Berburu Pangkat dan Derajat di Selo Gilang

Para sepuh atau pinisepuh yang menggeluti dunia spiritual, khususnya Jawa, meyakini bahwa Danang Sutowijoyo yang akhirnya bergelar Panembahan Senopati pernah melakukan tapa brata di tempat yang satu ini ….
oleh: Suryadilaga

 

Neomisteri – Tak dapat dipungkiri, selain menyandang sebutan sebagai Kota Pelajar, agaknya, Jogjakarta juga layak mendapatkan julukan sebagai Kota Sejuta Petilasan. Betapa tidak, hampai di setiap jengkal tanah, kalau boleh disebut begitu, terdapat makam atau petilasan — ada yang terawat akan tetapi ada juga yang hanya merupakan onggokan bebatuan atau gundukan tanah — yang kesemuanya adalah merupakan bukti dari kejayaan masa lampau.

Menurut sahabat neomisteri, Sinyo (48 tahun) demikian sapaan akrabnya; “Karena situs
tersebut merupakan peninggalan dan bukti kejayaan masa lalu, jadi, jangan heran, jika
antara situs yang satu dengan lainnya diyakini mempunyai kekuatan mistis yang berbeda-
beda”.

Kali ini, Sinyo mengajak neomisteri ke salah satu situs keramat yang terdapat di Dusun
Kauman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Yogyakarta diabadikan oleh pihak
keraton dengan nama Patilasan Pasujudan Gilang Lipuro.

Sebagaimana lazimnya, setelah meletakkan ubo rampe di antara kemelun asap dupa dengan didampingi juru kunci kami pun sejenak menyatukan cipta, rasa dan karsa. Setelah itu, kami lebih memilih tempat di luar untuk terus menelisik aura mistik yang menguar dari Selo Gilang.

Ilustrasi dupa
Ilustrasi dupa

Menurut sang juru kunci; “Tempat ini menjadi keramat karena mulanya digunakan oleh
Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati, bahkan pendahulunya,
untuk mendapatkan wahyu keraton. Rasanya semua mafhum, bahwa untuk menjadi
pemimpin, selain persyaratan akademik atau umum, seseorang juga harus mendapatkan
restu dari Gaib Penguasa Tanah Jawa”.

“Ada yang mengatakan pulung (rezeki-Jw) dan ada yang menyebutnya wahyu”, imbuhnya,

“hal itu terserah pada yang menyebutnya”.

“Jika sebelum Eyang Penembahan Senopati tempat ini sudah digunakan oleh pendahulunya, artinya, Selo Gilang adalah merupakan tempat yang khusus untuk mencari pulung pemimpin?” Tanya neomisteri.

“Setuju”, jawab sang juru kunci.

“Yang harus dipahami adalah pengertian dari kata pemimpin dalam arti seluas-luasnya …
jadi tidak hanya raja”, timpal Sinyo.

Ketika neomisteri mengajukan pertanyaan seputar gangguan gaib yang biasa dialami oleh
mereka yang riadat, sang juru kunci hanya mengangkat bahu. Dengan bahasa kiasan lelaki
menginjak paruh baya ini mengatakan; “Prinsipnya yang bersangkutan harus meminta
secara khusyuk dan khusus hanya kepada Allah. Bukan kepada yang lain. Sedangkan
penyebutan nama-nama tadi hanyalah merupakan penghormatan kita sebagai sesama
makhluk ciptaan-Nya. Dengan kata lain, kita meminta izin”.

Kami semua mengangguk tanda setuju.

“Wah menjelang pilkada atau pemilu tentunya banyak yang riadat di sini?” Tanya neomisteri penasaran.

Sang juru kunci hanya tersenyum. Ia tak memberikan jawaban, namun neomisteri meyakini, pada saat-saat tertentu, diam-diam tempat yang satu ini ramai didatangi oleh mereka yang berharap mendapatkan pulung pemimpin.

artikel terkait

Apa komentarmu?

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Masjid Kobe: Tetap Kokoh Meski Diterjang Bom dan Gempa Dahsyat

Serangan bom juga hanya membuat bagian luar bangunan masjid menjadi sangat hitam. Sejumlah tentara Jepang yang berlindung di ruang bawah tanah masjid dikabarkan selamat...

Tersesatnya Bus Pariwisata di Gunung Tunggangan

"Astagfirullah... Kok di hutan ada orang sedang menyebrang? Jalan kok tiba-tiba hilang?" kemudian sopir membangunkan kernetnya. Dan alangkah kagetnya sopir menyadari jalan di depannya...

Artikel Terpopuler