan sendiri.”

Giliran Ali dan Agus tersenyum. Sambil berjalan keluar, Ali pun berkata; “Ada yang mau pamer mobil barunya”.

“Enggak,” potong Burhan cepat, “Kita mau bawa motor. Sayang, sudah lama enggak dipakai untuk perjalanan jauh,” imbuhnya lagi.

“Siaaap,” ujar keduanya sambil berjalan menjauh.

Setelah kedua sahabatnya hilang dari pandangan mata, Burhan segera masuk dan mengunci pintu rumahnya. “Biasanya, tiap Agustus pasti ada perlombaan memancing. Wah pasti seru … karena hadiahnya keren-keren,” demikian kata hati kecilnya.

Singkat kata, usai mengikuti upacara di kantonya masing-masing, ketiganya langsung berangkat untuk kembali ke kampung halamannya. Bersamaan dengan kumandang Azan Zuhur, ketiganya telah sampai di rumah masing-masing.

Ketiganya sepakat, hari pertama tidak ada kegiatan selain berkumpul dengan keluarga dan teman-teman sepermainan di sekitar rumah masing-masing.

Esoknya, lepas waktu Ashar, ketiganya berangkat ke Kali Bondet yang mengarah ke laut yang dianggap sebagai salah satu spot mancing potensial bagi warga Cirebon dan sekitarnya. Setibanya di sana. Ketiganya memilih tempat yang dianggapnya bakal bisa mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.

Burhan sengaja menjauh dari Ali dan Agus. Ia sengaja memilih tempat yang agak sepi ….

Entah berapa lama ketiganya tenggelam dalam keasyikannya. Yang pasti, tanpa terasa, mentari mulai turun ke ufuk barat sehingga menimbulkan rona jingga di permukaan air. Burhan yang tengah asyik mengamati pelampung kailnya, tiba-tiba dikejutkan dengan suara langkah berat dari arah Ali dan Agus yang mendekatinya.

Burhan menoleh. Hatinya tercekat. Ia tak menyangka, Ali dan Agus membiarkan seorang kakek renta membawa beban sebuah karung besar lewat di hadapannya, tanpa menolong sama sekali. Burhan pun berdiri. “Kakek sini saya bantu membawakan,” katanya dalam dialek Cirebon yang kental.

“Tidak usah Cung, nanti merepotkan,” kata si kakek sambil terus berjalan dengan langkah berat.

loading...

Burhan pun beranjak sambil mengambil karung besar itu dan menggendongnya. Si kakek tak mampu berkata apa-apa kecuali hanya tersenyum. Keduanya berjalan sambil saling bertanya. Burhan hanya mengingat, si kakek mengaku tinggal tak jauh dari perahu-perahu yang sedang tambat.

Tak lama kemudian, sang kakek disambut oleh seorang wanita tua yang mengaku sebagai istrinya. “Aduuuh … untung ada Kacung yang bantu bawa karung,” ujarnya dalam dialek Cirebon yang kental, “letakkan saja di sana,” tambahnya sambil menunjuk ke arah dapur.

Burhan pun meletakkan karung yang dibawanya di dapur, dan kembali menemui sang kakek untuk mohon diri. Tapi apa daya, sang kakek sangat berharap Burhan bisa menemaninya minum kopi sambil melepaskan lelah. Burhan pun tak kuasa untuk menolaknya.

Kini, keduanya terlibat dalam pembicaraan yang hangat sambil sesekali menyesap kopi hangat dan menghisap rokok.

Suasana di perkampungan nelayan itu sangat hangat. Jika bertemu, selain uluk salam, mereka juga saling menanyakan kesehatan dan keadaan keluarga masing-masing. Diam-diam Burhan kagum, ternyata, kakek yang ditolong adalah sesepuh di perkampungan itu.

Untuk kedua kalinya Burhan mohon diri, namun, dengan halus sang kakek selalu mencegahnya dengan berbagai alasan. “Nanti … makan dulu, kasihan, Nenek sudah masak ikan untuk kita,” katanya dengan nada membujuk.

Burhan pun kembali duduk. Perbincangan yang asyik dan hangat membuatnya lupa untuk mohon diri ….

Sementara itu, Ali dan Agus kebingungan. Betapa tidak, walau sudah mendekati pukul 08.15 namun Burhan tak juga kunjung kelihatan. Mulanya mereka berpikir Burhan sengaja sembunyi, tapi, lama-kelamaan, karena tak juga muncul keduanya sontak gelisah. Apalagi, HP Burhan tak pernah bisa dihubungi ….

Akhirnya, keduanya sepakat untuk memberitahukan keadaan itu kepada keluarga Burhan. Tanpa berlama-lama, ayah dan Kang Ayi (kakak Burhan-pen) datang ke lokasi dengan ditemani oleh Mama Haji Anwar.

Singkat kata, setelah membacakan doa-doa khusus, akhirnya, dari kejauhan tampak Burhan berjalan tertatih-tatih. Ia tampak sangat kelelahan. Begitu dekat, Burhan langsung jatuh tak sadarkan diri ….

Mama Haji Anwar yang tanggap langsung membasuh muka Burhan dengan air yang sebelumnya telah diberi doa. Alhasil, tak lama kemudian, Burhan pun siuman dan bertanya; “Ini di mana, terus kakek …”

Mama Haji Anwar memberi isyarat agar Burhan tenang. Ia langsung meletakkan tangan kanannya di atas kepala Burhan sambil terus berdoa. Hampir satu jam Mama Haji Anwar berdoa, setelah itu, ia pun meminta Burhan berdiri dan mengemasi alat-alat pancingnya yang tertinggal, setelah itu, mereka pun pulang.

Di tengah perjalanan Burhan bercerita bahwa dirinya bertemu dengan seorang kakek tua yang mengaku berasal dari Singapura. Mama Haji Anwar pun menjawab; “Memang, dahulu, tempat itu merupakan pelabuhan dari Kerajaan Singhapura dengan pusat pemerintahannya di Mertasingha.”

“Berarti saya masuk ke alam siluman?” Tanya Burhan penasaran.

Mama Haji Anwar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil berkata; “Jangan berpikir macam-macam. Yang penting Nak Burhan kembali dengan selamat tak kurang suatu apa.”

“Mereka tidak berani mengganggu manusia, karena, di dekat sini ada makam Waliyullah Sunan Gunung Jati. Tepatnya, mereka hanya ingin memperkenalkan diri saja pada Nak Burhan,” pungkas Mama Haji Anwar.

Peristiwa yang terjadi di rentang 2017 itu, sampai sekarang masih sangat membekas di hati Burhan. Dan ia sengaja menceritakannya hanya khusus kepada neomisteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *