Aji Prabawa

Walau usianya masih tergolong muda dan berwajah ke kanak-kanakan, namun, entah kenapa, tak ada seorang pun ada yang berani menatap wajah ataupun membantah kata-katanya ….

Oleh: Dyah Dhanacawara

 

Neomisteri – Budi, demikian sapaan akrabnya adalah karyawan baru pada di salah satu perusahaan ekspedisi yang terdapat di bilangan pusat perdagangan Jakarta. Ia mengisi jabatan kosong sebagai manajer operasional karena Pak Arya dipomosikan oleh pimpinan untuk menjadi area manajer di Singapura.

Ketika memperkenalkan diri, ia mengaku baru saja menyelesaikan studinya di Jepang dan ingin bekerja di Indonesia karena permintaan ibunya. Maklum, Budi adalah anak semata wayang.

Kepiawaiannya dalam IT memang tak perlu diragukan lagi. Baru saja sebulan, ia langsung mempresentasikan program yang mampu membaca di mana posisi barang yang tengah dikirim dan kapan sampai di tujuan.

Pak Alfin, bos besar sudah tentu merasa senang. Apalagi, biaya yang dikeluarkan tergolong kecil.

Pada saatnya, Pak Alfin pun mengundang seluruh karyawan yang terkait untuk mendengarkan dan mempelajari program baru tersebut. Semua merasa puas. Apalagi, Budi menerangkan dengan sangat lugas serta menggunakan bahasa yang sangat mudah dimengerti.

“Wah … Jika ada yang bertanya, kita tidak susah-susah lagi menjawabnya. Cukup dua kali klik, kita bisa menjawab barang ada di mana dan kapan sampai di tujuan,” kata Devi dengan wajah sumringah.

Maklum, Devi merupakan staf yang bertugas untuk menjawab pelbagai pertanyaan tentang barang yang dikirim oleh para klien.

Keberhasilan Budi tidak membuat ia jadi jumawa. Ia tidak berubah sama sekali. Tetap ramah, humoris dan selalu menegur terlebih dahulu pada siapa pun yang ditemuinya. Namun tak ada seorang pun yang merasa apalagi memperhatikannya, tiap bertegur sapa, tak ada seorang pun yang pernah berani menatap wajahnya. Termasuk Pak Alfin, bos besar.

Neomisteri yang mencoba menelisik, beberapa kali harus kembali dengan tangan hampa.

Hingga pada suatu hari, karena bosan menghadapi Neomisteri yang selalu menanyakan hal yang sama, akhirnya, Budi pun mengaku.

“Ya … aku mengamalkan Aji Prabawa. Warisan dari almarhum ayah”, katanya dengan suara bergetar.

“Boleh aku tahu?” Desak Neomisteri.

“Puasanya jarang yang kuat. Tujuh belas hari puasa mutih, hanya makan sepiring nasi putih dan minum segelas air putih”, katanya menjelaskan, “puasanya dimulai bersamaan dengan hari kelahiran kita”, tambahnya lagi.

“Lalu bagaimana mantra atau amalannya?” tanya Neomisteri penasaran.

Budi pun tersenyum, lalu, terdengar kata-katanya;

Ingsun muja pupujaningsun
Sarining bumi, sarining banyu, sarining angin
Ingsun racut dadi salira tunggal
Amora kumandhang suwaraningsun
Manjinga cahyaningsun
Dadiya paningalingsun
Daya pangrunguningsun
Lepas panggandaningsun
Rame wicaraningsun
Ya ingsun manungsa sajati
Gustine manungsa kabeh
Rep sirep tan ana wani maringsun.

“Waktu puasa, mantra dibaca dengan tahan napas serta kedua telapak tangan menengadah seperti berdoa. Begitu selesai, sapukan ke wajah sampai kepala bagian belakang. Lakukan dua puluh satu kali,” pungkasnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berjalan menjauh.

Neomisteri pun puas karena berhasil mengorek satu ilmu warisan leluhur yang benar-benar ampuh (perhatikan arti dari kata-kata mantra tersebut) dan sangat dibutuhkan oleh banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *