Pelet Kirim Mimpi Basah

Tubuh yang sintal berbalut kulit kuning langsat dan wajah yang semula selalu menebarkan senyum sinis kepada kebanyakan lelaki yang berusaha bersahabat apa lagi menyatakan cintanya, kini, berubah total, kusut dan layu ….
Oleh: G. Trihardo

 

Neomisteri – Di kampus kami, Yanti, demikian sapaan akrabnya tergolong salah satu gadis yang tercantik. Oleh sebab itu, banyak lelaki yang berusaha mendekatinya. Tapi apa lacur, sadar akan kecantikannya, Yanti yang berwajah cantik dan berkulit kuning langsat selalu menebarkan senyum sinis kepada siapa pun yang berusaha bersahabat apa lagi mengutarakan perasaan hatinya.

Di antara teman-teman di kampus, ternyata, Dian yang memiliki nama lengkap Ardiansyah, diam-diam menaruh perhatian khusus kepada Yanti. Tiga sahabat yang sejak semester awal selalu bersama-sama, Galih, Ipul, dan Dimas hampir tiap hari selalu mengingatkan;

“Sudahlah… Batalkan. Cari yang lain.”

“Enggak… Suatu saat ia pasti akan tunduk dan mengharapkan balasan cinta gua,” kata Dian dengan mantap.

Ketiganya hanya bisa saling pandang dan menarik napas panjang.

Akhirnya, mereka mengalihkan pembicaraan agar Dian tidak merasa tersinggung atau dikecilkan. Pembicaraan pun sontak beralih ke politik. Keempatnya langsung asyik terlibat dalam perdebatan kecil tentang situasi yang tengah dihadapi sekarang ini. Tak ada kata sepakat di antara mereka, satu sama lain mempertahankan pendapatnya mati-matian.

Akhirnya, keempatnya berdiri dan berjalan menuju kelas untuk mengikuti kuliah. Di kelas, kebetulan Dian duduk tepat di belakang Yanti. Tanpa basa-basi, Yanti langsung membuang muka sambil meludah; “Cuh ….”

Sesaat wajah Dian memerah karena malu. Namun hanya sesaat, sertelah menarik napas beberapa kali, Dian kelihatan tenang bahkan tersenyum simpul. Ketika usai kuliah, ketiga sahabatnya yang melihat kejadian itu, langsung mengajak Dian ke kantin untuk makan siang. Tujuannya, agar Dian tidak menumpahkan segala kemarahannya kepada Yanti.

Setibanya di kantin, sambil duduk, Dian pun berkata; “Liat aja nanti, Yanti pasti nangis dan selalu mencari-cari gua.”

Hampir bersamaan, ketiga sahabatnya langsung menjawab; “Sudahlah… Jangan dipikir dan dimasukkan ke hati.”

“Lah… Liat saja,” kata Dian lagi dengan nada sedikit sengit.

Ketiganya sadar, jika sudah membicarakan Yanti, Dian pasti bersikukuh pada pendapatnya. Yanti adalah wanita satu-satunya yang nyaris sempurna dan harus diperjuangkan dengan sepenuh hati dan tenaga untuk mendapatkannya.

***

Hari terus berganti dan tak ada kejadian yang tergolong istimewa. Kami dan semuanya sedang pekan teduh atau minggu tenang untuk menghadapi Ujian Akhir Semester.

Senin, hari pertama ujian, tidak ada perubahan yang terjadi pada diri Yanti. Ia selalu menebarkan senyum sinis kepada setiap lelaki yang ditemuinya. Tak ada yang ambil peduli, semua sudah mafhum, Yanti hanya mau tersenyum kepada lelaki yang dianggap sepadan untuk bergaul dengannya.

Esoknya, terjadi perubahan yang cukup drastis. Yanti yang biasanya selalu tebar pesona, sekali ini datang dengan wajah agak kusut dengan rambut yang belum kering. Ternyata tak hanya hari itu, selanjutnya, sampai dengan akhir Ujian Akhir Semester, wajah Yanti tak lagi berseri, tubuhnya kian kurus dan matanya pun cekung.

Saat yang ditunggu pun tiba, kami semua libur panjang selama sebulan penuh. Ada yang kembali ke kampungnya, namun, ada pula yang tetap datang ke kampus untuk mengisi pelbagai kegiatan ekstra kurikuler. Sementara, empat sekawan, Dian, Galih, Ipul, dan Dimas lebih memilih tetap datang ke kampus untuk membimbing adik-adiknya, khususnya dalam hal SAR. Maklum, mereka tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam di kampusnya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dian sedang asyik mengawasi teknik evakuasi, mendadak, Yanti diiringi oleh dua sahabatnya, Dita dan Evi turun dari mobilnya dan langsung mendatangi Dian sambil menangis. “Lu harus tanggung jawab,” demikian katanya dengan nada pasrah.

“Maksud lu?” Tanya Dian balas bertanya.

loading...

“Jangan belagak pilon. Gua udah serahin semuanya, sekarang juga, lu kudu ketemu papa sama mama. Lu jangan mau enaknya aja, harus tanggung jawab,” berondong Yanti. Sementara Dita dan Evi yang mendampingi berusaha untuk menenangkan Yanti yang kala itu benar-benar kelihatan sangat panik.

Di sebelah sana, Galih, Ipul, dan Dimas hanya saling pandang dan mengangkat bahu masing-masing. Tak lama kemudian, Dian, Yanti, Dita, dan Evi mendatangi mereka. Tak lama kemudian, dengan nada lirih, Dita menjelaskan kenapa Yanti menuntut Dian untuk bertanggungjawab. Menurutnya, pada hari kedua Ujian Akhir Semester, Dian datang ke kamar Yanti dan keduanya berasyik maksyuk sebagaimana layaknya pasangan suami istri.

Tak hanya sekali, ternyata, hampir tiap malam Dian datang dan keduanya langsung tenggelam dalam alunan asmara purba. Oleh sebab itu, karena Yanti merasa sudah digauli, maka ia meminta Dian untuk bertanggungjawab atas perbuatannya.

Mendengar keterangan Dita, sudah barang tentu membuat Galih, Ipul, dan Dimas harus membela sahabatnya. “Enggak mungkin, tiap malam kita selalu belajar bersama. Kalo enggak percaya, tanya sama Iwan yang satu kos sama kita.”

Tapi apa daya, jawaban ketiganya selalu ditolak oleh Yanti, Dita, dan Evi. Mereka bersikukuh, Dian tetap harus bertanggungjawab.

Hari itu juga, keempat sahabat mendatangi rumah Yanti. Dian pun mengutarakan segala keinginannya dan meminta maaf karena kedua orang tuanya belum diberi kabar tentang maksud itu. Alhasil, papa dan mama serta keluarga Yanti dapat menerima alasan itu, dan meminta agar dalam waktu dekat keluarga Dian datang secara resmi untuk meminang putrinya. Setelah dianggap cukup, keempatnya langsung mohon diri.

Ketika sampai di pintu, dengan malu-malu dan penuh harap Yanti pun berkata; “Jangan lupa ya… Gua nunggu banget bapak dan ibu datang.”

“Siaaaap,” kata Dian sambil mencium pipi Yanti dengan mesra.

Di tengah perjalanan, Dimas yang paling nyinyir di antara kami langsung saja bertanya; “Buset… Lu kapan jalannya. Rasanya lu ada terus ama kita.”

“Iya tuh… Kapan jalannya?” Gumam Galih dan Ipul hampir bersamaan.

Akhirnya, Dian pun menjawab dengan nada penuh kemenangan. “Itu semua berkat mantra kirim mimpi basah. Inget, gua kan orang Kalimantan. Salahnya Yanti nekat bikin malu gua di depan umum.”

“Ah…,” kata Dimas sambil menepuk dahinya. “Boleh juga tuh. Kita semua pasti butuh,” imbuhnya lagi.

“Boleh, tapi enggak boleh buat main-main. Resikonya, lu bakal gila dan enggak bisa ada yang nyembuhin,” jawab Dian serius. “Makanya, gua langsung nekat ngawinin Yanti dari pada lu semua punya temen gila,” sambungnya.

“Oke… Pertama-tama lakukan puasa selama tujuh hari yang dimulai dari hari kelahiran kalian. Tiap buka dan sahur hanya makan tujuh kepal nasi putih dan minum segelas air putih. Ingat, rokok dan yang lain-lain enggak boleh yah,” paparnya panjang lebar.

“Tiap tengah malam, mantra tersebut harus dibaca sebanyak sembilan kali dengan tahan napas. Pada bacaan terakhir, kedua telapak tangan ada di depan mulut, kemudian hembuskan dan sapukan ke seluruh tubuh,” lanjutnya lagi.

“Mantranya sengaja gua ilangin satu baris biar enggak dipake buat ngisengin perempuan,” sambungnya lagi sambil membacakan mantra pelet kirim mimpi basah;

salinmata kuliah daya,
sehermani mustika mani,
mari meniti si urat sani,
….
abasah… abasah … cinte,
berahilah si dia (nama) kepadaku,
berkat doaku lailahaillallahmuhammadarrasulullah.

Singkat kata, lepas wisuda, Dian dan Yanti pun menikah. Ketika melewati malam pertama, Yanti terkejut. Betapa tidak, ternyata ia masih gadis. Ketika hal itu ditanyakan kepada suaminya, Dian pun hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Dian lebih memilih diam. Yang pasti, keduanya sepakat untuk bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *