Misteri Hutan Larangan

Apakah ada hubungan dengan terbunuhnya Tuan Sakoci, salah satu Pegawai Pemerintah Hindia Belanda di tangan Ki Tambaga, yang pasti, sampai sekarang, kawasan ini menjadi daerah terlarang bagi para pejabat ….
Oleh: Galih Tri

 

Neomisteri – Gaes, cerita ini gue dapat dari Bayu, salah seorang sohib waktu SMA yang berasal dari Desa Kesugihan, Cilacap. Katanya, sampe sekarang, daerah Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, punya beberapa tempat yang masih berkabut misteri. Misalnya saja Hutan Larangan dan Bukit Awi Ngambang yang terletak di Desa Hanum.

Neomisteri tertarik untuk menelisik karena banyak nama-nama daerah atau pamali di Nusantara, bertalian erat dengan sejarah atau kejadian masa lalu yang sampai sekarang bahkan tanpa sadar masih terlestarikan dengan baik.

Baca: Menguak Tabir Gaib Gua Gembul

Alkisah, pada zaman dulu, salah seorang pegawai Pemerintah Hindia Belanda yang bernama Tuan Sakoci, mendapatkan tugas melakukan eksplorasi untuk mencari minyak bumi di perbukitan Awi Ngambang. Jangankan sumber minyak, Ki Tambaga, salah seorang tokoh masyarakat malahan berhasil menjebak Tuan Sakoci dan membawanya ke hutan larangan.

Penunggu gaib hutan larangan bak mendapat permainan yang mengasyikkan. Mereka membuat Tuan Sakoci enggak pernah bisa menemukan jalan keluar. Alhasil, karena kelaparan dan rasa panik, Tuan Sakoci pun meninggal dan oleh Ki Tambaga dimakamkan di hutan larangan.

Ki Tambaga sadar, sejak itu, ia menjadi buronan Pemerintah Hindia Belanda. Sebagai orang yang dituakan, Ki Tembaga lebih memilih tinggal di daerah perbukitan itu hingga akhir hayatnya. Oleh sebab itu, sampai sekarang, tak ada seorang pejabat pun berani menginjakkan kakinya di tempat ini. Taruhannya demikian mahal, sebab, dalam waktu singkat jabatan yang diembannya bakal rontok.

Menurut banyak orang, sampai sekarang, makam Tuan Sekoci masih menyisakan bebatuan di hutan milik Perhutani, sementara, makam Ki Tambaga telah rata dengan tanah — tak ada yang tahu tepat di mana letak makamnya — mungkin, di antara kebun-kebun milik penduduk sekitar.

Kenyataan di atas ternyata berbeda dengan keterangan penduduk yang sudah beberapa generasi mendiami tempat itu. “Sebenarnya, daerah Larangan sudah ada sejak Kerajaan Galuh berjaya,” demikian ungkap Suripno (46 tahun).

Baca: Kesaktian Mbah Kuwu Sangkan

“Raja yang berkuasa di waktu itu memerintahkan agar Dewi Naganingrum dibunuh. Tapi apa daya, rasa iba membuat Patih Purawesi dan Jaksa Puragading sengaja menyembunyikan Dewi Naganingrum di tempat itu,” imbuh Suripno.

“Alhasil, untuk menjaga kerahasiaan, maka sejak peristiwa itu, daerah ini disebut sebagai daerah larangan,” pungkasnya.

Neomisteri coba menelisik lebih jauh tentang daerah Awingambang (bambu yang mengambang-red) — ternyata, daerah ini bertalian erat dengan ramalan dari seorang pertapa sakti yang menyatakan — pada suatu saat, Lembah Tari Kolot (Dayeuh Luhur sekarang) bakal menjadi sebuah danau yang besar akibat dari terbendungnya Sungai Cibaganjing. Saat itu, maka seluruh masyarakat yang mukim di sekitarnya bakal menyelamatkan diri dengan membuat rakit dari bambu atau “awingambang”.

Demikian gaes, semoga catatan ringan ini dapat menambah wawasan kita semua.

Baca juga:
2 Singa Betina Banten Penentang Belanda
Ekspedisi Pawon Sewu, Membuka Tabir Sejarah Masa Lalu
Teke Teke, Urban Legend Menyeramkan dari Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *