Keangkeran MLW Serpong

Dalam waktu tak terlalu lama, dua orang diduga sengaja mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis dari bangunan ini ….
oleh: Dins Benyamien

Neomisteri – Tidak terasa, hampir sebulan aku tinggal di rumah kontrakan milik Baba Janih, penduduk asli Pakulonan Barat, Serpong. Suasana kekeluargaan di antara kami terasa begitu kental. Tiap pagi, kami bahkan sengaja meluangkan waktu barang sejenak untuk saling menyapa atau malahan jalan bersamaan menuju ke tempat kerja.

Kebetulan, karena letak kantor di Tangerang, maka, aku sengaja mengontrak ketimbang harus pulang pergi ke rumah yang terletak di bilangan Depok. Tujuannya tak lain, selain belajar mandiri juga agar badan tidak terlalu lelah akibat perjalanan yang cukup jauh dan macet.

Maklum, sebagai akunting, aku harus merekapitulasi laporan yang masuk dari beberapa ritel besar yang ada di Jakarta, Tangerang, Banten dan Serang. Sudah barang tentu, hampir tiap hari, aku pasti keluar kantor sekitar pukul 21.00.

Karena alasan tersebut, akhirnya, ayah dan ibu mengizinkan aku kos di daerah Pakulonan. Dari rumah kontrakan ke kantor hanya memakan waktu sekitar 20-30 menit.

Jika malam Minggu atau malam libur, maka, sudah dapat dipastikan lapangan bulu tangkis yang ada di depan rumah kontrakanku pasti ramai — mulai bapak, ibu dan anak-anak berkumpul di sana. Selain yang bermain bulu tangkis, beberapa bapak malahan asik bermain gaple.

Biasanya, permainan ini belanjut sampai larut bahkan tak jarang sampai pagi. Oleh karena itu, tak heran, jika RT di tempatku tinggal selalu menjadi juara jika ada pertandingan gaple saat perayaan Kemerdekaan RI.

Baca: Tragedi Junko Furuta

Sementara itu, ada juga beberapa bapak-bapak yang asik merokok sambil bercerita tentang berbagai hal, mulai dari isu tentang selebritas, suasana kantor, gaji yang tidak naik-naik bahkan juga cerita yang berbau mistik.

Karena tidak kebagian partner di tempat gaple, sekali ini, aku sengaja bergabung di tempat bapak-bapak yang menurut beberapa rekan “orang susah” — maklum, di kelompok ini, cerita yang diungkapkan hanyalah kesusahan belaka.

“Maaf … saya gabung ya”, kataku sambil menarik kursi plastik yang kosong.

Pak Ari, Pak Wira, Mas Dodi, Bang Dedi, Kang Ican dan Babe Janih langsung saja mempersilakan.

“Kalo blon kenal, dia Marno nyang ngontrak rumah saya yang pinggiran. Cat biru”, demikian kata Babe Janih memperkenalkan saya pada yang lain.

Baca: Akibat Terkena Teluh

Semua mengangguk sambil menyebutkan nama masing-masing. Suasana pun langsung cair. Ketika saya menceritakan kejadian dua hari lalu, ada kecelakaan tunggal di depan MLW, sontak Bang Dedi langsung menyambar; “Jangan kaget. Kliatannya daerah situ emang rada-rada horor. Apalagi kalo udah malem”.

“Ah … lebay”, kata Kang Ican dengan nada menyindir.

“Eh … lu pulangnya kan masih siang. Paling malem abis Megerib (Magrib-Btw), coba maleman dikit”, sergah Bang Dedi yang memang dikenal temperamental jika pembicaraannya dipotong.

“Gua cocok ama Dedi. Sebab gua orang sini. Jadi rada tau tempat-tempat yang angker”, Babe Janih berusaha menenangkan suasana.

Menurut Babe Janih, dulu, di sekitar bahkan di tempat gedung MLW berdiri adalah merupakan kebun yang begitu luas dan banyak ditumbuhi pepohonan yang besar-besar. Suasana kala itu, daerah tersebut lebih layak disebut sebagai hutan.

Maklum, selain pepohonan yang besar, semaknya pun demikian lebat. Sementara, di dalam area MLW terdapat makam yang sangat dihormati oleh penduduk, oleh karena itu, pada malam dan bulan tertentu makam tersebut juga ramai diziarahi.

Menurut para tetua yang mafhum akan hal gaib, makam tersebut dijaga oleh sosok lelaki tinggi besar dan berwibawa serta selalu diikuti oleh harimau hitam kemana pun ia melangkah.

Akibatnya, sudah dapat kita duga bersama, para orang tua pasti mewanti-wanti anaknya agar tidak keluar rumah saat Magrib. Ketika masih berusia 13 tahun, salah seorang sahabat Babe Janih yang bernama Sanan, menjelang senja pernah hilang di areal kebun saat mencari kayu bakar.

Setelah dicari kesana kemari tidak juga bertemu, akhirnya, orang sekampung keluar dari rumah dan memanggil-manggil namanya sambil membawa berbagai peralatan dapur dan memukulnya keras-keras.

Baca: Tiap Tahun Selalu Meminta Tumbal Nyawa

Alhasil, setelah beberapa jam mencari, akhirnya, ada yang mendengar suara Sanan meminta tolong. Beberapa orang langsung mengarahkan cahaya baterenya ke arah pohon Sawo. Dan benar, di antara dahan-dahan pohon tampak tubuh Sanan bergantung dengan wajah pucat pasi. Beberapa orang langsung naik dan menurunkan tubuh Sanan.

Setelah diminumkan air yang telah diberi doa oleh Wak Haji Jalih, Sanan pun langsung tersadar. Ia menceritakan dirinya dibawa berjalan-jalan oleh lelaki bertubuh tinggi besar dan karena lelah ia pun diajak beristirahat di balai-balai.

Alih-alih balai-balai, begitu tersadar karena mendengar suara gaduh, ternyata, ia mendapatkan dirinya tengah berada di antara ranting dan dahan pepohonan sawo ….

“Kalo masih kagak percaya daerah itu angker”, kata Babe Janih, “buktinya, taon 2016, enggak ampe tiga bulan ada dua orang bunuh diri di MLW. Ntu orang sengaja ngejatohin diri dari tingkat delapan”, sambungnya menutup pembicaraan.

“Hiyyy serem”, begitu kata Pak Ari, Pak Wira, Mas Dodi, Bang Dedi, dan Kang Ican hampir bersamaan. Akhirnya, kami pun sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing apalagi malam sudah sedemikian larut ….

Kolom Komentar...