Mencari Nomor Keberuntungan Lewat Telur Tembean

Tidak banyak yang tahu. Sejak dahulu sampai sekarang, jika dirituali dengan tepat, maka, telur yang pertama keluar dan berasal dari ayam kampung ternyata mampu mengubah kehidupan seseorang ….
Oleh: Tri Hardo

 

Neomisteri – Kala itu Hendro hanya berjalan mondar-mandir dan sesekali duduk sambil menhempaskan badannya di kursi usang ruang tamunya. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat seolah ingin mengeluarkan beban berat yang menghimpit rongga dadanya.

Ya … sehari itu, selain menerima teror lewat HP, beberapa debt collector yang bertampang sangar juga mendatangi rumahnya. Bahkan salah seorang dari mereka sambil berteriak-teriak meminta agar ia segera melunasi utangnya yang tertunggak beberapa waktu. Para tetangga tak ada satu pun yang ke luar untuk menengahi. Maklum, walau Hendro dikenal ramah, santun dan banyak membantu mereka yang membutuhkan, namun, sebelumnya ia pernah berpesan agar mereka jangan sekali-kali ikut campur.

“Jika melihat atau mendengar apa yang terjadi, lebih baik jangan keluar rumah. Nanti repot sendiri, maklum, yang kita hadapi adalah orang-orang yang lebih mengutamakan otot ketimbang otak,” pesannya pada suatu hari.

Baca: Cerita Seram Rumah Sakit Kosong

Oleh karena itu, hari itu, Hendro yang sudah kebal dengan cara-cara debt collector dalam bekerja menghadapinya dengan tenang dan berjanji akan menyelesaikan utang-utangnya dalam waktu dekat.

Dengan sumpah serapah, para debt collector pun meninggalkan Hendro yang kembali tenggelam dalam kekalutan. Mendadak, bayangan sahabatnya di masa kecil melintas. Sontak Hendro tersenyum dan sedikit bernapas lega. Betapa tidak, Sinyo, demikian sapaan akrab sang sahabat pernah mengalami hal sebagaimana dirinya — namun, berkat telur tembean; yakni telur ayam kampung yang pertama kali, berciri bentuknya lebih kecil dengan noda berupa bercak darah yang berasal dari sang ayam karena luka akibat pertama kali mengeluarkan telurnya — jika dirituali dengan tepat dapat dipakai untuk mendapatkan nomor judi (toto-red) gelap yang sampai sekarang masih tetap ada.

Ya … walaupun hanya mendapatkan sisa sebesar 4 juta rupiah saja, namun, Sinyo berhasil melunasi utangnya yang kala itu berjumlah sekitar Rp225.000.000,00

Setelah sejenak menimbang-nimbang dan memperhatikan sisa barang miliknya yang dapat dijual, akhirnya Hendro pun dapat bernapas lega. Hendro bertekad akan menjual murah 2 buah TV serta sebuah kompor gas lengkap dengan 3 buah tabungnya yang berukuran 12 Kg.

Singkat kata, dengan berbekal uang tak sampai Rp1.000.000,- Hendro pun berangkat ke Purwokerto untuk menemui pamannya yang beternak ayam kampung. Setelah sejenak menanyakan keadaan masing-masing, Hendro pun mengutarakan maksudnya. Sang Paman yang mafhum langsung saja mengajak Hendro ke sebuah kandang yang lumayan besar untuk melihat-lihat. Akhirnya, sang Paman memisahkan lima ekor ayam betina yang menurutnya akan bertelur dalam waktu dekat.

Benar, keesokan paginya, sang Paman dan Hendro melihat ada sebutir telur tembean. Dengan sigap Hendro mengeluarkan sebuah tas plastik dari saku celananya. Ia langsung membungkus tangannya dengan plastik dan mengambil telur tersebut — kemudian, ia pun membalikkan kantong plastik tersebut — sehingga jadilah telur tersebut di dalam plastik. Maklum, telur tembean tidak boleh tersentuh langsung oleh apapun termasuk tangan manusia.

Dengan wajah berseri-seri, Hendro langsung pamit pada sang Paman dan keluarganya untuk langsung berangkat ke Magelang, tepatnya di daerah Mungkid. Setibanya di sana, Hendro terlebih dulu ke pasar untuk membeli ubo rampe berupa bunga liman (bunga lima macam-red) dan dupa serta beberapa bungkus rokok kretek Jarum 76, selanjutnya ia menuju ke rumah Mbah Prawiro.

Mentari di barat sana mulai turun. Hendro mulai merasakan udara dingin Magelang. Ia terus saja berjalan melewati kebun serta tegalan hingga sampai di sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah pekarangan yang lumayan luas dan bersih. Di sana, tampak lelaki tua sedang duduk menikmati senja berteman segelas kopi dan rokok.

Melihat kedatangan Hendro, Mbah Prawiro langsung saja menyambut. Setelah saling berbalas uluk salam, ia pun mempersilakan Hendro untuk duduk. Dan tak lama kemudian, segelas kopi panas pun terhidang. Setelah menyeruput kopi beberapakali dan menghidupkan rokoknya, Hendro pun langsung menceritakan apa yang dialami serta maksud dan tujuannya.

Setelah sejenak memperhatikan Hendro dengan tajam, akhirnya, Mbah Prawiropun berkata lirih tapi penuh wibawa; “Ingat, mintalah sesuatu kepada Allah. Saya hanya perantara saja, dan ini hanya dapat dilakukan sekali serta sesuai dengan kebutuhan nak Hendro. Jadi, bukan untuk kekayaan. Setelah itu, hilangkan kebiasaan buruk dan selalu mendekatkan diri kepada Allah lewat cara salat, mengaji, wirid serta banyak sedekah”.

“Apakah nak hendro sanggup?” Pungkasnya.

“Sanggup Mbah,” jawab Hendro mantap.

“Baik, lepas salat Maghrib ya,” kata Mbah Prawiro sambil mengambil ubo rampe yang dibawa Hendro dan membawanya ke sebuah kamar. Setelah itu, ia pun tak lagi keluar dari kamar tersebut.

Baca: Pelet Wanita Kampung Laut

Seiring dengan kumandang azan Maghrib, Mbah Putri Prawiro langsung memberi isyarat kepada Hendro untuk mendirikan salat di surau yang letaknya tak jauh dari situ. Ketika kembali dari musala, ia melihat Mbah Prawiro juga keluar dari kamar sambil membawa tas plastik yang berisi telur lambean dan langsung memberikannya kepada Hendro.
“Buka …,” katanya singkat.

Hendro langsung membuka, dan di kulit telur, tampak ada sederet angka. Ia langsung saja menghapalkannya di luar kepala, kemudian mohon diri untuk pulang. Hari itu, selain memasang nomor yang baru saja didapatnya di salah satu bandar judi di Yogya, ia sudah bertekad untuk menginap di rumah adiknya yang terletak di bilangan Bantul, Yogya.

Paginya, Hendro berteriak histeris dan bersujud. Menurut adiknya, nomor yang dipasangi keluar semua. Alhasil, Hendro mendapatkan uang sekitar Rp320 juta.

Hendro langsung meminta adiknya untuk menemani mengambil uang dan melakukan transfer ke beberapa orang. Lepas itu, di tangannya hanya tersisa Rp2.610.000

Namun, ia bisa bernapas lega karena semua utang-utangnya telah lunas. Sejak itu, Hendro pun kian taat mendekatkan diri kepada Allah. Boleh dikata, waktu senggangnya banyak dihabiskan dengan berkumpul di tengah-tengah keluarga atau mengikuti pengajian.

Baca juga:
Dibekap Sosok Hitam Besar di Kontrakan
Perempuan Penglaris Kedai Makanan
Diganggu Hantu Muka Rata di Hutan Bambu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *