Menjemput Pusaka Almarhum Mbah Kromo

Bersamaan dengan ucapan salam pada akhir salat, Indra mulai merasakan adanya perubahan di sekelilingnya. Tak ada lagi pendar lampu, semua hitam, gelap, kental, sementara, angin pun terus bertiup semakin lama terasa semakin kencang bak puting beliung ….
Oleh: Shasha Wulandari

 

Neomisteri – Peristiwa aneh sekaligus menyeramkan ini dialami oleh Indra (30 tahun), sahabat neomisteri yang bekerja sebagai salah satu tenaga IT dari perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengangkutan laut yang berkantor di bilangan Jakarta Kota.

Bagi teman-teman kantor, Indra dikenal sebagai sosok yang memiliki kepekaan, khususnya terhadap pelbagai hal yang berbau ghaib. Wajar, sang kakek yang teramat menyayangi dirinya tergolong tokoh kesepuhan yang mumpuni di kampung halamannya.

Bahkan, sang kakek yang akrab disapa Mbah Kromo acap berkata kepada Indra dalam bahasa Jawa yang kental; “Ilmu ini tidak boleh hilang. Harus ada penerusnya”.

Jika sudah begitu, Indra hanya tersenyum sambil membalas ringan; “Nanti Mbah, kalau saya sudah berkeluarga”.

Mbah Kromo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata; “Baik …, tapi kalau aku diambil (maksudnya meninggal, red) lebih dahulu, ilmu ini akan langsung masuk dan menyatu dengan dirimu”.

Sontak, Indra pun terdiam.

Hari terus berganti, Mbah Kromo pun meninggal karena usia lanjut ketika Indra sedang berdinas ke Belitung. Indra hanya berpesan kepada ayahnya; “Makamkan saja, saya akan pulang setelah pekerjaan di sini selesai. Kemungkinan satu atau dua hari lagi”.

“Baik”, kata sang ayah dari seberang sana, “pesan simbah, tasbih dan stambul-nya akan diberikan langsung pada saat yang tepat”, sambung sang ayah.

Indra terdiam sesaat untuk berdoa dengan mengirimkan Al Fatihah untuk Mbah Kromo. Setelah itu, ia pun merenung sambil menghisap rokoknya dalam-dalam Hati kecilnya pun berbisik; “Yah … aku harus siap apa pun resikonya”.

Sekembalinya dari Belitung, ia langsung ke kampung halamannya. Indra bersimpuh dengan takzim di pusara Mbah Kromo. Ia merasakan, bulu kuduknya mulai meremang ….

Setelah dirasa cukup dan sekadar melepas kerinduan dengan ayah, ibu dan dua adiknya, Indra pun kembali ke Jakarta. Ia ingin menikmati perasaan dukanya seorang diri. Tanpa ada yang mengganggu ….

Ketika menginjak Mei 2015, hati Indra pun berbunga-bunga. Betapa tidak, ia melihat di kalender ada liburan yang dapat dimanfaatkan untuk kembali kekampung halamannya — terhitung mulai 14-17 Mei. Ia langsung meminta izin kepada pimpinan dan teman-teman kantornya untuk kembali ke kampung halamannya, Wonosobo, dengan menggunakan motor barunya, Yamaha Byson.

Ya… dalam beberapa hari ini ia sering merasakan dan melihat kelebat sang kakek saat dirinya sedang mendirikan salat, baik di kantor apa lagi di rumah….

Kamis, 14 Mei 2015. Lepas mendirikan salat Zuhur, Indra pun berangkat. Menurut perhitungannya, sekitar pukul 23.00 ia sudah sampai di kampung halamannya. Ia terus memacu motornya dengan santai, dan hanya berhenti sesaat untuk mendirikan salat Asar dan Magrib di SPBU yang banyak terdapat di jalur Pantura.

Menjelang memasuki Cirebon, tepatnya di Kecamatan Arjawinangun, tanpa sebab yang jelas laju kendaraan tersendat bahkan berhenti total. Indra bertanya pada pedagang asongan yang tengah menawarkan dagangannya pada para penumpang bus, “Di depan ada kecelakaan”.

“Potong jalan ambil kanan saja”, demikian saran si pedagang asongan.

Tanpa berpikir panjang, Indra pun membelokkan motornya melewati jalan di antara persawahan yang sepi. Kali ini, Indra hanya mengandalkan nalurinya saja. Maklum, tak ada perkampungan tempat untuk bertanya. Ketika jalan di depannya bercabang tiga, Indra berhenti sesaat, akhirnya, ia pun memutuskan untuk mengambil jalan yang lurus.

loading...

Tak lama kemudian, hati Indra pun sontak berbunga-bunga. Di depannya, tampak cahaya terang yang menandakan adanya kehidupan. Ia terus saja memacu motornya .., dan memasuki suatu perkampungan. Tak ada yang lalu lalang, kecuali sebuah warung kecil yang masih buka.

Entah sudah berapa lama melaju, kini, hati Indra tercekat. Ia mulai merasakan keanehan. Rasanya, ia tidak beranjak dari depan warung kecil yang ada di sebelah kirinya itu. Padahal, rasanya, ia sudah lebih dari lima belas menit melaju.

Karena penasaran, Indra pun turun dan berjalan ke arah warung; “Assalamualaikum …”.

“Waalaikumsalam”, jawab lelaki paruh baya si pemilik warung. Wajahnya demikian pucat bak tak dialiri darah barang setetes pun.

Indra pun meminta maaf kerana mengganggu dan menanyakan arah jalan menuju ke Cirebon. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut lelaki tua itu, kecuali menunjukkan tangan yang menandakan agar ia berjalan terus.

Indra pun mengangguk dan kembali uluk salam ke arah lelaki tua itu. Ia langsung menaiki dan menghidupkan motornya, kemudian kembali melaju ….

Tak lama kemudian, di depannya tampak banyak orang tengah berlalu-lalang menuju ke suatu tempat. Semua mengenakan pakaian pesta. Indra pun menurunkan kecepatan motornya. Hatinya berbisik; “Mungkin ada hajatan”.

Benar … di depan sana, tampak ada tenda besar diterangi lampu. Sebelah kanan dipenuhi oleh perempuan, sementara, yang lelaki mengerumuni sebuah meja dengan demikian rapat. Karena ramainya orang, maka, Indra pun turun dan mematikan serta menuntun motornya dan berjalan di antara orang-orang itu.

Seorang lelaki paruh baya dengan wajah angker, memberikan tanda agar Indra memarkirkan motornya tepat di depan sebuah rumah kecil, asri, dengan lampu temaram yang ada di tepian jalan.

Bak kerbau dicucuk hidungnya, Indra pun menuruti perintah lelaki paruh baya itu.

Sebagaimana lazimnya rumah-rumah di pedesaan yang selalu meletakkan tempayan berisi air di depannya, Indra langsung teringat jika dirinya belum mendirikan salat Isya. Setelah mencopot sepatu dan jaket serta meletakkan ranselnya di motor, ia berjalan ke arah tempayan berisi air dan berwudu kemudian mendirikan salat.

Bersamaan dengan ucapan salam pada akhir salat, Indra mulai merasakan adanya perubahan di sekelilingnya. Tak ada lagi pendar lampu, semua hitam, gelap, kental, sementara, angin pun terus bertiup semakin lama terasa semakin kencang bak puting beliung. Hati Indra mulai dilanda ketakutan. Pada saat itu, ia teringat akan pesan kakeknya; “Jika sedang takut, bacalah sholawat nabi sampai hatimu menjadi tenang”.

Indra pun menguatkan hati dan melantunkan selawat nabi di dalam hatinya. Entah berapa lama ia tenggelam dalam suasana yang demikian khusyuk. Yang jelas, Indra tersadar seiring dengan suara petir tunggal yang menggelegar!

Bersamaan dengan itu, di pangkuannya tampak seuntai tasbih dan sebuah kotak kecil yang memancarkan sinar teramat menyilaukan.

“Subhanallah …”, demikian bisik hati Indra sambil melakukan sujud syukur, “ini kedua pusaka yang dijanjikan simbah untukku”, lanjutnya lagi.

Setelah tenang, Indra menyapukan pandangan ke sekeliling. Tak ada tenda, rumah kecil tempat ia tadi mendirikan salat ataupun tanda-tanda kehidupan lainnya. Yang ada hanyalah rumpun bambu yang demikian lebat.

Dengan perasaan tak menentu, Indra langsung mengenakan sepatu, jaket dan memasukkan tasbih serta kotak kecil yang baru saja didapatnya ke dalam ransel dan kembali melanjutkan perjalanan yang mulai dirasakan teramat sulit. Maklum, ia harus melewati pematang sawah yang tidak seberapa lebar.

Singkat kata, tepat pukul 09.00, Indra pun tiba dengan selamat di kampung halamannya. Ia pun menceritakan apa yang dialaminya kepada keluarganya. Semua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mengucap;

“Alhamdulillah … pusaka Mbah Kromo sudah ada di tangan yang berhak”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *