Liburan Seram di Yogyakarta

Neomisteri – Tahun 2018, aku bersama sepupuku liburan ke Yogyakarta. Sepupuku yang pertama sebut saja Reza dan istrinya Shella. Dan yang kedua, Dinda dengan suaminya Bagas. Kami memesan 3 kamar selama di Yogyakarta untuk 2 hari

Aku bukan anak indigo. Tapi seringkali bisa merasakan keberadaan ‘mereka’. Sekitar jam 2 siang kami tiba di Yogyakarta. Kami segera bergegas mencari penginapan yang sudah kami pesan. Tempatnya masih di sekitaran Malioboro, sebutlah Hotel Z.

Dari Resepsionis, kami diantar menuju kamar untuk istirahat. Suasana saat itu sepi dan minim aktivitas. Reza sempat bertanya, “Laras, yakin berani sendirian di kamar? “Beranilah, ngapain takut,” kataku.

Akhirnya kami memasuki kamar masing-masing. Kamarku sendiri berada diujung lorong. Saat di kamar, aku beresin pakaian dan mandi karena hari itu cuaca lumayan panas. Dari awal kedatanganku ke tempat ini, aku sudah ngerasa engggak enak banget.

Sore hari, kami berlima jalan-jalan ke sekitaran Malioboro sampai menjelang Maghrib. Saat Nonton TV, tiba tiba TV mati sendiri. Aku masih berpikir positif, mungkin baterenya habis.

Kemudian aku telpon resepsionis. “Halo mbak, kamar nomor 10, remote TV-nya sepertinya habis. Atau TV-nya yang rusak? Karena sudah 2 kali,” kataku.

Tidak lama, terdengar suara percikan air dari wastafel kamar mandi. Segera kuhampiri. Saat itu aku mulai merasakan keberadaan ‘mereka yang tak terlihat’.

Pihak hotel mengetuk kamarku, mengecek TV dan kamar mandi. Setelah selesai, mereka pun segera pamit. Lalu pandangan mataku tertuju di satu sudut ruangan. Posisinya persis di jendela samping TV.

Entah aku tak terlalu memikirkan apa itu. Saat itu aku hanya ingin memejamkan mata karena badan sudah capek sekali. Tapi aku merasa ada yang tengah mengamatiku. Tapi apa dan siapa?

Kamarku terasa panas dan pengap. Aku ingin telpon sepupuku saat itu juga, tapi enggak enak hati karena sudah jam 11 malam. Namun akhirnya aku telpon teman untuk menemaniku sampai jam 2 pagi.

Alhamdulillah aku bisa tertidur. Walaupun saat tidur, aku mendengar suara bising dan banyak sekali orang orang yang tertawa seperti di tengah keramaian.

Pagi tiba. “Laras, sudah Subuh, bangun, Sholat dulu,” Dinda mengetuk pintu kamarku. Hape ku mati total saat aku terlelap. Segera aku bangun dan mandi. Aku belum memperhatikan sekitar kamarku

Jam 6 pagi, Kak Shella dan Dinda masuk kamarku. Mereka terperanjat, “Ras, ini rambut siapa kok banyak banget?” Kata kak Shella.

“Haah… Masa?! Rambutku enggak rontok kak sebanyak ini. Masa sampe berjatuhan di lantai,” kataku. Segera kuambil sapu untuk dibersihkan.

Saat sarapan pagi, aku sempat termenung dan menanyakan ke mereka apakah semalam ada suara berisik. Mereka semua menjawab bahwa semalam sepi enggak terdengar suara berisik. Lalu kuceritakan kejadian semalam yang terjadi denganku.

Sebelum berangkat untuk jalan-jalan mengitari Yogyakarta, pihak hotel memastikan apakah aku ingin pindah kamar? Aku jawab enggak usah, tanggung tinggal 1 hari lagi.

Seharian kami jalan-jalan, belanja oleh-oleh dan makan di tempat yang Bagas rekomendasikan. Jam 7 malam, kami sampai di penginapan. Nyaliku saat itu sudah agak ciut untuk melangkah masuk ke kamar.

Tanpa sengaja aku melihat siluet di dalam kamar. Dan entah apa itu aku enggak menghiraukannya. Kemudian kak Shella menelponku jam 9 malam.

loading...

“Ras, kamu mau ikut denganku dan suami? Kita mau ke angkringan di Malioboro. Aku belum ngantuk soalnya.”

“Boleh kak. Sebentar yah, aku siap-siap,” kataku.

Kak Shella dan kak Reza mengetuk pintu kamarku. Kami pun berangkat bertiga menuju angkringan. Oh iyaa… Dinda dan Bagas enggak ikut, karena ingin istirahat.

Sepanjang jalan Malioboro sangat indah dan dipenuhi beragam jajanan kuliner. Kak Shella, kak Reza dan aku ngobrol sampai hampir jam 1 malam. Hahaha… Sengaja aku lama lamain, karena aku malas di kamar.

Setelah selesai, kami pun bergegas pulang. Setelah masuk kamar dan bersih-bersih, baru saja ingin tidur, kembali terdengar suara air dari kamar mandi. Dan tiba-tiba lampu mati.

Wah… Udah enggak beres nih. Aku segera menyalakan lampu dan keluar kamar mengetuk kamar ka Shella. Setelah ka Shella keluar kamar, aku ceritakan lampu tiba-tiba mati dan terdengar suara air dari kamar mandi.

Ka Shella ke kamarku dan menenangkanku. Belum ada 15 menit, lampu tiba-tiba mati lagi. Tapi kali ini, enggak lama nyala lagi. Aneh.

“Kak shella, balik aja ya,” kataku. Setengah jam kemudian, kak Shella kembali ke kamarnya, sudah jam 3 pagi dan aku ingin segera tidur. Kututup pintu kamar.

“Dari awal aku nginap di tempat ini, aku sama sekali enggak ada niat untuk menggangu. Aku mohon jangan menakutiku dengan cara seperti ini,” kataku.

Pagi hari, kami siap-siap untuk check out kamar dan merapikan semua barang bawaan. Sebelum pulang, aku sempat bercerita dengan resepsionis apa yang terjadi denganku.

Jawabnya: “Oh, kamar itu yah?! Sudah biasa mbak,” kata mbak resepsionis.

Sepanjang jalan, kami bercerita. Kak Reza baru bilang. “Di kamarmu itu ada sosok perempuan dekat jendela. Makanya dari awal aku tanya, kamu yakin Ras, sendirian di kamar ini? Enggak mungkin kalau diceritain juga, pasti kamu tambah takut,” kata ka Reza.

Berarti felling ku tepat. Aku lihat review hotel itu dari internet, memang ada beberapa yang bercerita pengalaman yang sama denganku.

 

Namun aku berterima kasih dengan hotel tersebut. Pelayanannya baik dan mbak resepsionisnya ramah. Liburan di Yogyakarta kali ini sungguh berkesan.

Hidup manusia dengan ‘mereka yang tak terlihat’ memang berdampingan.
Enggak perlu takut. Selama niat dan tujuan kita baik. Menjaga perilaku dan sopan santun di manapun kita berada. Aku cinta Yogyakarta dengan segala keindahannya.

 

————————–

Sumber: Twitter/@Kiranalaarasati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *