Pengalaman Horor Melintas di Jalur Alas Baluran

Lalu momen seram pun terjadi… Di tengahnya heningnya bus, tiba-tiba ada suara lirih dari dalam bus. Kira-kira baris ketiga dari depan, sedangkan ayah-ibu ada di tengah. Suara anak kecil. Pelan, tapi berulang.

 

 

Neomisteri – Pengalaman horor Ibu, Ayah, dan saudara Ibu tentang Alas Baluran. Ibuku orang asli Blambangan, kakak adik beliau juga ada di Banyuwangi.

Jadi setiap mudik pasti ke sana dan lewat alas ini. Beliau selalu cerita tentang seramnya alas Baluran. Coba aku ceritakan, ya.

Jadi untuk yang belum tau tentang Alas Baluran, alas ini artinya hutan. Hutan Baluran. Taman Nasional Baluran atau Afrikanya Pulau Jawa, ada di sini. Sering dipakai preweding. Tetapi, itu juga tidak mengurangi kesan seramnya alas Baluran.

Setiap lebaran selalu mudik ke Banyuwangi, tepatnya Blambangan, tempat kelahiran Ibu. Lewat darat, hutan Baluran selalu menjadi jalur yang sesegera mungkin ingin saya lewati. 24 km, nggak ada sinyal.

Nggak jarang pula playlist Spotify keganti sendiri tiap lewat sini.

Yang sering perjalanan darat ke Bali, untuk sampai ke Ketapang pasti melewati alas ini. Ada beberapa sebutan angker untuk tempat ini, mulai dari Jurang Tangis, sampai konon tempat pembuangan mayat G30S/PKI yang jumlahnya ribuan.

Tapi bukan itu topik ceritanya. Ini pengalaman ibuku.

Ada 2 versi cerita Ibu yang setiap perjalanan mudik beliau ceritakan. Untuk informasi saja, setiap mudik, perjalanan yang kami ambil selalu malam hari. Supaya sampainya di Banyuwangi bisa pagi. Dan lagian, saya yang nyetir, lebih suka nyetir gelap daripada terang.

Daerah Wongsorejo namanya. Sepanjang jalan kanan kiri hutan dan minim sekali penerangan. Bisa bayangin situasinya kan kalau malam?

Cerita Ibu versi yang pertama.

Seingat beliau, kejadiannya tahun 1988 atau 1989, lupa persisnya. Perjalanan mudik ke Banyuwangi seperti biasanya Ayah-Ibu tempuh menggunakan bus. Pada tahun itu belum ada rezeki untuk beli mobil.

Berangkat dari Pasuruan, Ayah-Ibu memutuskan untuk berangkat menggunakan bus malam dengan harapan sampai sana pagi saja. Perjalanan yang lama menjadi tidak begitu berasa bila dipakai tidur.

Perjalanan darat dari Pasuruan ke Banyuwangi kurang lebih 5-6 jam.

Sekitar pukul 11 malam perjalanan dimulai. Bus lumayan penuh, tetapi masih ada beberapa bangku kosong. Melewati 3 jam awal perjalanan, Probolinggo – Kraksaan – Besuki, hampir semua penumpang tertidur.

Waktu menunjukkan pukul 02.00. Sedikit lagi sampai Situbondo.

Semua penumpang masih tertidur. Sayup-sayup ibu mendengar suara kenek bus ngobrol sama pak supir.

“Diluk engkas iki, Diluk engkas (Sebentar lagi ini, sebentar lagi).”

Mungkin pertanda bahwa sebentar lagi bus akan melewati alas baluran.

Benar saja, bus pun mulai memasuki hutan yang penerangannya hanya terdapat pada kilometer awal saja. Ibuku memutuskan untuk tidur lagi.

Suasana bus hening, hening sekali. Hanya ada suara mesin bus yang sesekali dipaksa kuat melewati beberapa tanjakan di hutan.

Kurang lebih sudah 30 menit bus berjalan di tengah hutan. Lampu kuning dalam bus zaman dulu makin menimbulkan kesan seram dalam perjalanan mudik ayah dan ibuku.

Lalu momen seram pun terjadi..

Di tengahnya heningnya bus, tiba-tiba ada suara lirih dari dalam bus. Kira-kira baris ketiga dari depan, sedangkan ayah-ibu ada di tengah.

Suara anak kecil. Pelan, tapi berulang.

“Pak, mandek kene pak (Pak, berhenti di sini pak).”

“Pak, aku mudun kene pak(Pak, aku turun di sini pak).”

Suara anak kecil tadi membuat penumpang bus terbangun. Ada kalimat-kalimat tanya dan heran dari penumpang bus yang terdengar.

“Sopo iku? Sopo? (Siapa itu? Siapa?)”

loading...

“Loh le, iki tengah alas, kowe arep nyapo mudun nang kene? (Loh dek, ini tengah hutan, kamu ngapain turun di sini?).”

Pertanyaan kenek bus itu lantang terdengar semua penumpang. Beberapa ada yang mulai istighfar.

“Omahku nang kene pak, wis to aku mudun kene wae (Rumahku di sini pak, sudahlah aku turun di sini saja).”

Jawaban anak kecil itu makin saja membuat malam semakin seram. Dilihat dari bentuk tubuhnya, anak kecil itu seperti masih SD.

Dia sendirian.

Bus pun berhenti di pinggir jalan. Sekeliling kanan-kiri masih hutan, pohon-pohon menjulang tinggi. Semua penumpang berdiri dari kursi dengan maksud ingin melihat secara langsung anak kecil tadi.

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Tidak ingin membuang waktu, akhirnya kenek bus mempersilakan anak kecil itu untuk turun.

Sambil bicara sedikit heran; “Omahe sopo le nang kene, kowe demit yo, Ya Allah Gusti (Rumahnya siapa nak di sini, kamu setan ya, Ya Allah Gusti).”

Sambil turun dari bus, tidak ada jawaban sama sekali dari anak kecil tadi. Supir bus pun menyuruh kenek untuk segera menutup pintu.

“Wes ndang tutupen.. tutupen lawange, demit iku cak! (Udah cepet tutup, tutup pintunya, setan itu!)”

Seisi bus Astaghfirullah semua. Bapak-bapak di bangku paling depan meminta ke supir untuk jangan pergi dulu dari situ. Mungkin penasaran.

“Sek pak, ojok budal sek (Sebentar jangan berangkat dulu).”

Sementara di sisi sebelah kiri, anak kecil tadi berjalan ke arah hutan. Semua penumpang termasuk ayah ibuku melihat ke hutan sebelah kiri. Anak kecil itu terus berjalan ke arah dalam hutan tanpa ada berhenti.

Tiba-tiba…

“Astofirulloh.. ilang areke cak! (Astagfirullah, anaknya hilang!)”

Suara kenek bus nyaring dan diikuti istighfar semua penumpang.

Ibuku bilang, “itu anak jalannya biasa aja, nggak lari, nggak cepet juga. Belum sampai ke area tengah hutan tiba-tiba hilang. Ibu inget banget waktu itu udah hampir setengah 4. Nggak masuk akal ada rumah..”

Kayak anak kecil biasanya kok. Pakai kaus, celana pendek.

Kondisi dini hari itu jalanan sepi, nggak ada lalu lalang satu pun kendaraan. Jalanan yang jelek dan berlubang membuat alas baluran seperti hanya punya jalan setapak.

Penumpang pun kembali tenang. Meski ada juga ibu-ibu yang minta lekas melanjutkan perjalanan.

Versi satu cerita ibuku selesai pada anak kecil yang minta turun dari bus padahal masih di tengah hutan.

Maaf kiranya kurang seram, tapi beberapa kali nyetir lewat alas itu tengah malam rasanya nggak akan bisa tenang. Cobain sendiri deh.

Versi kedua cerita ibuku lebih seram daripada cerita yang anak kecil. Menurutku lebih seram, karena biasanya lewat alas itu sekitar 45 menit, tapi ini bisa jadi 2 jam lebih. Lokasinya sama; Alas Baluran.

Dan ada lagi cerita saudara Ibuku. Lebih dari satu cerita, mulai dari ditemenin mbak kunti di jok mobil belakang, lewat alas baluran kanan kirinya banyak setan yang ngejar, sampai cerita soal Rawon Nguling.

 

 

—————————-

sumber: @farisandani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *