Doa Mujarab Pembuka Pintu Rezeki

Sudah jatuh tertimpa tangga, demikian kata yang paling tepat untuk disematkan kepada Yanto, maklum, akibat nekat berutang secara online, akibatnya, ia pun jatuh miskin bahkan nyaris tinggal di kolong jembatan ….
oleh: Hanafi

Neomisteri – Tak dapat dipungkiri, hidup dan kehidupan di Jakarta benar-benar luar biasa berat. Betapa tidak, jika tidak kuat iman, maka, dapat dipastikan ia akan terjerumus ke dalam jurang kemiskinan bahkan kenistaan.

Hal tersebut dialami oleh Yanto, ayah satu anak ini terpaksa bekerja siang malam untuk melunasi utang online yang setiap hari bunganya terus saja membengkak bahkan mulai menggunung. Mulanya, akibat ingin membahagiakan sang buah hati dengan pelbagai jenis mainan, ia pun nekat berutang tanpa jaminan apapun kecuali foto diri dan KTP lewat media online.

Utang pertama dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Karena merasa mampu, Yanto pun gelap mata. Ia meminjam sampai Rp. 15 juta. Tapi apa daya, ketika ia menunggak angsuran sampai sepuluh hari tiap bulan berjalan, SMS yang berisikan kata-kata kuirang senonoh pun tersebar ke seluruh keluarga bahkan ke salah satu pimpinan di perusahaan tempat ia bekerja.

Akibatnya sudah bisa kita duga bersama, karena malu yang teramat sangat, Yanto pun langsung saja mengundurkan diri.

Ia langsung menjual motornya. Tapi, itu juga belum bisa menutup utangnya. Boleh dikata, tiap hari, bunga utangnya terus saja berbunga ….

Di tengah-tengah kegalauan, pada saat salat Tahajud, mendadak, ia seolah melihat Mbah Mungin menggeleng-gelengkan kepala sambil sesekali menarik napas berat.

Air mata pun mengalir deras membasahi [pipinya. Ia teringat pesan Mbah Mungin sebelum berangkat ke Jakarta; “Aku merestui, hanya satu, jaga kehormatan dan nama baik keluargamu. Baik-baik menjaga diri dan jangan sekali-kali berutang, karena akan memberatkan pikiranmu”.

“Aku berdosa … aku harus balik ke kampung untuk meminta maaf dan petunjuk dari Mbah Mungin”, demikian bisiknya.

Usai mendirikan salat Subuh, dengan bekal apa adanya, ia pun pamit kepada istri sambil menciumi anaknya yang masih tertidur.

“Doakan bapak ya”, demikian katanya sambil mencium kening si bocah.

Singkat kata, menjelang waktu Asar, ia pun tiba di kampung halamannya dan langsung menuju ke rumah Mbah Mungin — laki paruh baya, tempat ia menimba ilmu agama — yang sudah dianggap sebagai pengganti ayahnya yang telah berpulang sejak ia masih kecil.

Mbah Mungin yang kala itu sedang menuju ke Musala di sebelah rumahnya, tampak terkejut melihat kedatangan Yanto. Setelah menjawab uluk salam, ia pun mengangsurkan tangannya untuk dijabat dan dicium Yanto sebagai penghormatan kepada yang lebih tua sambil berkata; “Ayo sekalian Asar, waktunya sudah masuk”.

Setelah berwudu, Yanto pun masuk dan mengumandangkan Azan — setelah beberapa saat melantunkan salawatan, Yanto pun kembali berdiri untuk Iqamat disusul dengan Mbah Mungin berjalan ke depan untuk memimpin salat Asar.

Usai itu, ketika semua jamaah telah kembali, Yanto langsung saja menubruk Mbah Mungin dan menangis sejadi-jadinya di pangkuan lelaki paruh baya itu. Seolah mafhum, Mbah Mungin pun langsung berkata; “Jadikan itu semua sebagai pelajaran yang berharga. Jangan sekali-kali lagi mengulanginya”.

“Dan mulai sekarang, amalkan doa ini usai mendirikan salat Jumat, maka, Allah akan membayarkan segala utang dan menjadikan hambanya berkecukupan. Bahkan sebagian ulama berpendapat, jika menjadikan doa ini sebagai amalan usai salat fardu, maka, Allah akan menjadikannya sebagai hamba yang berkecukupan”, terang Mbah Mungin.

“Adapun doanya adalah sebagai berikut;

Allāhumma yā ganiyyu yā ḥamīdu yāmubi‟u yamu‟īdu yā raḥīmu yā wadūdu yā agninī buḥalālika „an ḥarāmika wakfinī bifaḍlika „amman ṣiwāka waṣallallāhu „alā sayyidinā muḥammadin wa ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam.

Yanto hanya bisa bersujud di pangkuan Mbah Mungin dan mohon diri.

“Baik … segera kembali. Istri dan anakmu menunggu. Terimalah ini sebagai bekalmu di perjalanan dan sekadar oleh-oleh buat cucuku”, katanya sambil mengambil amplop putih dari bawah sajadah tempat ia duduk.

Tanpa membuang waktu, Yanto pun kembali ke Jakarta.

Waktu terus berjalan, SMS yang berisikan peringatan agar ia membayar utang ditambah dengan makian, selalu dijawabnya dengan santun. Pada hari ke dua puluh, ia bahkan istrinya tak pernah menyangka jika burung Murai Batu yang sudah lama dipelihara itu mendadak ditawar oleh seseorang dengan harga yang fantastis, Rp. 40 juta.

Yanto langsung saja mengangguk tanda setuju. Setelah menerima pembayaran, Yanto segera ke bank terdekat untuk melakukan transfer. Sejak itu, utangnya pun lunas, bahkan, ia masih memiliki kelebihan sekitar Rp. 2 juta.

Kini, dengan terus mengamalkan doa yang diberikan oleh Mbah Mungin pada setiap salat fardu dan sunah, Yanto pun hidup berkecukupan.

Pada kesempatan ini, ia berpesan kepada neomisteri agar menuliskan ceritanya secara utuh agar dapat dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya — dan yang paing utama adalah terus mendekatkan diri kepada Allah dan hanya kepada-Nya lah kita meminta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *