Puser Bumi Gunung Jati

Ketika rombongan dari Bagdad yang terdiri dari 10 lelaki dan dua perempuan menginjakkan kakinya di Muara Jati, mereka mendapatkan izin dari Ki Gedeng Tapa untuk bermukim di daerah Pesambangan, sebuah bukit kecil yang bernama Giri Amparan Jati ….
oleh: Pram Sudibya

 

Neomisteri – Sesuai dengan tujuan awalnya untuk melakukan syiar Islam di Tanah Jawa, maka, di tempatnya yang baru, Syekh Datuk Kahfi berdakwah mengajak masyarakat untuk mengenal dan memeluk agama Islam. Kesantunan dan kepribadian yang terbuka membuat dalam waktu singkat banyak orang datang dan menyatakan diri untuk memeluk agama Islam dengan ikhlas.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, santri Syekh Datuk Kahfi pun semakin banyak. Dalam interaksinya dengan masyarakat sekitar, akhirnya Syekh Datuk Kahfi menikah dengan Hadijah cucu Haji Purwa Galuh (Raden Bratalegawa, orang pertama yang pergi berhaji dari Jawa Barat, yang saat itu masih bernama Kerajaan Galuh).

Baca: Misteri Alunan Gamelan, Tangisan dan Pintu Gerbang Gaib

Hadijah adalah janda seorang saudagar kaya raya dari Hadramaut — sayang dalam pernikahan tersebut ia tidak dikaruniai keturunan, namun setelah sang suami meninggal dunia, maka, Hadijah memperoleh seluruh harta warisan dari almarhum dan digunakan untuk membangun sebuah pondok pesantren yang dikenal dengan nama Pesambangan Jati.

Warta berkisah, sebelum ajaran Islam berkembang Pulau Jawa masih merupakan hutan rimba yang sangat angker. Hingga pada suatu masa, di puncak Gunung Ciremai hidup seorang pertapa bernama Pendeta Bageral Banjir. Ia seolah ingin menghabiskan hidupnya dengan bertapa, bertapa dan terus bertapa untuk memohon agar keinginannya menguasai ilmu Wijihing Srandil dan Kesempuraan Hidup dikabulkan oleh Sanghyang Maha Tunggal.

Berbilang waktu, bahkan ada yang menyatakan Pendeta Bageral Banjir telah lima belas tahun bertapa di tempat tersebut, pada suatu waktu, Sanghyang Maha Tunggal meluluskan keinginannya. Ketika Ilmu Wijihing Srandil dan Ilmu Kesempurnaan Hidup merasuk ke tubuhnya — Pendeta Bageral Banjir pun sontak menggigil. Karena tak kuat menahan rasa dingin yang teramat sangat, akhirnya, ia pun tak sadatkan diri lagi.

Bersamaan dengan itu, Gunung Ceremai pun meletus ….

VIDEO: Perjalanan Malam Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati

Puncaknya melesat jauh ke angkara dan akhirnya jatuh ke laut lepas dan terombang-ambil bak sabut yang dimainkan gelombang. Sementara, tubuh Pendeta Bageral Banjir hilang tanpa bekas bak ditelan bumi. Entah berapa lama, Puncak Gunung Ceremai terus terombang-ambing di laut lepas ….
Hingga pada suatu hari, satang seseorang yang diyakini Syekh Datuk Kahfi ke puncak gunung yang terombang-ambing di lautan luas itu.

Setelah beberapa saat memperhatikan keadaan di seputar tempat itu, ia meyakini, bahwa tempat itulah yang memang selama ini dicarinya — petilasan, tepatnya tempat bertapa Pendeta Bageral Banjir. Tanpa banyak membuang waktu, akhirnya, Syekh Datuk Kahfi menuntaskan apa yang dulu pernah dilakukan oleh sang pendeta.

Baca: Situ Gintung, Gudang Pusaka Para Pejuang

Keajaiban pun terjadi, dari tempat duduknya, mendadak terpancar sinar dari dalam bumi yang terus meninggi dan menyorot tempat duduk itu, sementara, pendarnya menerangi seluruh jagat raya. Tidak cukup sampai di situ, Puncak Gunung Ceremai yang mulanya terombang-ambing pun mendadak diam dan berubah menjadi daratan ….

Pada akhirnya, Syekh Datuk Kahfi lebih dikenal dengan sebutan Syekh Nurul Jati atau Syekh Nurjati (Nur Ingkang Sejati), sementara, tempatnya duduk yang memancarkan sinar itu dikenal dengan Puser Bumi Gunung Jati. Adapun santri Syekh Datuk Kahfi di antaranya adalah Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang, putra-putri dari Kerajaan Pajajaran, Syekh Syarif Hidayatullah, Sunan Kalijaga bahkan Syekh Siti Jenar.

Puser Bumi Gunung Jati

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Menguak Tabir Gaib Gua Gembul

Banyak yang meyakini, pada suatu zaman, tempat yang satu ini acap disinggahi bahkan digunakan untuk berkumpul oleh para Waliullah dalam melakukan syiar Islam di...

Brigjen Kiai Syam’un

Darah pejuang serta penanaman filosofi jihad dari para gurunya, jenderal yang juga kiai ini terus berjuang, berjuang dan berjuang untuk mengenyahkan penjajah dari bumi...

Artikel Terpopuler