Bercumbu dengan Penunggu Patung Keramat

Semilir angin yang mengantarkan bau harum yang belum pernah dikenalnya itu, sontak, membuat libido Nina meningkat. Mendadak, ia begitu ingin dicumbu Rayhan, sang suami yang baru beberapa hari berangkat pelatihan ke negeri Sakura ….

Oleh: Andrika Yudhistira

 

Neomisteri – Selain dari keturunan orang yang berada, yang pasti, berkat kecerdasan serta selalu rendah hati kepada siapa pun membuat Rayhan disukai banyak orang. Rumah pasangan muda yang berada di salah satu town house di bilangan selatan Jakarta yang asri, boleh dikata dipenuhi dengan pelbagai barang-barang antik.

Sayang, dari rumah yang demikian megah dan asri itu belum terdengar tangis atau pun celoteh anak kecil.

Tampaknya, keduanya memang belum terlalu serius untuk memiliki momongan. Oleh karena itu, jika sedang libur, keduanya lebih sering berburu barang antik sambil honey moon.

Sekali ini, keduanya menuju Kupang. Bisik-bisik sahabatnya di kantor, ada seseorang yang ingin menjual barang antik berupa patung buaya warisan keluarganya yang konon dibeli waktu sang buyut yang anak buah kapal berlayar ke Thailand.

Singkat kata, begitu sampai di Kupang, keduanya langsung menuju ke alamat yang diberikan. Setelah mengamati dengan teliti, kata sepakat pun langsung didapat. Rayhan dan Nina benar-benar puas karena benda antik yang ada di depannya itu benar-benar terawat dengan baik.

Tanpa berlama-lama, transfer pun dilakukan. Setelah sejenak berbasa-basi, Rayhan dan Nina pun langsung pamit. Erico, si tuan rumah sambil tersenyum berkata; “Semoga benda tersebut membawa keberuntungan bagi kalian berdua”.

Rayhan dan Nina pun mengangguk sambil tersenyum dan berjalan menuju taksi hotel yang sejak tadi menunggunya di depan rumah. “Itulah kebiasaan kita yang selalu beranggapan bahwa barang-barang antik identik dengan mistik”, kata Rayhan sambil memeluk bahu istrinya dengan mesra.

“Betul, padahal yang kita lihat artistiknya”, balas Nina sambil melangkah.

Sekali ini, keduanya seolah enggan untuk berlama-lama. Setelah semalam menginap, esoknya keduanya sudah kembali ke Jakarta. Sementara, patung buaya yang dibeli, dikirim lewat ekspedisi.

Entah kebetulan atau apa, begitu keduanya menginjakkan kaki di rumahnya, ada tiga orang datang sambil membawa peti yang berisi patung buaya. Hati rayhan dan Nina begitu berbunga-bunga. Mereka pun langsung meminta ketiganya untuk membongkar peti itu dan meletakkan isinya di sudut ruang tamu rumahnya.

Rasa lelah keduanya langsung terbayar tunai ….

Di tengah-tengah waktu libur yang baru berjalan tiga hari, mendadak, Rayhan dipanggil untuk masuk kantor. Setibanya di kantor, semua yang ada memberikan ucapan selamat. Rayhan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sambil sesekali menghela napas panjang.

Ia langsung menuju ke ruang direksi. Ketika masuk, Pak Andy langsung saja memberikan selamat sambil berkata; “Selamat Pak Rayhan, Anda diminta segera berangkat ke Jepang untuk pelatihan software baru yang akan kita pakai di sini. Sekali lagi, selamat”.

Rayhan hanya menerima jabat tangan itu perasaan tak menentu. Ia langsung mengucapkan terima kasih atas kepercayaan perusahaan dan pamit untuk menyelesaikan segala sesuatunya.

Semua teman di kantor berceloteh atas keberuntungannya.

Di rumah, tepatnya di ruang keluarga, ia pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada Nina. Sambil bergelayut manja, Nina pun berkata; “Apa boleh buat, jalani saja dengan enjoy. Sebulan tidak terasa lama. Aku kuat kok”.

Rayhan pun memeluk tubuh Nina dengan erat. Keduanya langsung saling pagut, sementara, tangan keduanya pun saling melucuti. Tanpa melepaskan pagutannya, Rayhan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Desahan purba pun mulai terdengar.

Kini, dengan tangkas, Rayhan memacu kuda kesayangannya mendaki gunung yang demikian terjal namun menawan… Sang kuda pun berusaha keras untuk mengimbangi keinginan tuannya. Seiring dengan lenguhan panjang, Rayhan dan Nina pun berhasil mencapai puncak idaman….

Malam itu, keduanya seolah sengaja menghabiskan waktu dengan bercumbu untuk melepaskan kerinduan. Maklum, esok siang, Rayhan harus segera berangkat ke Jepang.

Esoknya, sebelum berangkat, sambil memeluk Nina, Rayhan pun berkata; “Hati-hati sayang. Kita saling percaya ya …”.

Nina mengangguk sambil memagut bibir Rayhan dengan lembut.

Dua malam sudah Nina hanya tidur berteman guling. Malam itu, ketika hendak merebahkan diri untuk sejenak melepaskan penat dari kantor, mendadak, Nina mencium aroma wewangian yang belum pernah dikenalnya. Lembut namun merangsang. Ya … pada hirupan yang ketiga, sontak, libidonya pun meningkat dengan cepat.

Ia langsung memeluk guling dengan erat. Antara sadar dan tidak, ia merasa Rayhan datang mendekat dan mencumbunya dengan dahsyat. Nina pun langsung terbuai.

Pakaian yang dikenakan sudah berserak di lantai. Nina hanya bisa merasakan, betapa, kali ini Rayhan benar-benar luar biasa. Ia berhasil membuat lahar yang tersimpan beberapa hari ini muntah berkali-kali. Tanpa sempat membersihkan tubuhnya, Nina pun langsung tertidur dengan nyenyak sambil tersenyum penuh kepuasan.

Esoknya, ketika terbangun, Nina pun terkejut. Betapa tidak, selain melihat pakaiannya centang perenang di lantai serta mengingat kejadian yang semalam dialaminya, ia tersadar, Rayhan sang suami tidak ada di sampingnya.

“Lalu siapa? Apakah aku bermimpi?” Kedua pertanyaan yang terus melingkar-lingkar di benaknya, namun, tidak mampu dijawabnya.

Akhirnya, Nina pun hanya bisa diam.

Selama delapan hari, kejadian itu terus berulang. Akibatnya, Nina pun tampak kurus, bahkan, matanya cekung seolah kurang tidur.

Kenyataan itu diam-diam diperhatikan oleh Harry, sahabat Rayhan. Ia langsung mendekati Nina sambil berkata, “Pulang kantor, aku sama Dewi (istrinya-pen) mau mampir ke rumah ya”.

“Oke, aku tunggu,” jawab Nina dengan lesu.

Singkat kata, usai mendirikan salat Magrib, Harry langsung mengambil dua botol air dari mobilnya. Yang satu diberikan oleh Nina sambil berkata; “Pakai untuk mandi. Siramkan ke seluruh tubuh. Sekarang juga”.

Usai Ninda mandi dan kembali berkumpul, Harry berjalan menuju patung buaya yang terletak di sudut ruangan dan langsung menyiramkannya sambil mulutnya berkomat-kamit. Peristiwa aneh pun terjadi. Dari tubuh patung buaya keluar asap putih yang lama kelamaan membentuk tubuh lelaki dewasa disertai dengan wewangian… Kemudian melesat keluar lewat lubang angin yang ada di atas jendela.

Harry tampak mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil bergumam; “Alhamdulillah …”.

“Lain kali hati-hati. Karena tak jarang, ada benda antik yang berpenunggu gaib”, pesan Harry, “ oleh karena itu, jangan sekali-kali meninggalkan salat lima waktu. Akan lebih baik jika kita juga mengaji”, imbuhnya sambil pamit.

“Jadi?” Tanya Nina masih kebingungan.

“Sudah aman. Dia sudah pergi”, kata Harry meyakinkan.

Nina hanya bisa mengangguk sambil tersenyum malu.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *