Makhluk Astral Penghuni Diplomat Hotel

Sebagai markas bala tentara Jepang ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk dengan hebatnya, maka, tempat tersebut digunakan juga oleh sang penjajah untuk menyiksa bahkan membantai para tawanannya ….
oleh: Satrio Pinandhito

Neomisteri – Kala itu, kapalku tengah sandar di Alaska. Selain sebagai tujuan, di tempat yang satu ini, kapal kami juga turut mengisi pelbagai keperluan yang dibutuhkan untuk pelayaran selanjutnya. Malam itu, tanpa sebab yang jelas, bayangan Ernesto yang disapa dengan Ernest (29 tahun) sahabat setia dari Filipina yang sama-sama bertugas sebagai dining room selalu tampak di depan mata.

“Apakah Ernest sedang sakit?” Bisik hatiku.

Aku berjanji dalam hati, begitu ada waktu, maka, pada kesempatan pertama akan segera meneleponnya. Maklum, sudah enam bulan kami tidak bertemu. Rindu dengan celotehnya yang riang. Ya … Ernest sengaja memutus kontrak kerja karena ibunya sakit keras.

Ketika waktu istirahat tiba, aku langsung memeriksa HP. Tampak ada email dari Ernest dengan memasang emoticon wajah yang sedang sedih. Aku tersenyum. Selanjutnya tampak deretan tulisan yang dimulai dengan curhat betapa beratnya hidup tanpa punya pekerjaan, sementara, sang ibu telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia bahkan mengabarkan, dua bulan lagi, ketika kapal kembali ke Belanda bakal bergabung lagi dengan kami.

Baca: Pengalaman Seram Naik Bus Setan

Itu semua dilakukan untuk meringankan beban sang ayah dalam membiayai sekolah adiknya ….

Selanjutnya, ia menceritakan tentang horornya Diplomat Hotel yang awalnya adalah seminari kemudian menjadi markas bala tentara Jepang ketika Perang Dunia II dan terletak di atas Bukit Dominika. Pada masa itu, siapa pun yang dianggap musuh langsung ditangkap, disiksa bahkan dibunuh tanpa ampun di tempat itu. Akibatnya sudah bisa ditebak, areal tersebut menjadi angker.

Banyak kejadian aneh di sana ….

Menurut sahabat Ernest, perempuan indigo yang bernama Justine (25 tahun); “Hantu yang paling usil di tempat itu adalah Aldo”.

“Ia salah satu pejuang yang gigih dan tidak pernah mengaku waktu diperiksa oleh Jepang. Berbagai pertanyaan yang diajukan hanya dijawab dengan satu kata; “Saya tidak tahu”. Akibatnya, di antara yang tertangkap, Aldo satu-satunya yang mengalami siksaan paling berat”, tambah Justine.

“Ia dibiarkan mati kelaparan dan kehabisan darah. Ia mati dengan membawa dendam yang membara di hatinya. Itulah sebabnya, kenapa ia sering menampakkan diri kepada orang-orang yang dianggapnya berlaku kurang sopan di tempat itu”, sambungnya lagi.

Hal itu sangat wajar, sebab pada waktu meninggal Aldo merasakan sakit serta dendam yang tak terhingga kepada para penyiksanya. Tidak dapat dipungkiri, menurut catatan sejarah, kekejaman bala tentara Jepang praktis dirasakan oleh seluruh penduduk negara jajahannya.

Baca: Pelet Darah Perawan

“Selain Aldo?” Potong Ernest.

“Banyak yang lainnya, tapi mereka tidak jahil sebagaimana Aldo. Biasanya, mereka hanya menampakkan diri dalam bentuk bayangan yang berkelebat atau meninggalkan bau. Baik yang berbau harum bahkan amis dan busuk yang teramat menyengat”, papar Justine.

“Oleh karena itu, kita harus berlaku sopan dan menghargai keberadaan mereka yang telah berkorban demi kemerdekaan Filipina”, pungkas Justine.

Penasaran? Jika ada kesempatan ke Filipina, silakan Anda singgah sejenak untuk merasakan sendiri nuansa horor yang menyungkupi tempat itu.

Apa komentarmu?