Si Penghancur Jembatan Sungai Cimanuk

Kelima tawanan perang yang empat di antaranya berkebangsaan Jepang dan satu dari Korea, pada akhirnya memeluk agama Islam dan turut berjuang merebut kemerdekaan, bahkan gugur sebagai syuhada ….

Oleh: Nizma Azizah

 

Neomisteri – 1946. Di mana-mana, selain melucuti atau merebut senjata para tentara Jepang yang tersisa, para pemuda dan pejuang bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Perang terjadi di mana-mana. Bumi Pertiwi bersimbah dengan darah dan air mata para syuhada ….

Hingga pada suatu hari, Pasukan Pangeran Papak (PPP) yang dipimpin oleh Mayor Kosasih melakukan penyerangan ke dalam kota Bandung. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan. Kali ini, selain meraih kemenangan, Pasukan Pangeran Papak juga menawan lima tentara Jepang.

Mulanya kelima tawanan itu akan dieksekusi. Namun, Mayor Kosasih mempunyai pertimbangan lain. Akhirnya, kelima tawanan itu dibawa ke Wanaraja, yang kala itu merupakan daerah basis gerilyawan dan diperlakukan dengan baik.

Alih-alih ingin kembali ke induk pasukan atau negaranya, kelima tawanan tersebut bahkan menyatakan diri ingin memeluk agama Islam sekaligus membantu para gerilyawan untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajah.

Setelah melewati pertimbangan yang cukup matang, salah seorang ulama sekaligus penasihat pasukan, Raden Djajadiwangsa menuntun kelimanya untuk mengucapkan kalimah syahadat — alhasil, sejak itu, Yang Chil Sung yang sejatinya berkebangsaan Korea berganti nama menjadi Komaruddin, Hasegawa menjadi Abu Bakar, Aoki menjadi Usman, sementara, dua yang lainnya biasa dipanggil dengan Umar dan Ali.

Tidak cukup sampai di situ, selain mendapatkan pangkat letnan dua, Komaruddin juga ditunjuk untuk melatih aneka kemampuannya tentang kemiliteran kepada para gerilyawan. Sudah barang tentu, sejak kelimanya bergabung, Pasukan Pangeran Papak menjadi sangat berbahaya. Berulangkali, pasukan ini mampu memporak-porandakan pihak Belanda.

Akibatnya, Pasukan Pangeran Papak, khususnya kelima orang yang baru bergabung menjadi target utamanya. Belanda berusaha untuk menangkap kelimanya hidup atau mati, bahkan, pihak Belanda membentuk tim khusus untuk memburu Komaruddin, Abu Bakar, Usman, Umar dan Ali.

Di antara keberhasilan Pasukan Pangeran Papak, yang membuat pihak Belanda sangat murka adalah penghancuran Jembatan Sungai Cimanuk di rentang 1947 — yang merupakan salah satu akses jalan yang akan digunakan untuk membumihanguskan Wanaraja dari sarang gerilyawan.

Tapi apa daya, rencana mereka terbaca oleh Pasukan Pangeran Papak.

Pada suatu malam, tampak sekelompok orang di bawah pimpinan Komaruddin bergerak cepat mendekati Jembatan Sungai Cimanuk yang terdapat di wilayah Garut, Jawa Barat. Bukan sekali ini, sang pemimpin, Komaruddin memperlihatkan keberanian dan kepiawaiannya. Dengan sangat cepat namun penuh kehati-hatian, ia merayap di bawah jembatan dan sesekali berhenti sejenak untuk memasang bom rakitan pada titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya.

Setelah semuanya dianggap beres, Komaruddin kembali berkumpul dengan pasukannya dan segera menjauh dari jembatan. Beberapa menit kemudian, suara yang membahana dan menggetarkan gendang telinga pun terdengar seiring dengan runtuhnya Jembatan Sungai Cimanuk.

Pihak Belanda yang tahu akan hal itu semakin murka. Betapa tidak, rencana penyerangan ke jantung gerilyawan yang ada di Wanaraja, terpaksa harus ditunda. Oleh sebab itu, Komaruddin alias Yang Chil Sung atau Yang Chil Seong harus dilenyapkan secepat mungkin.

Tetapi apa daya, Pasukan Pangeran Papak memang terkenal licin bak belut. Selain lihai dalam pertempuran, pasukan ini juga berbaur bahkan tak jarang mereka membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan — itulah sebabnya, masyarakat selalu tutup mulut rapat-rapat jika pihak Belanda menanyakan tentang di mana keberadaan atau Markas Pasukan Pangeran Papak.

Seperti biasa, Belanda pun melancarkan politik devide et impera. Salah seorang anggota Pasukan Pangeran Papak yang lemah imannya, ada yang terpancing. Ia bahkan rela mengkhianati perjuangan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, dengan membocorkan bakal adanya pertemuan di Desa Parentas, di kaki Gunung Dora, yang terletak di antara perbatasan Garut-Tasikmalaya.

Malam itu, pada rentang Agustus 1948, di tengah-tengah rapat yang juga dihadiri Komaruddin, Abu Bakar dan Usman, tidak ada seorang pun yang sadar bahwa tempat itu sudah dikepung dengan sedemikian rapat oleh pasukan Belanda.

Tanpa mau berlama-lama, pasukan Belanda pun langsung melepaskan rentetan tembakan ke arah gerilyawan yang sedang rapat. Mereka coba melakukan perlawanan, walau sadar tidak mungkin dapat meloloskan diri lagi. Dalam peritiwa ini, Komaruddin, Abu Bakar dan Usman terpaksa menyerah.

Pihak Belanda langsung membuat pengadilan militer secara kilat. Hasilnya, vonis hukuman mati dijatuhkan kepada Komaruddin, Usman, dan Abubakar. Ketiganya menerima dan hanya meminta kepada pihak Belanda untuk memakamkannya secara Islam. Belanda pun setuju ….

Selasa, 10 Agustus 1948, lepas Subuh ketiganya menerima hukumannya dengan tenang sambil meneriakkan pekik; “Merdeka!”

Jasad ketiganya dikebumikan di Pemakaman Pasirpogor, dan dua puluh tujuh tahun kemudian baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut, Jawa Barat.

 

 

—————
Disarikan dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *