Ketika Syeikh Kholil Bangkalan Bikin Belanda Kebingungan

Belanda menangkap Syekh Kholil dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi ditangkapnya Syekh Kholil, malah membuat pihak Belanda pusing dan kewalahan. Karena terjadi hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti.

 

Neomisteri – Pulau Madura dikenal sebagai salah satu daerah di Nusantara yang kerap melahirkan para ulama karismatik. Salah satunya yang paling dikenal adalah Syekh Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban

Ulama yang lebih dikenal dengan nama Kyai Kholil Bangkalan ini lahir di Bangkalan pada 1820 dan wafat di Martajasah, Bangkalan pada 1925 (pada usia antara 104 – 105 tahun).

Syeik Kholil juga dikenal sebagai Waliyullah. Banyak cerita kelebihan di luar akal atau karamah Syekh Kholil terkisah dari lisan ke lisan, terutama di lingkungan masyarakat Madura.

Ada banyak ulama Nusantara yang merupakan santrinya. Seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul ‘Ulama, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang), KH Bisri Syansuri (pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang) hingga KH Abdullah Mubarok (pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya).

Syekh Kholil pernah ditahan penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat perlawanan terhadap kolonial di pondok pesantrennya. Ketika Belanda mengetahuinya, Syekh Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri.

loading...

Tetapi ditangkapnya Syekh Kholil, malah membuat pihak Belanda pusing dan kewalahan; karena terjadi hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti. Seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.

Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Syekh Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Syekh Kholil untuk dibebaskan.

Karomah Kyai Kholil sendiri sudah terlihat saat beliau masih remaja. Pada suatu hari, saat salat jamaah yang dipimpin oleh seorang kiai di sebuah pesantren tempat Syekh Kholil muda mencari ilmu, ia tertawa cukup keras.

Setelah selesai salat, sang kiai menegur Syekh Kholil muda atas sikapnya tersebut yang memang dilarang dalam Islam. Ternyata Syekh Kholil muda masih terus tertawa meskipun kiai sangat marah terhadapnya.

Akhirnya ia menjawab hal yang menyebabkannya tertawa keras, bahwa ketika salat berjamaah berlangsung dia melihat sebuah “berkat” (makanan yang dibawa pulang sehabis kenduri) di atas kepala sang Kiai.

Mendengar jawaban tersebut, sang kiai sadar dan malu atas salat yang dipimpinnya. Karena sang kiai ingat bahwa selama salat berlangsung dia merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri yang mengakibatkan salatnya tidak khusyuk.

 

———
Disarikan dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *