Kisah Horor Tragis di Jalan Tol Cipularang

“Astaga Diiim… Itu bukan tas!” kata mereka serempak. “Hah??” Aku lihat lagi tas tersebut. DAN TERNYATA ITU KEPALA. Reflek aku lempar kepala itu ke arah lokasi kecelakaan. Kami pun bersembunyi di dalam mobil dengan ketakutan.

 

Neomisteri – Cerita ini harus gua tulis biar enggak lupa. Jadi ini tuh katanya kisah nyata. Gue denger cerita ini dari radio Ardan FM dahulu pas gue masih SMP. Karena cerita horor ini bermakna.

Makanya gue sering teringat kembali dan pengen banget gue denger lagi cerita ini soalnya sudah lupa-lupa ingat. Sayangnya gua cari di Youtube enggak ada rekaman cerita ini. Semoga Ardan FM menceritakan kembali kisah seram ini di radio atau Youtube.

Biar enggak ribet, gua reka ulang ceritanya ya, anggap aja kalian lagi dengerin Nightmare side Ardan FM. Dan sorry gua gak inget 100% cerita ini. Jadi yang bakal gue ceritain mungkin enggak bakal seseru cerita yang aslinya.

***

Perkenalkan, nama saya Dimas. Saya merupakan salah satu mahasiswa di universitas ternama di Bandung. Sore ini saya dan 4 (kalo enggak salah) teman saya (Dwi, Randi, Yeni, dan Koko) sedang bersiap siap pergi bertamasya ke Jakarta.

Kami berlima berangkat menggunakan mobil minibus (semacam Avanza atau Xenia) milik saya menuju Jakarta lewat tol Cipularang. Kami mulai berangkat sekitar pukul 6 magrib. Saya yang menyetir waktu itu, soalnya saya enggak percaya kalo temen saya yang nyetir.

Perjalanan kami pada awalnya biasa biasa saja. Ada yang sibuk ngobrol berduaan, ada yang makan cemilan, ada juga Koko yang nemenin saya sang supir biar enggak ngantuk. Koko mengajak ngobrol, mengatur lagu dan membantu mengawasi jalan.

Tidak terasa waktu sudah dua jam dan malam mulai gelap. Kulihat lampu lampu di jalan berseliweran dan kudengar di belakang teman temanku ngorok. Sialnya si Koko juga ikutan mengantuk.

“Sialan, enak banget ya, gak kasian apa sama gua, gimana jadinya kalo gua ngantuk? Mati dah kita,” gumam gw.

Pada awalnya, saya biarkan mereka istirahat. Mungkin lelah atau bosan. Enggak apa-apa lah, asal jangan kelamaan. Saya pun berusaha agar tetap fokus dan tidak tertular oleh nikmatnya dengkuran teman-temanku. Apalagi Yeni sama Randi, enak banget ya bobo pelukan. Sementara gue di sini berjuang sendirian.

Tiba tiba terbesit di benakku untu menjahili mereka. Ketika semua sedang terlelap, termasuk si Koko yang malah merebahkan joknya. “Ckiittt….” Saya rem mendadak dan mereka pun terbangun kaget.

“Wey… Ada apa Dim?” teriak randi kaget. Yang lain pun sama, kaget bertanya-tanya.

“Hahaha… Mampus kalian,” jawabku. “Enak bener yah, gue didiemin,” tambahku. “Kalo sampe gue yang ngantuk, mampus kalian! Heeee dasar…,” sejenak kuceramahi mereka.

Kemudian Randi pun merasa bersalah dan menawari untuk gantian nyetir. Karena ngantuk, aku pun bergantian. Koko pindah ke belakang karena Yeni merindukannya. Sedangkan aku tidur di jok samping Randi yang menggantikanku menyetir.

Baru saja aku terlelap. Tiba tiba aku terbangun dikagetkan oleh randi yang rem mendadak. Kami kaget bertanya tanya. “Ada apa Di?” kataku.

“Tuh liat,” kata Randi.

Perlahan mobil kami menghampiri. Di depan ada sebuah truk bermuatan pasir yang menabrak sebuah minibus. “Jadi pas kalian tidur, di depan kita ada kecelakaan,” kata Randi. “Gua cekatan rem banting kiri,” tambahnya.

Tadinya kita hanya akan lewat dan hanya membantu dengan menelpon Jasa Marga. Tapi tiba-tiba Randi berkata: “Btw, kok enggak enak gini sih mobil, cek dulu yuk. Kayaknya ada yang kempes.”

Kami pun berhenti sejenak keluar dari mobil. Yang lain keluar buat ambil nafas, dan ada pula yang menelpon Jasa Marga. Sementara aku dan Randi sibuk mengganti ban. Karena ternyata memang benar, satu ban belakang mobilku bocor.

Namun sialnya, ban serep yang kubawa ternyata juga belum ditambal. Akhirnya kami menelpon Jasa Marga untuk dua laporan. Kecelakaan dan ban mobilku yang bocor.

Akhirnya, kami pun menghampiri mobil yang kecelakaan tersebut dengan maksud untuk menolong. Tapi betapa kagetnya kami. Ketika kami mendatangi lokasi kecelakaan, di sana tidak ada siapapun. Mobil truk dan minibus yang ditabraknya kosong! Tidak ada siapapun.

“Loh! Ini korbannya mana? Apa mungkin mereka sudah menyelamatkan diri? Tapi seharusnya mereka tidak jauh dari sini.”

Aku, Randi, dan Koko berpencar mencari korban tersebut. Aku berjalan ke arah utara. Tiba-tiba aku melihat sebuah tas. Mungkin saja itu tas milik korban yang terlempar. Aku ambil tas itu dan kembali pada teman-temanku.

loading...

Loh… Teman-temanku ternyata sudah kembali ke tempat mobil kami terparkir. Aku pun balik menyusul mereka sambil membawa tas temuanku. Tiba-tiba teman-temanku berteriak: “Diiim… Cepeeet!! Lari Diim!!”

Aku heran, mereka kenapa sih. “Diiim…. Cepet!!!”

Aku pun berjalan lebih cepat. Begitu aku mendekati teman-temanku, mereka tercengang melihat tas yang kupegang.

“Diiiim… Diiim!”

“Apa sih Ko?” kataku sambil berjalan.

“Diiim… Buang Diim…. Buang!!”

Aku semakin heran. Begitu sampai, mereka agak mundur. Yang cewek-cewek malah sembunyi di punggung

“Ini gua nemu tas. Kayaknya punya korban. Soalnya ada darahnya,” kataku.

“Astaga Diiim… Itu bukan tas!” kata mereka serempak.

“Hah??” Aku lihat lagi tas tersebut. DAN TERNYATA ITU KEPALA. Reflek aku lempar kepala itu ke arah lokasi kecelakaan. Kami pun bersembunyi di dalam mobil dengan ketakutan.

“Yen! Jasa Marga gimana?” tanyaku.

“Iya udah gua telpon berkali-kali, mereka sedang menuju ke sini,” katanya.

“Kok lama sih yen!”

“Ya enggak tau, macet kali!”

“Enggak masalah macet, kan mereka pake sirine.”

“Ya mana gue tau lah. Lagian kan mobil derek mana bisa ngebut!”

Karena panik, kami pun sempat adu mulut enggak jelas. Dan aku, Koko, dan Randi pun keluar, duduk di trotoar sambil mencoba menelpon kembali Jasa Marga.

Aku sangat lelah, kepalaku pusing sekali. Aku duduk di trotoar dengan kepala tertunduk lemas dan mengantuk. Sementara Koko mondar-mandir dan Randi menelpon ulang Jasa Marga. Seketika kami lupa dengan kejadian horor yang baru saja terjadi.

Nyaris aku terlelap, tiba tiba terdengar sirine. Dan tibalah di depanku, 3 mobil derek dan 2 ambulan. Aku sangat lelah, entah kenapa, begitu lelah sampai tiba-tiba aku sulit berdiri.

Kemudian seorang petugas membantuku berdiri dan menuntunku ke mobil derek. Aku duduk di jok samping sopir mobil derek. “Loh… aku heran, kenapa aku dibawa ke sini.

“Pak.. Teman-teman saya mana?” tanyaku.

“Teman-teman mas ada di ambulan,” katanya.

“looh… Kan yang kecelakaan bukan kita? kok teman-temanku pake ambulan? Padahal diem di mobil aja sambil diderek. Terus yang kecelakaan gimana?” gumamku.

Belum sempat kutanyakan semua kebingungan itu pada petugas, kepalaku sangat berat dan aku tiba-tiba pingsan.

***

Tiba-tiba saja aku terbangun di atas ranjang putih. “Looh… Ini rumah sakit. Loh… Sejak kapan kepalaku diperban? Aw, tanganku sejak kapan patah?!”

“TEMAN TEMANKU MANA??”

Tiba-tiba televisi yang berada di pojok kamar inap ada sebuah berita. breaking news. Ku tonton berita tersebut memberitakan bahwa ada kecelakaan di tol Cipularang tadi malam yang menelan 4 orang korban jiwa dan 1 orang luka parah.

Ketika nama-nama korban disebut, aku menangis sejadi jadinya. Kecelakaan minibus tertabrak oleh truk angkutan pasir, sopir truk tersebut menjelaskan bahwa minibus yang ada di depannya rem mendadak sehingga tertabrak. Korban mengenaskan, anggota tubuh berceceran, satu orang dirawat di rumah sakit. Aku menangis sejadi jadinya.

Ternyata kelakuanku saat menjahili mereka berujung maut. Teman temanku meninggal karena perbuatanku. Dan ternyata kejadian-kejadian tadi malam adalah entah mimpi ataukah khayalanku saja karena syok berat. Tiba tiba saja aku teringat banyak hal.

Ternyata kejadian sebenarnya, malam itu aku duduk di trotoar syok mematung sambil memegang kepala salah satu temanku Randi. Kami tertabrak saat ku rem mendadak untuk membangunkan teman-temanku yang sedang tidur.

Aku tak bisa berhenti menangis dan sampai sekarang aku merasa berdosa.

 

 

————

sumber: @dedekating

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *