Tuyul Alas Kucur

Jalma mara jalma mati, setan mara setan mati, sato mara sato mati, manungsa mara manungsa mati, demikian penggambaran keangkeran Alas Kucur baik siang apalagi malam hari ….
oleh: Bram Putradewa

 

Neomisteri – Menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah atau titik pusat hutan nan angker itu terdapat sebuah sendang (telaga) yang bernama Sendang Kucur. Namun siapa sangka, hutan berupa perbukitan yang masuk wilayah Paseban, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, memiliki keangkeran yang amat luar biasa.

Terjadinya Sendang Kucur bermula dari Ki Ageng Pandanaran yang kala itu sedang mengembara bersama istrinya yang bernama Nyai Kali Wungu, tiba di hutan lebat yang tak berpenghuni.

Kala itu, mendadak sang istri merasa haus yang teramat sangat. Setelah mencari kian kemari namun tak jua menemukan sumber air, akhirnya Ki Ageng Pandanaran menggoreskan kukunya yang tajam ke tanah. Keajaiban pun terjadi, dari bekas goresan kuku itu memancar air yang kian lama kian besar hingga membentuk genangan.

Ki Ageng Pandanaran langsung saja mengambil airnya untuk minum Nyai Kali Wungu. Untuk mengabadikan peristiwa itu, maka genangan air yang lama kelamaan menjadi sendang atau telaga itu diberi nama Sendang Kucur — dari kata Ku (kuku) dan (man) Cur atau memancar.

“Pada suatu zaman, nanti, tempat ini bakal digunakan untuk berkumpul para lelembut Tanah Jawa Tengah. Lelembut yang ada di tempat ini baru boleh diambil jika manusia telah memenuhi seluruh permukaan bumi,” demikian pesan Ki Ageng Pandanaran.

Saat neomisteri coba menelisik lewat beberapa warga yang kebetulan mafhum akan keberadaan lelembut Alas Kucur, salah seorang di antaranya menyatakan; “Dari sekian banyak lelembut yang ada di sana, yang paling banyak dicari adalah tuyul.”

“Hanya saja, tuyul dari Alas Kucur berbeda dengan yang lainnya. Tuyul dari sini selalu berpasangan, lelaki dan perempuan. Selain itu, dapat dikembalikan jika tuyul tersebut malas atau si pengasuh sudah merasa cukup,” lanjutnya lagi.

“Yang penting, tiap hari si pengasuh harus memerintahkan sepasang tuyul peliharaannya untuk beroperasi di rumah, atau pasar yang tertentu. Begitulah yang harus dilakukan oleh si pengasuh tuyul. Dengan kata lain, si pengasuh harus tahu tepat tempat-tempat yang bakal jadi target sasaran dari sepasang tuyul peliharaannya,” katanya panjang lebar.

“Beda lainnya adalah, tiap selesai beroperasi, maka si tuyul akan menyerahkan langsung ke tangan pengasuhnya. Mirip karyawan yang menyerahkan hasil kerja ke pimpinannya,” imbuhnya lagi.

“Tumbalnya?” Potong neomisteri cepat.

“Rasanya tidak ada,” jawab lelaki paruh baya yang mengaku bernama Suraji (55 tahun). “Namun yang pasti, si pengasuh tetap saja menanggung dosa yang tidak ringan karena tuyul peliharaannya mencuri milik orang lain,” tambahnya.

“Lalu, apakah tiap orang bisa menjadi pengasuh sepasang tuyul itu?”

“Bisa, asalkan punya keberanian untuk masuk ke Alas Kucur yang angkernya keliwat-liwat. Alih-alih malam, siang saja hanya orang tertentu yang berani masuk ke Alas Kucur,” jawab Suraji dengan wajah serius.

Setelah menghisap rokoknya dalam-dalam, lelaki paruh baya itu kembali menerangjelaskan; selain dua buah kendi dan ubo rampe (pelbagai jenis sarana ritual-pen), sayang ia lupa apa saja jenisnya, setibanya di mata air, si calon pengasuh harus menata ubo rampenya dengan rapi dan membakar dupa.

Sebagaimana lazimnya anak-anak di dunia nyata, sepasang tuyul ternyata juga memilih calon pengasuhnya dengan teliti dan saksama. Jika sudah terasa cocok, maka sepasang tuyul itu akan menampakkan diri dan langsung masuk ke dalam dua buah kendi yang tadi telah dipersiapkan.

Pada saat itulah, si pengasuh harus menutup kendinya dan langsung pulang ke rumahnya. Ingat, jangan singgah kemana-mana. Bila singgah, maka tuyul itu akan hilang dengan sendirinya.

Setibanya di rumah, si pengasuh harus kembali melakukan ritual serta menyiapkan ubo rampe berupa kembang setaman, jeroan ayam, pupus (daun muda-pen) pisang raja, mangkok kecil berisi air ditaburi kembang setaman dan menyalakan lampu minyak tepat pukul 18.00, maka tutup kendi pun harus dibuka.

Ingat, harus tepat pukul 18.00, tidak boleh lebih atau kurang, karena saat itu merupakan waktu yang sangat disenangi kaum lelembut untuk berkumpul dengan sesamanya.

Selain itu, di rumahnya, si pengasuh harus menyiapkan ruang khusus yang berisi bangku bambu, dua helai tikar pandan dan dua buah bantal yang kesemuanya berukuran kecil dengan tujuan untuk memanjakan tuyul peliharaannya.

Ketika neomisteri menanyakan perihal tuyul yang bisa dikembalikan karena malas atau karena sudah dianggap cukup, maka, Suraji pun menyahut dengan hati-hati;

“Tidak ada pekerjaan yang tidak mempunyai risiko. Semua pasti ada konsekuensinya. Begitu juga mengasuh tuyul Alas Kucur …”

“Adakah contohnya?” Desak neomisteri penasaran.

“Walau putra dan putrinya berhasil menjadi sarjana, akhirnya, setelah setahun mengembalikan sepasang tuyul ke asalnya, Alas Kucur, si bapak pun mulai didera oleh penyakit yang beragam dan berkepanjangan,” jelasnya.

“Alhasil, harta yang didapat secara tidak wajar itu pun habis. Ludes tanpa bekas”, imbuhnya menerangkan.

“Bagaimana dengan istri dan kedua anaknya?” Tanya neomisteri.

“Mereka baik-baik saja. Dengan kata lain, dalam hal ini, si pengasuhlah yang paling bertanggungjawab,” pungkasnya.

Walau tak ada tumbal, namun, selain keberanian untuk memasuki Alas Kucur, tanggung jawab atas pencurian yang dilakukan pasti bakal mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *