Keampuhan Air Persembahan Dewi Kwan Im

Semuanya berubah, majikanku yang semula cerewet, pelit, dan tak pernah memberi waktu luang barang sedikit pun jika belum waktunya istirahat, kini, berubah ramah, mau bergurau bahkan sering memberi uang yang lumayan banyak pada saat libur mingguan ….
oleh: Ayucinta Kh.

 

Neomisteri – Cerita ini neomisteri dapatkan secara langsung dari Yuni (39 tahun) salah seorang ibu yang mengadu nasib di luar negeri, ketika sedang libur mingguan di Victoria Park, Hongkong. Sejujurnya, aku merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Betapa tidak, walau telah tiga tahun bekerja di Hongkong, alih-alih tabungan, tiap bulan, hampir seluruh gajiku terpakai untuk membayar utang di bank.

Maklum, enam bulan pertama bekerja, Kang Jana, suami di kampung ingin membuka bengkel kecil-kecilan dengan tujuan untuk membiayai hidup keluarga, agar, penghasilan yang kudapat di Hongkong bisa ditabung untuk masa depan anak semata wayang kami, Arya.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, usaha yang dirintis Kang Jana pun berkembang dengan pesat. Namun, kenyataan itu tidak berjalan lama, Kang Jana terjerat cinta terlarang dengan salah seorang penyanyi Bar Dangdut. Alhasil, usahanya pun jadi berantakan bahkan bangkrut.

Sejak itu, segala utang Kang Jana menjadi tanggunganku. Jika tidak, maka, rumah warisan yang merupakan harta berharga satu-satunya milikku bakal disita oleh bank. Aku bak sudah jatuh tertimpa tangga, jangankan meminta maaf atau menyadari segala kesalahannya, Kang Jana bahkan memintaku untuk menceraikannya.

Aku yang tak mau bertambah pening langsung saja meluluskan segala permintaannya dan meminta ibu untuk sementara menjaga dan mendidik Arya dengan baik. Sejak itu, boleh dikata, aku mati-matian membanting tulang agar emak dan Arya di kampung tidak kelaparan, sekaligus, membayar utang di bank.

Karena pekerjaanku hanya menjaga seorang nenek renta yang hanya terbaring lesu di tempat tidur dan sesekali mendorong kursi roda untuk mencari udara segar di taman, kesempatan itu aku gunakan sebaik-baiknya untuk berkumpul dan bercanda dengan teman-teman sekampung yang juga tengah mengadu nasib di Hongkong.

Tiap bertemu, ada saja yang kami bicarakan. Mulai gosip tentang majikan iseng yang acap menggoda bahkan ada juga yang bersedia menjadi istri gelap majikan, sampai upaya yang digunakan untuk meluluhkan hati majikan agar mereka bersedia memberikan uang jasa yang berlebih.

Kebanyakan, sebelum berangkat, mereka sudah mempersiapkan piranti magis untuk penunduk atau membuat orang yang melihat atau didekatnya welas asih. Oleh sebab itu, kebanyakan, mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika berhadapan dengan majikannya.

Ketika mendengar celoteh mereka tentang pelbagai piranti magis, biasanya, rasa penyesalan pun sontak membucah di dada. Kenapa aku tidak melakukan sebagaimana mereka. Malamnya aku berkhayal, alangkah bahagianya jika aku memiliki piranti magis sebagaimana yang diceritakan oleh mereka tadi siang di taman.

Maklum, majikanku, walau kaya raya, namun keduanya benar-benar patuh kepada aturan. Artinya, aku hanya mendapatkan gaji dan uang jasa lain sesuai dengan yang tertera pada kontrak kerja.

Hingga pada suatu hari lubur, aku sengaja mendatangi Kuil Sik Sik Yuen Wong Tau Sin yang oleh masyarakat setempat diyakini bahwa “setiap permohonan akan menjadi kenyataan”. kuil ini juga dikenal dengan sebutan sebagai Rumah bagi tiga agama (Taoisme, Buddha Dan Konghucu).

Setelah sejenak melihat-lihat, aku mencoba mendekati seorang lelaki paruh baya yang entah kenapa begitu menarik perhatianku. Aku pun menyapa dan memperkenalkan diri yang disambutnya dengan ramah. Senyum selalu mengembang di bibirnya. Walau sudah paruh baya, namun, lelaki yang dikenal dengan sebutan Sensei Tan tampak demikian bugar.

Kehangatannya membuatku luluh dan menceritakan segala apa yang kualami sambil terisak. Sensei Tan tetap saja tersenyum dan berkata; “Mintalah kepada Tuhan, pasti ada jalan keluarnya.”

Aku semakin terisak, sementara, Sensei Tan berjalan masuk ke dalam ruangan dan beberapa waktu kemudian ia keluar dengan membawa cangkir kecil yang berisi air.

“Silakan berdoa kepada Tuhan apa yang menjadi keinginanmu. Semoga Tuhan mengabulkannya,” katanya sambil mengangsurkan cangkir yang dibawanya.

Aku mengambil cangkir kecil itu dengan pandangan penuh tanya. “Itu hanya sarana, dan Tuhan yang menentukan keberhasilannya.”

Sensei Tan menceritakan, tadi ia sengaja berdoa di depan Dewi Kwan Im dan mempersembahkan air yang sebagian diberikan kepadaku.

Mendengar penuturannya, akupun mantap dan langsung meminumnya. Beberapa saat kemudian, aku pun minta diri untuk kembali ke rumah majikanku.

Hari terus berganti, menginjak minggu ketiga, perubahan pun terjadi. Kedua majikanku, kini mulai ramah dan mau bersenda gurau. Bahkan selalu memberikan uang yang cukup lumayan pada saat libur mingguan tiba. Tidak cukup sampai di situ, majikanku juga mendukung ketika tahu kue-kue kecil buatanku banyak disukai orang.

“Kalau Oma tidur, gunakan kesempatan itu untuk membuat kue dan jual. Hasilnya tabung untuk keluargamu di Indonesia,” demikian kata istri majikanku pada suatu hari.

“Pergunakanlah alat-alat yang ada. Tapi ingat, jaga Oma dan jaga kebersihannya,” lanjutnya lagi.

Perlahan namun pasti, utangku pada bank pun lunas. Kini aku mulai bisa menabung. Ketika aku kembali ke Kuil Sik Sik Yuen Wong Tau Sin untuk menemui Sensei Tan dan mengucapkan terima kasih, lelaki paruh baya itu hanya tersenyum; “Berterima kasih kepada Tuhan,” katanya lembut sambil menunjuk ke atas, “karena Ia penentu segalanya. Selain itu, setiap saat, berbuat baiklah kepada sesama ciptaan-Nya. Itu tanda bahwa kita adalah manusia yang tahu budi,” pungkasnya.

Kini, Arya sudah mulai duduk di bangku SMA, sedang emak kadang-kadang ke ladang hanya sekadar mencari keringat agar tetap sehat, sementara rumah, motor serta tabungan untuk masa depannya pun dapat dikatakan sudah lebih dari cukup.

Oleh majikanku di Hongkong, walau Oma sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, namun, aku tetap diminta untuk tetap di sana. Kini tugasku hanya memasak dan membuat kue-kue kecil dan hasilnya dibagi dua.

Ketika neomisteri bertanya; “Apakah ini berkat keampuhan air persembahan Dewi Kwan Im?”

Yuni pun menjawab dengan tegas; “Semuanya karena Allah semata. Sedang air itu hanya merupakan sarana belaka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *