Misteri Gua Gedung Manik

Lubang tak begitu dalam, hanya sekitar 20-25 meter yang terletak di Desa Citarik, Sukabumi, ternyata, menyimpan misteri yang demikian kental khususnya bagi yang menginginkan kelancaran rezeki ….
Oleh: Teguh Samudra

 

Neomisteri – Tak ada yang tahu persis, namun, nyatanya, Gua Gedung Manik sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, khususnya, bagi para pemuja harta dunia yang rela mengambil jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan melakukan perjanjian gaib.

Hati mereka telah gelap dan membatu. Baginya, harta, tahta dan wanita, adalah sesuatu yang harus diraih walau mereka tahu jalan yang ditempuhnya sangatlah bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Hanya untuk mendapatkan ketiga hal tersebut di atas, mereka bahkan rela mengorbankan nyawa dari orang-orang yang dicintainya.

Baca: Keangkeran Jembatan Kaliketek

Menurut pengakuan sang juru kunci kepada neomisteri, “Penjaga gaib gua ini adalah salah satu keturunan dari Penguasa Pantai Selatan”.

“Oleh sebab itu,” lanjutnya lagi, “bagi yang akan berziarah (ia lebih senang menggunakan “kata” ini ketimbang memuja), si pelaku, terlebih dahulu harus menjalankan laku khusus serta menyiapkan ubo rampe”.

“Apakah itu wajib?” Desak neomisteri penasaran.

“Sangat,” jawabnya sambi menarik napas penjang, “sebab, sang penjaga gaib gua ini sangat tegas. Jika tidak bersuci terlebih dahulu sesuai dengan kayakinannya, maka, petaka pasti bakal terjadi. Yang tergolong ringan hanya kerasukan, kalau yang parah, si pelaku bisa saja gila bahkan sampai mengorbankan nyawanya,” ujarnya menerangkan.

Setelah sejenak terdiam, kembali lelaki paruh baya yang merupakan juru kunci keempat Gua Gedung Manik menambahkan; “Saya selalu mengingatkan kepada setiap yang datang untuk hanya meminta kepada Tuhan Yang Esa. Bukan kepada yang lain. Dan kebanyakan berhasil, buktinya, beberapa waktu kemudian mereka kembali datang dengan membawa buah tangan sebagai tanda terima kasih”.

Baca: Pesugihan Alas Bonggan

“Lalu, kenapa sebelum “berziarah” orang tersebut terlebih dahulu harus menjalankan “laku” dan membawa ubo rampe?” Pancing neomisteri lebih dalam.

Sambil menghisap rokoknya, kembali lelaki paruh baya itu menyahut, “Laku adalah upaya seseorang untuk membersihkan batiniahnya sekaligus menguatkan tekad untuk apa yang diinginkannya. Dengan batin dan pikiran yang bulat, maka, kontak batin antara si pelaku dengan yang gaib menjadi lebih mudah dan cepat terjadi”.

“Sementara, ubo rampe adalah bentuk penghormatan kita terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya, sekaligus sebagai upaya agar mereka tidak mengganggu jalannya ritual”, pungkasnya sambil tersenyum dan mengajak neomisteri untuk melihat dua gua lain yang letaknya tak jauh dari Gua Gedung Manik.

Baca: Mencari Nomor Keberuntungan Lewat Telur Tembea

Tak lama kemudian, sambil menunjuk ke satu titik, sang jru kunci pun berkata; “Itu Gua Lalay yang artinya Gua Kelelawar”.

Belum sempat neomisteri bertanya, kembali ia menerangkan; “Keunikannya satu, tiap sore hari, kita akan melihat ribuan kelelawar yang keluar secara bersamaan sambil mengeluarkan suara khasnya”.

“Selanjutnya, sebelah kirinya adalah Gua Landak”, terangnya lagi.

“Sampai detik ini, saya, bahkan kami semua hampir tak pernah tahu siapa penunggu gaib dari Gua Landak itu,” imbuhnya.

“Kalau tidak salah ingat, pada 1999, bersamaan dengan hari kelahiran Bung Karno, ada seorang sepuh dari Cirebon yang datang kesini dengan membawa beberapa peti uang Brazil milik Bung Karno. Pengakuannya, akan “memakar” (mengubahnya-red) menjadi uang rupiah yang beredar pada masa sekarang,” paparnya panjang lebar.

“Berhasil?” Potong neomisteri.

“Mulanya saya hanya tertawa saja,” kata sang juru kunci, “tapi, seiring tengah malam, terjadi keajaiban. Langit seolah turun. Bintang gemintang dan awan terasa begitu dekat dengan kami yang berada di luar gua. Suasana begitu hening, bahkan, debur ombak pun seolah berhenti”.

Baca: Merinding, Kisah Aneh Tewasnya Pendaki di Gunung Lawu

“Kami semua baru tersadar ketika sang spiritualis keluar sambil menengadahkan tangan ke atas dan mengucapkan Allahu Akbar sebanyak tiga kali dan setelah itu langsung bersujud”, tambahnya, “dan setelah itu, ia memberikan isyarat agar peti-peti itu diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil”.

“Tak ada kata yang terucap, semua dilakukan dengan diam”, lanjutnya lagi, “sambil pamit, lelaki itu mengambil tiga gepok uang dan menyerahkannya kepada saya sambil berpesan, sedekahkan terlebih dahulu dan baru digunakan. Lakukan setelah kami semua pergi dari sini”.

Mulanya, lelaki paruh baya itu ragu. Dan seiring kumandang azan Subuh, sang juru kunci pun memeriksa uang yang tadi diberikan oleh sang spiritualis. Ia terhenyak. Subhanallah … hanya itu yang terucap berkali-kali. Betapa tidak, di depannya, tampak gepokan uang Rp50.000.00.

Tanpa berlama-lama, ia membawa sebagian uang ke masjid untuk infak dan membaginya ke para tetangga yang membutuhkannya.

Baca juga:
Pengalaman Horor Melintas di Jalur Alas Baluran
Anak Ambar Menagih Janji
Pengalaman Seram Naik Bus Setan
Gila Akibat Harta Karun Jepang
Keangkeran Hutan Kalang
Pelet Darah Perawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *