Tulah Keris Warisan

Tak hanya harta benda, bahkan dua perusahaan kontraktor yang selama ini menjadi andalannya pun turut bangkrut ….
oleh: Tim Redaksi

 

Neomisteri – Mas Raji (49 tahun) demikian sapaan lelaki paruh baya yang baru saja pindah ke sebelah rumah, tampaknya bukan orang sembarangan. Betapa tidak, kata-katanya yang lembut namun tegas, perawakan dan pakaian serta barang-barang miliknya menunjukkan bahwa ia atau bahkan keluarganya adalah orang yang mampu bahkan terpandang.

Seperti biasa, sebagai pemukim baru, maka, ia dan keluarganya memperkenalkan diri dan pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan upacara selamatan pindah rumah. Lepas itu, aku dan beberapa tetangga yang masih tergolong muda sengaja menunda kepulangan. Selain ingin berbincang, juga membantu Mas Raji untuk menata kursi dan meja yang tadi ada di luar.

Mas Raji sudah melarang, tapi, kami nekat terus membantunya. Di tengah-tengah itu, ia meminta kepada Galih, salah seorang anaknya untuk membuat kopi dan meminta kami tidak segera pulang.

Lepas itu, setelah menyesap kopi dan menghisap rokok, kami pun berbincang dengan hangat. Aku, Mas Indra, dan Bang Andi yang terkenal paling konyol langsung saja berceloteh dengan riang menceritakan kenakalan masing-masing ketika kecil. Hingga pada akhirnya, ketika Bang Andi selesai bercerita bahwa ia dan tiga temannya dipindahkan ke pinggir kolam masjid ketika mereka menginap usai nonton layar tancap, Mas Raji pun menghela napas berat sambil geleng-geleng kepala.

“Jujur, aku kira, sampai sekarang semua itu cuma dongeng. Ternyata ada … ya”, kata Mas Raji seolah pada dirinya sendiri.

Kami saling pandang karena tak mengerti apa yang digumamkan oleh Mas Raji.

“Ayo kuenya …”, kataku mencairkan situasi.

Ilustrasi Keris.
Ilustrasi Keris.

Mas Indra, Bang Andi dan Mas Raji sontak terkesiap dan tangan mereka langsung mengambil kue dan meminum kopi yang sudah mulai hangat.

“Sorry aku cuman nawarin”, kataku lagi.

“Enggak masalah …”, kata Mas Raji sambil menepuk lututku, “saya mendadak jadi teringat tentang keris peninggalan eyang. Karena tidak tahu, ya … saya simpan saja di lemari pakaian. Eh … belakangan, keluarga selalu saja ada yang sakit, bahkan, usaha saya pun bangkrut”, imbuhnya.

“Kata beberapa orang yang senang menggeluti dunia mistik, saya kena tulah keris pusaka peninggalan eyang karena tidak dirawat sebagaimana mestinya”, pungkasnya.

“Akhirnya, saya titipkan keris itu ke sepupu saya di kampung. Menurut keluarga, walau keluarga jauh tapi mereka sangat paham dalam merawat benda-benda pusaka. Maklum, mereka memang dari keluarga yang sangat kental berpegang pada budaya Jawa”, tambahnya.

“Bisa sampai begitu … ya?” Gumam Mas Indra.

“Ya … memang begitu. Makanya ketika ayah meninggal, aku hanya bilang silakan bagi yang berminat untuk merawat keris-keris tersebut. Jika tidak ada, lebih baik serahkan ke museum atau kolektor”, timpal Bang Andi.

Semua mengangguk tanda setuju. Karena malam semakin larut, akhirnya kami minta diri untuk pulang. Dan sejak itu, pada malam-malam libur, kami selalu bertandang ke rumah Mas Raji untuk kumpul dan bersenda gurau ….

artikel terkait

Apa komentarmu?

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Mengintip Khasiat Warna Batu Cincin

Keindahan dari warna yang memancar dari batu cincin, ternyata, mampu membuat gandrung para pemakai bahkan yang melihatnya .... oleh: R Harimurti   Neomisteri - Walau hanya...

Cincin Keramat

Malam itu, di tengah-tengah kelelahan akibat seharian melayani pembeli yang datang ke tokonya, ia baru sadar, ternyata, perubahan ini terjadi setelah ia menemukan batu...

Tuah Keris Pusaka

Artikel Terpopuler