Tersesat di Alam Siluman Babi

Sambil memapah gadis yang kakinya terluka, Black nama panggilan dari Doni berjalan tertatih menuruni tebing sungai yang curam dan melewati lebatnya rumpun bambu sampai tiba di di suatu perkampungan yang subur dan tidak dikenalnya ….
Oleh: Surya Nagara

 

Neomisteri – Black (47 tahun), adalah nama panggilan dari Murdoni alias Doni. Lelaki bertubuh tinggi berrambut keriting dengan warna kulit yang hitam.

Sejak remaja, entah apa mulanya, ia membeli senapan angin dan sejak itulah ia dikenal sebagai pemburu tikus di kampungnya. Kegemarannya terus berlanjut, berangkat dewasa, ia bahkan sering diajak oleh para sahabatnya untuk berburu babi yang sedang mengganas di berbagai tempat di kawasan Banten, Sukabumi bahkan Kuningan.

Karena dianggap yang terbaik, pada suatu hari, ia bahkan mendapatkan hadiah berupa senapan angin gejluk double power yang memiliki spesifikasi laras terbuat dari baja pilihan, jalur 12 serta panjang 60 cm dan popor terbuat dari kayu mahoni dengan kaliber 4.5 mm.

“Nih … buat lu”, demikian kata Amran sahabatnya.

“Ah … yang bener”, sahut Black seolah tak percaya.

“Bener … pake aja”, sahut Amran,

“Biar enggak nembak burung, kelinci atau landak. Sekali-kali nembak bagong (kata lain dari babi hutan-pen)” lanjutnya lagi.

Mata Black langsung berbinar. Ia mengamati senapan angin yang baru saja diberikan oleh Amran. Sesekali ia membidik ke atas. Senyum puas pun menguar dari bibirnya.

“Makasih ye … Emang cuman lu yang ngerti kemaoan gua”, kata Black sambil mengangsurkan tangan ke arah Amran.

Amran menyambutnya dan memeluk Black dengan hangat sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

Sementara, Dayat, Hari, Aceng dan Sugi hanya tersenyum.

Mereka senang. Betapa tidak, selama ini, Black menjadi tulang punggung keluarga. Selain merawat sang ibu yang sudah sakit-sakitan, ia juga harus membiayai seorang adiknya yang masih duduk di bangku SMK.

“Nah … sekarang, kita bisa tahu kemampuannya”, ujar keempatnya hampir bersamaan.

“Oke … siapa takut”, sahut Black dengan penuh semangat.

Hari terus berganti. Menjelang akhir bulan, di penghujung kemarau ada liburan yang cukup panjang — mulai hari Rabu. Jauh-jauh hari, kelima sahabat itu pun sudah menyusun rencana. Dan tujuan pun disepakati.

“Kebetulan, gua punya temen yang paham banget daerah sana”, kata Aceng dengan antusias.

“Ow … kita nganterin temen pulang kampung”, sambut yang lain dengan riuh. Sontak, wajah Aceng pun memerah.

“Enggak juga … cuma di sana hama babi sudah mulai merusak lahan pertanian warga”, katanya meyakinkan.

Singkat kata, setibanya di Kuningan, mereka pun singgah di rumah Kang Nurdin, salah seorang kerabat Aceng yang sejak kecil tinggal di daerah itu. Setelah sejenak berbasa-basi, mereka pun lebih memilih untuk istirahat agar esok tubuh dapat segar kembali.

Esoknya, setelah minta izin kepada yang pihak yang terkait, mereka pun berjalan melintasi lereng perbukitan yang terbilang cukup landai. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan kebun berpagar lebatnya hutan.

Seperti biasa, mereka pun menunggu waktu yang tepat dengan beristirahat di dangau kosong. Amran dan Dayat langsung membaringkan tubuh, sementara Hari dan Black merokok sambil menyapukan pandangan ke arah hutan, sedang Aceng, Sugi dan Kang Nurdin menyalakan api untuk membuat kopi.

Malam terus merangkak, sekitar pukul 21.00 mereka pun berpencar sesuai kelompok dan sepakat untuk bertemu kembali di tempat semula.

Hampir tiga jam namun mereka belum bertemu dengan buruannya. Sekali ini, tanpa sebab yang jelas, hati Black begitu gelisah. Beberapa kali ia tertinggal oleh Amran dan Kang Nurdin.

“Kenapa Black, kayaknya enggak konsen banget”, gerutu Amran.

Black seolah tersentak. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan kembali mengikuti langkah Amran dan Kang Nurdin dengan gontai.

Karena tertinggal lumayan jauh, Black kebingungan. Di depannya jalan bercabang tiga. “Terus, belok kiri atau kanan”, demikian bisik hatinya.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Black memilih belok ke kiri dengan melewati rumpun bambu yang demikian lebat.

Entah berapa lama ia berjalan, yang pasti, telinganya menangkap gemericik air sungai dan sayup-sayup suara seseorang sedang mengerang kesakitan; “Tolong … tolong … tolong”.

Dengan bersijengket, ia pun mendekati sumber suara. Kini, di depaannya tampak seorang gadis cantik berkulit kuning langsat dengan rambut tergerai sebahu, sedang memegangi betisnya yang dipenuhi darah.

Tanpa banyak tanya, Black langsung saja membuka ikat kepala dan membalut betis si gadis.

Setelah agak tenang, Black menanyakan apa yang terjadi — si gadis pun menceritakan bahwa dirinya terperosok ke tepian sungai sehingga kakinya tertusuk tonggak bambu — dan berharap agar Black dapat mengantarkannya pulang ke desanya yang letaknya lumayan jauh dari tepian sungai.

Mulanya Black memapah wanita yang mengaku bernama Entin. Namun, karena tak sampai hati melihat wajah Entin yang memerah karena menahan sakit, setelah meminta maaf, Black langsung saja membopong tubuh sintal itu.

Setelah melewati pepohonan yang kian rapat, tibalah Black di suatu desa yang ia sendiri tidak tahu nama apalagi lokasi persisnya. Yang ia tahu, sepasang suami istri paruh baya menyambutnya dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Terima kasih anak muda, engkau telah menyelamatkan dan menolong anak bungsuku”, demikian kata lelaki paruh baya itu.

Sementara, sang ibu langsung saja meminta Black untuk membaringkan tubuh Entin di kamarnya. Dan tak lama kemudian, perempuan itu kembali dengan membawa sebaskom air panas dan dedaunan yang sudah dilumatkan. Setelah membersihkan lukanya, sang ibu meletakkan ramuan itu di atas luka dan membebatnya dengan kain bersih. Tak lama kemudian, Entin pun tertidur dengan pulas.

Baru sekali ini Black merasakan hatinya begitu damai. Ia seolah merasa senang berada di desa itu. Ayah Entin, Ki Karta yang ternyata sesepuh desa itu tampaknya senang. Diam-diam, ia berharap Black bersedia menjadi menantunya ….

Singkat kata, akhirnya Black menikah dengan Entin. Pesta meriah pun digelar. Hampir seluruh penduduk desa datang memberikan ucapan selamat.

Hati Black berbunga-bunga, demikian juga Entin yang hari itu tampak semakin cantik.

Malamnya, keduanya langsung saja menikmati manisnya madu cinta. Lenguhan manja Entin ketika melepaskan lahar panas yang selama ini terpendam, membuat Black ingin terus menikmati, menikmati dan menikmatinya ….

***

Sementara itu, Kang Nurdin, Amran, Dayat, Hari, Aceng dan Sugi, dan baberapa penduduk desa sibuk mencari Black yang mereka anggap tersesat.

Mereka sepakat untuk tidak memberitahukan peristiwa itu pada keluarga Black, karena yakin, sahabatnya dalam keadaan selamat.

Kang Nurdin yang tergolong mafhum ilmu-ilmu kebatinan menyatakan, “Bulan depan, tepat empat puluh hari bersamaan dengan purnama penuh, kita harus menolong si Black, kalau tidak, ia bakal tinggal di alam siluman”.

“Semua menunggu di sini”, kata Kang Nurdin pada malam keempat puluh hilangnya si Black. “Semoga penunggu gaib di sini mau mengembalikan si Black”, lanjutnya sambil menata ubo rampe yang dibawanya.

Singkat kata, lepas mendirikan salat Isya, Kang Nurdin memberi isyarat agar kami turut berdoa bersama dengannya.

Dupa yang dibakar menguarkan aroma membuat suasana di lereng perbukitan itu semakin disungkupi oleh aura mistis yang demikian pekat. Seiring dengan menyatunya cipta, rasa dan karsa Kang Nurdin, mendadak, ada angin puting beliung yang seolah hendak memporak-porandakan pelbagai ubo rampe. Namun, angin tersebut seolah tertahan oleh suatu kekuatan dahsyat yang tak kasat mata.

“Sampurasun …”, kata Kang Nurdin.

“Rampes”, demikian jawab satu suara lagi.

Dialog keduanya pun terjadi. Namun tak ada seorang pun yang mampu menangkap kalimat-kalimat tersebut. Kesiur angin yang demikian keras membuat telinga mereka menjadi pengang.

Entah berapa lama dialog di antara keduanya berlangsung. Yang pasti bersamaan berhentinya angin puting beliung tadi, tampak, Black dengan langkah berat berjalan ke arah Kang Nurdin dengan diiringi seorang wanita cantik yang tengah mengandung muda. Di belakangnya, tampak banyak orang yang mengiringinya.

“Alhamdulillah …”, demikian kata Kang Nurdin.

Bersamaan dengan itu, Black pun tersungkur dan tak sadarkan diri. Keadaan pun kembali seperti semula. Sepi, gelap, hening ….

Kang Nurdin langsung memberikan pertolongan. Dan ketika sadar, Black tampak linglung. Baru beberapa saat kemudian kesadaran si Black baru benar-benar pulih. Ia pun menceritakan apa yang terjadi dengannya selama ini.

Sejak itu, hidup dan kehidupan Black benar-benar berubah. Secara materi, ia berlebih. Namun tiap menjelang purnama penuh pada setiap bulannya, tepatnya pada tanggal 13, 14 dan 15, Black lebih sering menutup diri di kamarnya.

Ketika hal itu ditanyakan, ia hanya menjawab singkat; “Aku bercengkerama dengan isri dan anakku”.

Menurut Kang Nurdin, karena telah melakukan persetubuhan dengan makhluk gaib, maka, sejatinya, Black hidup dalam dua alam. Alam manusia, dan alam jin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *