Kisah Tragis di Balik Sosok Gaib Berwajah Rusak yang Menghampiriku

Bau amis darah… Kulihat kepala bagian kanannya tidak utuh lagi. Mulai dari ubun-ubun kanan sampai bagian bawah mata kanan hilang. Tangan kanannya pun hilang sampai bagian siku.

 

Neomisteri – Ketemu sama cowok gendut pendek sekitar 150 cm, baju hijau army dan celana item pendek. Nyebrang tiba-tiba di depanku saat motoran. Bikin enggak mood.

Eh… ‘Dia’ ngikut ternyata.

Niat hati saat sampai rumah, aku ingin rebahan di kasur. Tapi tiba-tiba tangan kanan rasanya sakit, kepala berat sebelah. Bener aja, pas aku pake kacamata dan melihat ke depan, ‘oh… ‘Dia’.

Posisi kamarku udah gelap cuma pake lampu tidur aja. Karena memang mata aku ada minus dan silinder, aku lebih suka enggak pake kacamata waktu ada ‘mereka’.

Kenapa? Aku juga takut lah. Takut kalo pas yang di depanku bentuknya aneh-aneh. Kayak ‘dia’ ini.

Bau amis darah. kulihat kepala bagian kananya tidak utuh lagi. Mulai dari ubun-ubun kanan sampai bagian bawah mata kanannya hilang. Tangan kanannya hilang sampai bagian siku.

“Tolong aku…,” katanya. Ku tanya siapa namanya? “Amir.”

“Kenapa kamu seperti ini?” tanyaku.

“Tolong aku,” katanya sambil menangis.

Jujur, tiap ada yang minta tolong kayak gini, I can’t do anything, Cuman bisa doain.

Amir anak lelaki 16 tahun ini dibunuh ayahnya sendiri karena sang ayah merasa malu mempunyai anak seperti dia.

Semasa hidupnya, Amir sering dijadikan bahan olokan teman-temannya, yang di mana Amir mempunyai tubuh besar dan banyak makan. Hal ini membuat Amir banyak diejek dan dijauhi teman-temannya.

Sampai pada akhirnya Amir memilih untuk tidak keluar rumah. Ini membuat sang ayah marah kepadanya karena hanya bisa berdiam di rumah menghabiskan waktu untuk maka dan tidur tanpa membantu keluarga.

Terlebih, keluarga Amir hanya keluarga petani. Ayahnya juga merasa malu, karena saat itu Amir sudah cukup tua pada saat itu, yang seharusnya lelaki seumur dia sudah menikah.

Karena keuangan keluarga dan lain sebagainya, Amir juga punya 4 adik (aku tidak diperbolehkan bercerita lebih banyak sama dia). Akhirnya ayahnya membunuh Amir di dekat sawah miliknya.

Banyak yang dia ceritain sih. Tapi, dia ngawasin aku terus dong. “Jangan ceritakan bagian itu! Hapus…hapus… hapus…” katanya.

Inilah Amir, kenalan baruku yang berani masuk rumahku.

 

 

 

————–
Sumber: @Anggrainaumay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *