Penunggu Ghaib Jembatan Seunapet

Para sopir bus, truk bahkan sebagian besar masyarakat yang biasa hilir mudik Medan-Banda Aceh, pastinya sudah sangat mafhum dengan keangkeran Jembatan Seunapet ….
o
leh: Ari Sudewo

Neomisteri – Tak ada yang bisa menepis, tiap ada kecelakaan di Jembatan Seunapet, Aceh Besar, apa lagi hingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa atau luka parah pasti selalu dikaitkan dengan balas dendamnya hantu Halimah.

Pada rentag 1980, demikian tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, sayanmg tak ada catatan yang jelas tentang hari dan tanggal kejadiannya, kala itu, Halimah yang baru berusia 18 tahun sedang berjalan pulang sendirian. Malang tak dapat ditolak, mujur pun tak dapat diraih, melihat kecantikan tubuh Halimah segerombolan orang yang melihat langsung tertarik dan menculik sang dara.

Kebiadaban para penculik telah membuat kehormatan Halimah terenggut paksa. Agaknya, takut kebejatannya terbongkar, mereka pun membunuh Halimah dan membuang jasad malang itu di sekitar lembah jurang Seunapet dekat dengan jembatan ersebut.

Untuk membalaskan dendamnya, pada hari atau malam-malam tertentu, Halimah bersama-sama dengan penunggu gaib lainnya yang memang telah lama bermukim di tempat itu, acap maujud untuk mengganggu para pengguna jalan. Akibatnya dapat kita duga bersama, karena terkejut atau ketakutan yang teramat sangat karena melihat penampakan yang tidak semestinya, maka, para pengemudi pun jadi lepas kendali … dan kecelakaan pun tidak bisa dihindari.

Neomisteri yang penasaran mencoba menelisik lebih dalam lagi tentang beberapa tragedi yang terjadi di Jembatan Seunapet, Aceh besar.

Lelaki paruh baya yang mengaku bernama Nurdin (48 tahun), salah satu pengemudi PO PP menyatakan; “Bagi kami, para pengemudi yang biasa melewati titi (jembatan-red) Seunapet pasti akan mengiakan. Maklum, cerita tentang Halimah sudah demikian mengakar”.

Oleh sebab itu, jika melintas di titi (jembatan) Seunapet, kami pasti membunyikan klakson atau memainkan lampu dim sebanyak tiga kali. Maksudnya adalah sebagai ungkapan salam kepada para penunggu gaib di tempat itu”, lanjutnya lagi.

Artinya Abang percaya dengan hantu Halimah?” Pancing neomisteri.

Percaya, bukankah mereka juga makhluk Allah”, jawabnya tegas sambil balik bertanya, “jika ingin selamat, bagi kita-kita yang lebih banyak hidup di jalan, maka, harus dapat saling menghormati. Dengan begitu, risiko mendapatkan gangguan jadi jauh berkurang”, tambahnya.

Kalau Abang mau dapat penjelasan secara ilmu pengetahuan, silakan tanya sama Bang Andi. Dia insinyur jalan raya”, katanya sambil menunjuk ke arah restoran yang ada di pul bus, “dia langganan bus kami”, tambahnya.

Neomisteri bergegas menuju ke lelaki yang berambut agak sedikit panjang dan langsung memperkenalkan diri.

Bang Andi langsung saja tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menunjuk ke arah Bang Nurdin. Setelah menyesap kopi dan menghidupkan rokok, ia pun berkata; “Kalau secara ilmiah, Jembatan Seunapet, tepatnya tikungan Seunapet, memang cukup rawan. Selain rimbunnya pepohonan, belokannya juga tajam dan curam”.

Selain itu, tikungan Seunapet berjenis spiral-spiral atau yang lebih dikenal dengan SS. Padahal, tikungan jenis ini seyogianya hanya digunakan untuk kondisi darurat. Bukan untuk ruas jalan sehari-hari yang ramai dilintasi oleh pelbagai kendaraan”, paparnya panjang lebar.

Selain itu, kelandaian jalan dan jarak pandang yang terbatas membuat poengemudi sulit untuk mengontrol kendaraannya saat melewati tikungan tersebut,” sambungnya, “semoga saja, pihak yang berkompeten dalam hal ini mau mengacu pada “Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antarkota Tahun 1997”, dengan begitu, maka, geometrik jalan akan memberikan kelancaran, keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya”, pungkasnya sambil pamit mau naik ke bus jurusan Medan yang sudah siap-siap untuk berangkat.

Neomisteri pun mengungkapkan rasa terimakasih dan melambaikan tangan ke arah Bang Andi.

Apa komentarmu?