Kekuatan Mantra Halimunan

Semua harap-harap cemas, betapa tidak, sudah lebih dari tiga puluh menit Roni berada di tengah-tengah kepungan anak-anak salah satu sekolah kejuruan yang tergolong brutal di Jakarta ….
Oleh: Andhika BS

Neomisteri – Roni (Sahroni), Amal (Abdul Zamal) dan Ba’im (Ibrahim), adalah tiga serangkai yang sama-sama menimba ilmu di salah satu SMA yang ada di bilangan Jakarta Pusat. Karena merasa satu daerah, Banten, walau berbeda kota, sejak mulai masuk mereka langsung saja akrab antara satu dengan lainnya.

Amal dan Ba’im adalah dua sosok yang demikian terkenal di sekolahnya, maklum, keduanya adalah bintang di lapangan basket — boleh dikata, jika bola sampai di tangan keduanya, pasti bakal menambah angka. Sementara, Roni lebih banyak di pinggir lapangan untuk memberi semangat dengan celoteh yang segar kepada kedua sahabatnya yang sedang bertanding.

Oleh sebab itu, tak heran, walau baru masuk, namun, ketiganya praktis dikenal oleh semua siswa.

Kala itu, Jakarta di rentang 2013, hampir semua orang tua selalu was-was. Maklum, hampir tiap hari, ada saja tawuran antar pelajar. Akibatnya sudah kita duga bersama, selain menimbulkan kemacetan dan kerusakan, kadang sampai memakan korban jiwa.

Tiap melepas kepergian anaknya berangkat sekolah, orang tua selalu saja mengingatkan; “Hati-hati, jangan ikut-ikutan. Lebih baik di sekolah atau berlindung di kantor polisi. Tunggu sampai keadaan benar-benar aman”.

Waktu terus berlalu. Pada suatu hari, sekolah tempat tiga serangkai menuntut ilmu diserang oleh sekelompok pelajar dari salah satu sekolah kejuruan. Semua berlarian masuk dan menutup pintu gerbang. Para guru sibuk menenangkan siswa-siwanya untuk tidak melakukan perlawanan — dengan tujuan agar tidak terjadi kerusakan atau menambah panas keadaan.

Di tengah-tengah itu, mendadak terdengar suara; “Ah … si Roni tadi lagi minum es di luar. Dia belom masuk”.

Tak hanya kedua sahabatnya, semua yang mendengar pun turut panik dan sontak mencari Roni di antara siswa yang lainnya. Beruntung, keadaan tidak berlarut-larut. Sepasukan Polisi datang dan berhasil mengamankan suasana. Bersamaan dengan itu, Roni tampak berjalan dengan santai menuju ke pintu gerbang.

“Kamu dari mana?” Tanya salah seorang guru dengan nada keras sambil membuka gerbang.

“Habis minum es Pak. Haus”, jawab Roni.

“Lain kali, jangan diulangi. Kamu bisa mati konyol”, kata Pak Didi, Guru Olahraga mengingatkan. Beberapa Polisi tampak menggeleng-gelengkan kepala melihat ketenangan Roni.

“Baik Pak … saya tidak akan mengulangi”, kata Roni sambil berjalan memasuki sekolahnya.

“Lu … tadi ngumpet di mana?” Tanya Amran dengan logat Betawi yang kental.

“Enggak … gua duduk sambil minum”, jawab Roni dengan wajah kebingungan.

“Enggak mungkin … kalo enggak ngumpet lu udah abis”, kata yang lain menimpali.

Roni hanya tersenyum. Kali ini ia lebih banyak diam. Celoteh segarnya seolah hilang entah kemana ….

Amal, sang sahabat diam-diam menghitung beberapa peristiwa serupa yang bukan tidak mungkin dapat mencederai bahkan membuat Roni meninggal dunia. Peristiwa kelima yang benar-benar amat membekas di hatinya. Kala itu, Roni sedang membetulkan tali sepatunya yang lepas — bersamaan dengan itu, serombongan pelajar sekolah lain lewat dan langsung turun dari bus kemudian mengejar mereka.

Alam dan Baim sontak berlari masuk ke sekolah. Sementara, Roni berada di tengah-tengah kerumunan para pelajar yang dengan beringas mengejar dan menghajar siapa pun yang berseragam putih abu-abu.

Pintu gerbang pun ditutup rapat-rapat, sementara, salah seorang guru menghubungi Polisi.

Ketika Pak Didi melihat keduanya, ia langsung bertanya, “Roni kemana?”
Amal dan Baim langsung saling pandang. Wajah keduanya pucat pasi dan hanya menunjuk ke arah kerumunan.

“Wah … sekali ini Roni pasti celaka”, demikian desis Pak Didi.

Kemacetan yang ditimbulkan akibat ulah para pelajar itu membuat kendaraan Polisi pun jadi terhambat. Waktu terasa begitu lambat. Tiga puluh menit kemudian, Polisi ganti mengepung para pelajar itu. Boleh dikata, tidak hanya di jalan raya, jalan-jalan kecil bahkan jalan tikus pun sudah ditutup oleh Polisi.

Mereka diminta membuka baju dan meletakkan tasnya untuk diperiksa, kemudian dinaikkan ke truk. Polisi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Berbagai jenis senjata tajam dan minuman keras berhasil disita.

Pada saat itulah, tampak Roni berjalan dengan dikawal oleh 2 (dua) orang Polisi. Setibanya di depan gerbang, salah seorang Polisi berkata; “Ia beruntung. Anak-anak itu tidak melihatnya”.

“Terima kasih Pak”, kata Roni sambil mencium tangan kedua Polisi yang mengantarkannya.

Pak Didi, Amal, Baim dan beberapa teman lainnya langsung mengerumuni Roni sambil bertanya macam-macam. Kembali, Roni tidak menjawabnya ….

Hingga pada suatu hari, Amal dan Baim menanyakan kenapa ia selalu berhasil selamat walau berada di tengah-tengah kepungan. Roni menjawab dengan ringan; “Kita oranng Banten”.

“Maksudnya?” Potong Baim.

Akhirnya, Roni pun menceritakan bahwa sejak SMP, ia sudah digembleng oleh ayahnya untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu untuk keselamatannya di rantau orang.

“Ow … boleh kita tahu dan turut mengamalkannya?” Tanya Amal penasaran.

“Silakan”, jawabnya sambil menerangkan, “puasa tidak makan yang berjiwa selama empat puluh satu hari empat puluh malam. Ringkasnya, makan nasi putih dan minumnya air putih saja”, tambahnya lagi.

“Kemudian, selepas mendirikan salat fardu, baca amalan dalam hati sebanyak tujuh kali dengan tahan napas. Lepas itu, tiupkan ke kedua telapak tangan dan sapukan sekujur tubuh dari mulai kepala sampai kaki”, lanjutnya lagi.

“Selanjutnya, setiap hari, setelah menjalankan puasa, tiap akan keluar rumah, baca amalan tersebut tepat di tengah-tengah pintu rumah. Insya Allah, mereka yang akan berbuat jahat tidak melihat kita”, imbuhnya.

“Lalu, bagaimana dengan amalannya?” Desak kedua temannya penasaran.

Isun ngewatek atiku jeneng siluman
aku ane ing sejerone
gedung wes kunci neng malaikat jibril
eng kang nutupi malaikat Mikail
eng kang ngaling ngalingi malaikat Isrofil
eng kang ngemuli malaikat Izroil
eng kang alingaken Allah
kang zumeneng nabi Muhammad
eng kang amayungi yahu qudrat irodat Allah
La ilaha illallah Muhammadarrasulullah.

Demikian cerita dari Amal yang sekarang sudah menjadi salah seorang manajer pemasaran di salah satu kantor properti yang ada di bilangan Jakarta Pusat, yang dituliskan untuk neomisteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *