Takluk Berkat Serapah Batu Betangkop

Ardi baru tersadar ketika jalan di depannya buntu. Sementara di kiri dan kanannya merupakan lahan kosong yang ditumbuhi semak dan ilalang dan penumpangnya menekan punggungnya dengan pisau sambil mengeluarkan ancaman….
Oleh: Ibrahim

 

Neomisteri – Sebagai anak rantau, ia benar-benar belum paham jalan-jalan di sekitar Jakarta. Namun tekadnya sudah bulat, ia ingin membuktikan bahwa dirinya dapat mandiri sekaligus menunjukkan kepada kedua orang tua dan kedua adiknya di kampung halamannya tak perlu takut merantau jika kita mau bekerja keras.

Sejatinya, ia tak perlu bersusah payah mencari uang karena keluarganya di Banjarmasin tergolong orang yang berada, namun, karena merasa sudah dewasa, maka, ia sengaja bergabung dalam salah satu “ojol” untuk sekadar menambah wawasan dan mencari pengalaman hidup ….

Sebagai mahasiswa baru di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta, sudah barang tentu, ia hanya bisa meluangkan waktu di tengah-tengah waktunya yang kosong. Walau belum begitu mengenal lika-liku jalan di Jakarta, ia tetap percaya diri.

Andalannya tak lain adalah Google Map. Selain itu, kesantunan dan pengakuan tulusnya kepada setiap penumpang agar memandu jika mengetahui jalan pintas dan aman, membuatnya praktis tidak pernah kerepotan.

Bahkan banyak penumpang yang simpati atas perjuangannya kemudian menyerahkan uang sisa pembayaran kepadanya sambil berpesan; “Tolong diterima, semoga dapat bermanfaat.”

Ardi, demikian sapaan dari Ardiansyah pun tersenyum sambil mengucapkan; “Terima kasih Bapak atau Ibu, sukses dan sehat selalu.”

Hari terus berlalu, dan Ardi pun berkubang dengan sejuta kesibukan. Mulai belajar bersama, kuliah, sampai rapat-rapat himpunan, bahkan oraganisasi ekstra kampus. Ia telah bertekad untuk kelak kembali ke kampung halamannya dengan membawa sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya.

Agaknya, itulah yang menyebabkan kenapa hampir satu kampus mengenalnya dengan baik. Setiap datang dan duduk di kantin sambil menyesap kopi hitam dan menghisap rokok, tak lama kemudian, ia pasti sudah dikerumuni oleh banyak temannya. Mereka berbincang berbagai hal, mulai mata kuliah, tugas, bahkan diskusi tentang keadaan negara.

Menginjak bulan ketujuh, selepas UAS, ketika sebagian besar mahasiswa sibuk pulang ke kampung halamannya masing-masing, Ardi malah mengambil kesempatan itu untuk bekerja sekaligus lebih menghafal lika-liku jalan di Jabodetabek.

Pernah sekali, Ardi mengantarkan penumpang yang rumahnya harus melewati tengah-tengah TPU (Tempat Pemakaman Umum) dan si penumpang mendadak turun dan lari di tengah-tengah kegelapan malam tanpa membayarnya.

Mendapati hal itu, Ardi hanya mengelus dada sambil berkata; “Sebetulnya si Abang tidak perlu lari. Cukup bilang tak punya uang, maka, aku juga ikhlas.”

Ketika ia menceritakan peristiwa yang dialaminya di kantin kampus, semua teman-temannya berkata hampir bersamaan; “Hati-hati Bro, jangan-jangan itu orang naksir sama motor lu.”

loading...

Sejenak Ardi tertegun. Hati kecilnya membenarkan kata-kata temannya itu. “Baik, lain kali gua hati-hati. Enggak semua penumpang gua ambil,” katanya sambil mengingatkan bahwa sudah waktunya masuk kelas.

Semuanya langsung saja bubar dan berjalan menuju ke kelas….

Beberapa hari kemudian, Ardi kembali mengantarkan penumpangnya ke tempat ia ditinggalkan. Ya… Begitu memasuki TPU, Ardi sudah merasakan punggungnya seperti tertusuk oloeh sesuatu yang dingin dan tajam. Sementara, si penumpang dengan alasan mengantuk, memeluknya dengan erat.

Ardi yang mulai waspada, segera menurunkan kecepatan. Dan benar, tak lama kemudian terdengar suara menghardik di belakangnya; “Berhenti … turun, serahin motor lu!”

Ardi pun turun sambil memasang standar motornya dan berkata: “Apa maksud Abang?”

“Jangan banyak bacot, minggir …!” Kata si penumpang sambil menodongkan pisaunya.

Ardi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, terdengar katanya; “Lebih baik Abang menyerah dan pergi dari sini. Sekali ini gua ampunin. Lain kali, Abang enggak bakal selamat kalau ketemu gua. Pergiiii!”

Ajaib, si penumpang yang berwajah sangar dan bertubuh lebih besar dari Ardi mendadak berjongkok sambil berkata dengan nada mengiba; “Iya, gua pergi. Ampun….”

“Pergi…!” Bentak Ardi sambil menunjuk ke arah pemakaman.

“Iya…,” jawab si lelaki sambil beringsut kemudian lari sekencang-kencangnya dan hilang di tengah kegelapan malam.

Ketika Ardi menceritakan peristiwa yang dialaminya di kantin kampus, kembali, semua temannya mengatakan; “Untung Bro penjahatnya lari. Kalo enggak, nyawa sama motor lu yang raib.”

Neomisteri yang sejak semula hanya mendengarkan, kemudian memperkenalkan diri dan meminta Ardi agar jujur menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sambil tersenyum, Ardi pun bercerita bahwa ia mendapatkan amalan dari keluarganya untuk menaklukkan musuh; Serapah Batu Betangkop.

Cara mengamalkannya adalah puasa selama tujuh hari, dan tiap tengah malam membaca serapah (amalan) tersebut sebanyak tujuh belas kali di luar rumah yang tidak tertutup oleh benda buatan manusia.

“Hanya itu?” Tanya neomisteri.

“Betul… Akan menjadi lebih tajam bila si pengamal tidak meninggalkan salat lima waktu. Tiap usai salat, cukup baca amalan tersebut tiga kali saja,” jawabnya sambil memberikan kertas bertuliskan Serapah atau Ajian Batu Betangkop pada neomisteri.

Bismillahirrahmaanirrahiim
Batu belah batu betangkop,
Betangkop di ujung bumi,
Harimau Allah sedangkan takot,
Mendengar suaraku yang berbunyi,
Akulah Sayyidina Ali,
Berkat Doe Lailahaillallah Muhammadarrasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *