Kali Kutukan Mpu Purwa

Ketika tidur, tak hanya Parman, istri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD bermimpi didatangi makhluk tinggi besar dengan tubuh hampir dipenuhi bulu-bulu kasar, sementara, dari sela-sela mulutnya tampak sepasang taring tajam dan tetesan liur merah kehijauan yang berbau busuk ….
oleh: Tri Hardo

Neomisteri – Warta berkisah, pada suatu zaman, di sungai itulah, Ken Dedes yang tengah menikmati sejuknya air sungai diculik dan akhirnya dinikahi secara paksa oleh Tunggul Ametung. Seorang Akuwu dari Tumapel.

Perlawanan Ken Dedes sia-sia, apalagi, kala itu, seluruh masyarakat Panawijen tak seorang pun ada yang berani menolongnya. Mengetahui kenyataan itu, sang ayah, Mpu Purwa mengeluarka kutukan yang teramat mengerikan; “Hai … orang yang melarikan anakku, engkau bakal tidak mengenyam kebahagiaan dan mati oleh sebilah keris dan Panawijen bakal kekeringan!”

Langit mendadak mendung dan petir pun bersahut-sahutan seolah menjadi saksi atas kutukan sang mpu. Belum lenyap kemarahannya, kembali Mpu Purwa memerintahkan segala makhluk tak kasat mata yang ada di tempat itu untuk menjaga sungai yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kali Mewek — akibat Ken Dedes yang terus menangis, menangis dan menangis akibat diculik ketika sedang mandi di sungai — agar menjaga dan menghukum siapa pun yang berani mengusik berbagai benda yang ada di sepanjang aliran sungai itu.

Tak pelak, sejak itu, keangkeran Kali Mewek pun mulai dirasakan, khususnya bagi masyarakat Desa Palawijen atau Panawijen, Malang, Jawa Timur ….

Kisah ini didapat neomisteri yang bernama Dimas, “kera ngalam” (arek Malang), seorang sahabat sekantor ketika sedang makan siang.

2015 lalu, waktu itu sedang demam batu akik. Banyak orang alih profesi, bahkan nekat keluar dari pekerjaannya”, katanya dengan penuh semangat, “maklum, harga batu akik benar-benar membuat orang lupa daratan”, tambahnya lagi.

Keuntungan yang diraup pedagang juga tidak main-main,” tambah neomisteri.

Benar Bro,” sahutnya cepat, “boleh dikata, hampir setiap tempat yang diduga menyimpan bahan batu akik diserbu banyak orang. Salah satunya adalah kali”, imbuhnya.

Setelah meminum beberapa teguk es teh manis dan mengambil sebatang rokok, kembali Dimas melanjutkan ceritanya; “Kalo asli penduduk Panawijen, enggak ada yang berani melanggar pantangan itu. Tapi kalo penduduk desa lain, mereka nekat karena tertarik oleh keuntungan yang bakal diterima, apalagi Kali Mewek dianggap belum terjamah sama sekali oleh para penggila akik”.

Temanku, Parman, arek Singosari, nekat terjun ke Kali Mewek. Matanya nyalang sementara tangannya sibuk mencari-cari batu yang diyakini dapat diasah untuk dijadikan mata cincin atau kalung”, tuturnya.

Beberapa orang yang kebetulan lewat mencoba mengingatkan. Tapi apa daya, Parman tetap saja nekat. Ia berkeyakinan, kali ini, ia bakal mendapatkan bahan batu yang benar-benar cantik dan berbeda dari yang lainnya. Tepat tengah hari, akhirnya, ia pun mendapatkan sebongkah batu merah menyala.

Ini dia”, katanya setengah berteriak.

Karena dirasa cukup, Parman segera naik dan bersiap-siap kembali ke rumahnya.

Singkat kata, setibanya di rumah, setelah menyimpan batu itu dengan rapi, Parman pun merebahkan badannya di kursi malas. Tak lama kemudian, ia pun tertidur dengan nyenyaknya. Dalam tidurnya, Parman bermimpi didatangi sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dengan bulu-bulu kasar menutupi hampir seluruh tubuhnya. Matanya merah menyala, di sela-sela mulut mencuat sepasang taring tajam dan tetesan air liur berwarna merah kehijauan yang berbau busuk. “Hai manusia … segera kembalikan batu itu. Kalo tidak, aku akan ambil paksa seluruh milikmu!” Katanya dengan suara menggelegar.

Parman terbangun. Ia langsung duduk. Angannya pun terbang kemana-mana. Setelah yakin bahwa tadi hanya mimpi, Parman segera berjalan ke dapur mengambil segelas air dan meminumnya sampai tandas.

Malamnya hal yang menakutkan kembali terjadi. Tak hanya Parman, kali ini, istri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD juga mengalami mimpi yang sama. Didatangi sesosok makhluk menyeramkan dan berkata agar Parman segera mengembalikan batu yang didapatnya dari Kali Mewek.

Semuanya berkumpul di ruang tamu sambil berhimpitan. Wajah mereka tampak ketakutan. Parman mencoba menenangkan, tapi apa daya, istri dan kedua anaknya mendesak agar besok ia segera mengembalikan batu yang diambilnya dari Kali Mewek. “Bapak mau kalau anak kita diambil oleh makhluk itu?” tanya sang istri dengan suara bergetar.

Akhirnya, walau dengan berat hati, Parman berjanji akan segera mengembalikan batu itu ke tempatnya.

Paginya, bersamaan dengan Parman meletakkan batu ke tempat asalnya, terasa desiran angin yang membawa bau busuk yang teramat sangat memenuhi cuping hidungnya. Dan lamat-lamat terdengar suara tanpa wujud; “Telat, anakmu yang bakal aku ambil!”

Parman sangat ketakutan, bergegas ia naik dan menghidupkan motornya untuk kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan ia berjanji tidak lagi akan mencari bahan batu ke Kali Mewek.

Leave a Reply