Perempuan Bahu Laweyan

Siapa pun tak ada yang bisa menepis, kehidupan Jakarta, mampu mengubah orang yang pemalu, rendah diri dan jarang bicara menjadi sosok yang ceria dengan pergaulan bak sosialita ….

Oleh: Esthi Yuliani.

Neomisteri – Kali ini neomisteri tergolong beruntung. Betapa tidak, salah seorang sahabat menceritakan kekelaman perjalanan hidup seorang perempuan yang tinggal di sebelah rumahnya yang baru saja menerima ujian hidup, ditinggal orang tercinta yang baru tujuh bulan menikahinya. Dan ini bukan kali pertama, namun untuk kedua kalinya.

Dengan kata lain, perempuan itu telah tiga kali menikah dan selalu berakhir dengan kematian bagi pasangannya.

Izza (37 tahun) demikian panggilan dari sosok yang sejatinya menyandang nama Sutijah. Di kampung halamannya yang terletak di pinggiran laut Jawa, ia lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang jauh dari kata cukup. Ayahnya bekerja serabutan, sementara, sang ibu bekerja sebagai buruh cuci — beruntung, ia memiliki otak yang encer. Beasiswa pun selalu didapat hingga ia menyelesaikan sekolahnya sampai SMA.

Di sekolah, walau cerdas, namun, Ijah dikenal sebagai sosok yang pendiam, pemalu dan rendah diri. Oleh karena itu, tak heran, ia tak memiliki banyak teman.

Lepas SMA, tanpa banyak berpikir, ia langsung meminta izin dan restu kepada kedua orang tuanya untuk mengadu nasib di Jakarta. Tujuannya hanya satu, ke rumah Paklik (Paman-pen) Giman, adik bungsu ayahnya yang bekerja sebagai sopir di perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan barang-barang impor, khsususnya boneka.

Beruntung, tidak sampai dua bulan, ia sudah diterima bekerja sebagai staf marketing di perusahaan tempat sang paman bekerja. Gajinya yang tidak seberapa, selain dikirim ke kampung untuk membantu meringankan beban keluarga, juga ditabung untuk biaya kuliahnya. Ia bertekad untuk mengangkat derajat keluarganya ….

Menjelang akhir tahun, ia pun diterima di Fakultas Ekonomi pada salah satu perguruan tinggi yang ada di bilangan Jakarta Barat.

Pak Arton, direktur marketing ternyata menaruh simpati. Ia bahkan mulai diberi kesempatan untuk membuka out let di kota-kota besar di Jawa. Kini, ia benar-benar berubah. Sosok yang mulanya pendiam, pemalu dan rendah diri, kini benar-benar mulai menunjukkan kemampuannya.

Semua teman kantor menaruh hormat kepada Izza. Maklum, ia tetap menyapa dengan santun siapa pun yang ditemuinya. Oleh sebab itu, semua mendukung ketika dirinya diangkat menjadi direktur marketing menggantikan Pak Arton yang pensiun.

Kebahagiaan sang paman dan keluarga di kampung halamannya terasa kian lengkap ketika ia berhasil menyabet gelar sarjana dengan predikat cum, laude dari kampusnya.

Rumah di tepian Laut Jawa yang semula berdinding bambu dan beratap seng serta plastik telah berubah menjadi rumah yang benar-benar layak huni. Bahkan, walau kecil, namun, Izza pun sudah memiliki rumah sendiri.

Pada suatu hari, Izza kedatangan Anto, teman kuliahnya. Hatinya gelisah. Maklum diam-diam ia menaruh hati kepada lelaki yang merupakan anak tunggal dan terlahir dari keluarga yang kaya raya. Setelah sejenak saling menanyakan kabar dan meminum teh serta mencicipi makanan yang disediakan di teras rumahnya, Anto dengan tenang mengutarakan perasaan hatinya. Izza terdiam. Ia kaget dan tak menyangka Anto bakal mengutarakan niatnya.

Ia tak mampu menjawab selain hanya mengangguk. Air mata bahagia pun mengalir ….

Beberapa hari kemudian, ketika diperkenalkan dengan kedua orang tua Anto, ternyata, secara hampir bersamaan, ayah dan ibu Anto pun berkata; “Segera saja menikah. Tunggu apa lagi, semua hari baik”.

Hal senada juga terucap dari mulut kedua orang tua Izza di kampung.

Singkat kata, dalam waktu yang tak begitu lama, pesta pernikahan keduanya pun digelar dengan megah. Semua yang datang memberi restu dan doa semoga keduanya segera mendapatklan momongan. Bulan madu dilewati keduanya di Pulau Bali.

Hari terus berganti, tak terasa, dua bulan sudah mereka mengayuh biduk rumah tangga. Pada suatu malam, usai melakukan hubungan badan, mendadak Anto terkulai lesu. Napasnya tersengal … Izza segera menelepon kedua orang mertuanya dan membawa Anto ke dokter.

“Suami ibu harus segera dirawat”, kata dokter singkat sambil memberikan surat rujukan.

Izza pun sigap. Ia langsung memapah Anto ke mobil dan membawanya ke rumah sakit, sementara, kedua mertuanya mengikuti.

Kedua orang tua Anto hanya bisa saling pandang dan sesekali menghela napas panjang. Keduanya tahu tepat, selama ini Anto sehat dan tak perneh mengeluhkan sakit apapun. Belum genap sepuluh hari dirawat, Anto pun menghembuskan napas yang terakhir tanpa meninggalkan pesan apapun.

Rasa duka yang mendalam menggayuti Izza demikian juga keluarga besar Anto.

Walau telah dianggap seperti anak sendiri, namun, Izza bertekad untuk menjual segenap harta benda milik mendiang suaminya untuk disumbangkan kepada yang lebih berhak untuk menerimanya.

Menjelang pertengahan tahun ketiga menjadi janda, Izza kembali bertemu dengan lelaki yang mampu mencairkan kebekuan hatinya. Hasan, demikian sebutan lelaki yang selalu bertemu di salah satu tempat jajan pada saat makan siang. Sejak membina hubungan dengan Hasan, keceriaan Izza kembali pulih. Oleh sebab itu, hampir semua teman mendorongnya untuk segera menikah.

Tepat tiga tahun setelah kematian Anto, Izza pun menikah dengan Hasan. Pesta pernikahan digelar dengan sederhana. Hanya keluarga dan sahabat terdekat yang diundang. Walau begitu, suasana pesta terasa hangat.

Sejak itu, Hasan pun tinggal bersama dengan Izza.

Hari terus berganti, tujuh bulan keduanya sudah hidup bersama dan menikmati manisnya madu cinta. Hampir sama dengan Anto, seusai merasakan kelelahan akibat menikmati curahan lahar yang membuncah, mendadak, Hasan pun tertidur dengan lelap.

Izza tersenyum sambil menatap wajah yang suami yang tampak amat kelelahan.

Paginya, saat Izza membangunkan suaminya untuk mandi dan mendirikan Salat Subuh, tubuh Hasan sudah dingin membeku.

Jeritan Izza pun langsung memecah keheningan pagi. Para tetangga berdatangan. Mereka mendapati tubuh Hasan yang sudah dingin dan membiru. “Rasanya, Bang Hasan terkena serangan jantung”, demikian kilah salah seorang tetangga.

Izza benar-benar terpukul. Sudah dua kali ia mengalami cobaan yang benar-benar berat. Ditinggal oleh sang suami untuk selama-lamanya ….

Sejak kejadian itu, hati Izza pun langsung saja membeku. Ia takut jika lelaki yang dicintai bakal mengalami nasib yang serupa sebagaimana dua suaminya yang terdahulu.

Namun Tuhan berkehendak lain. Tujuh tahun kemudian, ketika pulang ke kampung halamannya, ia bertemu dengan Tono, teman kecilnya yang tergolong nakal yang sengaja kembali untuk membangun kampung halamannya.

Izza bahkan tak pernah menyangka, Tono yang mulanya selalu berkumpul dengan para pemabuk, peminum dan penjudi, kini, mampu memberikan pencerahan terhadap pelbagai hal, apalagi, agama Islam.

Pada suatu hari, ketika keduanya berjalan menyusuri hutan bakau sambil melihat tambak milik ayahnya; Tono pun bercerita; “Waktu dikejar warga karena ketahuan menjambret, aku lari ke pesantren. Aku dirawat sama Mbah Kyai, di situ akhirnya aku belajar bertani, beternak ikan dan ayam serta ilmu agama”.

“Lha … di Jakarta bekerja? Sudah berkeluarga?” Lanjutnya balik bertanya.

Izza pun menceritakan peristiwa yang dialaminya. Tono pun mendengarkan. Tak pernah sekalipun ia menyela kata-kata yang meluncur dari mulut Izza. Saat Izza mengusap air matanya, Tono pun baru berani berkata dengan lirih; “Itu semua cobaan. Tapi tidak salah jika kita berani memulainya lagi”.

“Maksudnya?” Potong Izza.

“Bersediakah Izza menjadi isteri dan ibu dari anak-anak kita?” Kata Tono terputus-putus.

Izza tidak menyahut kecuali menghela napas panjang dan menghembuskannya sambil berjalan kembali ke rumahnya. Ia benar-benar galau. Dalam sepuluh tahun, ia sudah dua kali menikah dan dua kali pula ditinggal untuk selamanya oleh suami tercintanya. Ia tidak ingin, Tono bakal mengalami hal yang serupa, sementara, masyarakat desa sangat tergantung kepada pemikirannya.

Hampir setahun Izza menimbang-nimbang sebelum akhirnya menyatakan setuju.

Keduanya menikah dengan sangat sederhana. Izza sengaja menyembunyikan pernikahannya kali ini. Ia tidak ingin mendapatkan julukan dewi kematian bagi suami.

Malamnya, usai melakukan olah asmara, keduanya pun tertidur dengan lelap. Tepat pukul 01.00, seperti biasa, Tono selalu terbangun untuk mendirikan salat malam.

Usai mandi junub, ia pun langsung mendirikan salat dan diakhiri dengan duduk bersimpuh untuk mengamalkan wirid agar hidup dan kehidupannya selalu mendapatkan tuntunan dan perlindungan dari Allah.

Tepat malam ketujuh, di tengah-tengah kekhusyukannya, dari celah di antara dua pangkal paha istrinya berpendar warna merah yang pelan-pelan membesar dan menyilaukan. Sesaat Tono terdiam. Akhirnya, setelah mengucapkan kebesaran nama Allah, ia pun mewiridkan Hizib Nawawy. Tak lama kemudian, warna merah yang menyilaukan itu meredup ….

Anehnya, ia melihat seekor kalajengking hitam legam keluar dari kemaluan dan berjalan di antara kedua paha istrinya. Dengan tenang, Tono langsung mengambil stoples kecil bekas tempat makanan yang ada di samping tempat tidurnya, kemudian menangkap dan memasukkan binatang itu ke dalam stoples dan kembali menutupnya. Setelah itu, Tono kembali tenggelam dalam wirid sambil menunggu waktu Subuh tiba sambil menceritakan apa yang dialaminya kepada istrinya.

Izza hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh suaminya. Yang pasti, kini, Izza mulai mengandung anak pertamanya dengan Tono. Ia tak lagi menjadi perempuan bahu laweyan. Dan ia pun kembali ke Jakarta untuk bekerja dan tak lupa menceritakan pengalamannya kepada sahabat neomisteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *