Anak Ambar Menagih Janji

Ibu Sum tidak pernah menyadari jika keguguran atau keluarnya janin dengan tidak disengaja sebelum waktunya lahir pada 15 tahun yang lalu, ternyata, tumbuh dan berkembang di alam gaib …
Oleh: Boedi Suncoko

 

Neomisteri – Kisah ini gue dapat dari pemilik warung yang sering dipake nongkrong buat ngopi dan main gaple atau catur sama anak-anak muda. Baik yang masih sekolah, kuliah bahkan pegawai
termasuk beberapa warga yang juga tinggal di gang itu.

“Kemaren kemana Bu, kok udah tiga hari enggak keliatan?” Tanya gue sambil nyomot sepotong tempe goreng panas.

“Mudik, Mbak Sri nikahin anaknya yang sulung. Tapi horor …,” jawab Ibu Marni sambil terus asyik membolak-balik tempe yang tengah digorengnya agar tidak gosong.

“Whaaat?” Teriak gue, “sekalian kopi ya ….”

“Nanti aku ceritain,” kata Ibu Marni yang dengan sigap kembali melayani kopi serta terus
menggoreng tempe tepung, tahu isi dan martabak.

Selain lahan kosong untuk parkir di samping serta yang disajikan selalu panas, maka, inilah yang mejadi daya tarik kenapa warung Ibu Marni tak pernah sepi.

Setelah pengunjung mulai berkurang dan Mbak Marni sejenak melepaskan lelah, ia pun bercerita; “Mbak Sri, kakak kandungku yang tertua, beberapa bulan setelah menikah pernah keguguran. Katanya karena kecapean. Maklum, di kampung ia berdagang sayur dan bumbu-bumbu dapur komplit.”

Menurut adat kebiasaan orang di kampung, maka janin itu dikuburkan di sudut belakang rumah kami.
Tak ada yang aneh, cuma yang orang tahu Mbak Sri bertangan dingin. Apapun dagangannya pasti laku terjual dalam waktu cepat. Tak pelak, banyak juragan sayur dan bumbu dapur yang menitipkan dagangannya ke Mbak Sri.

Dalam waktu singkat, jadilah ia pengepul berbagai jenis sayur mayur segar dan bumbu dapur di pasar itu. Selain dikaruniai dua anak perempuan yang cantik, kehidupannya pun meningkat.

“Bener lho Bud, di keruarga, Mbak Sri paling kaya ketimbang yang lain,” jelas Ibu Marni, “aku aja minjam modal buka warung ini dari dia,” imbuhnya lagi.

Lima tahun lalu, Mbak Sri bermimpi didatangi seorang anak muda yang meminta diberi nama dan dibelikan pakaian dengan model terbaru. Menurutnya, walau telah membantu, namun, ia kurang mendapat perhatian dari Mbak Sri. Tidak seperti kedua adiknya.

Karena mimpi yang sama berlangsung sampai lima hari berturut-turut, maka, Mbak Sri jadi ketakutan. Setelah berbicara dengan sang suami, maka, keduanya sepakat untuk mendatangi Mbah Surachman, sosok yang dituakan di kampung kami.

Setelah uluk salam dan masuk, Mbah Surachman sontak saja berkata dalam bahasa Jawa yang halus; “Lho … kok anakmu tidak diajak masuk?”

Mbak Sri dan suaminya saling pandang tak mengerti. Mbah Surachman yang mafhum langsung saja mempersilakan keduanya duduk. Cerita itu sejenak terpotong karena kedatangan Arip, Mule dan Doni yang memesan kopi dan duduk di sebelah gue.

loading...

Setelah kopi tersaji, Ibu Marni pun melanjutkan ceritanya yang terpotong. Menurut Mbah
Surachman, lelaki itu adalah anak Mbak Sri yang memang waktu dikubur belum diberi nama.

Ia datang untuk meminta nama dan sekaligus meminta agar kedua orang tuanya meminang gadis pujaannya yang tinggal di salah satu perkampungan di Jember. Mbak Sri dan suaminya tersentak. Keduanya tak pernah menyangka jika janin tersebut ternyata hidup dan tumbuh kembang di alam lain.

Singkat kata, hari itu juga, dengan bantuan keluarga Mbah Surachman, dibuatlah selamatan (walimah-red) dan dibagikan ke tetangga sambil memberi tahu bahwa si janin kini memiliki nama Anggoro.

Kemudian, hari itu juga, Mbak Sri, suaminya dan Mbah Surachman berangkat ke Jember untuk melakukan pinangan. Rombongan tiba di Jember sekitar pukul 10.00.

Sebelum menuju ke rumah calon mempelai wanita, Mbah Surachman mengingatkan kepada Mbak Sri dan suaminya agar membeli berbagai keperluan yang layak untuk diserahkan kepada keluarga di sana.

Singkat kata, walau dengan kalang kabut, akhirnya, semua keperluan dapat terpenuhi dan mereka pun berangkat menuju ke rumah calon mempelai wanita.

Menurut Mbak Sri dan suaminya, keanehan begitu terasa. Betapa tidak, setibanya di sana, rumah calon mempelai begitu ramai. Mereka menyambut Mbak Sri, suami dan Mbah Surachman dengan begitu hangat. Pak Hendro dan istri, ayah dan ibu calon mempelai memperkenalkan semua yang ada.

Mbak Sri dan suaminya hanya bisa saling pandang. Setelah sejenak berbasa-basi, Mbah Surachman selaku wakil keluarga mengutarakan maksud kedatangannya.

Gayung pun bersambut. Ternyata, Keluarga Pak Hendro sudah sangat mafhum. Bahkan pini sepuh kampung memberikan saran; “Seyogianya tidak hanya lamaran. Mumpung waktunya masih ada, segerakan saja untuk menikahkan keduanya”.

“Apalagi, semuanya sudah tersedia,” sambungnya sambil menunjuk ke arah kursi pelaminan.

Mbah Surachman yang tanggap langsung saja setuju. Jadilah, hari itu, tepat pukul 16.15 WIB, Anggoro menikah dengan Pujiastuti.

Bagi yang awam, pelaminan tampak kosong. Namun bagi yang waskita, kedua tampak berbahagia dan terus menguarkan senyum kepada setiap yang hadir saat memberikan ucapan selamat kepada kedua orang tua masing-masing dan sekadar mengangguk di depan pelaminan.

“Bukan maen … horor banget ya,” kata gue.

“Untung pestanya sore ya,” timpal Mule, “bayangin kalo malem … hiiiiii,” sambungnya lagi.

Menurut Mbah Surachman, itu merupakan hal yang sangat biasa. Oleh karena itu, kita harus selalu santun dalam berbuat, berkata dan berpikir di mana pun berada. Tujuannya adalah merupakan upaya saling menghormati antarsesama makhluk yang juga merupakan ciptaan Allah SWT di dunia ini.

Gue dan temen-temen sangat setuju. Dan akhirnya, kami pun pulang setelah terlebih dahulu
membayar apa yang tadi kami minum dan makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *