Petaka Tumbal Uang

Malam begitu sepi dan lengang, sementara, Parno yang tengah dilanda kelelahan akibat memindahkan berbagai jenis barang di kantornya melangkah gontai sampai tanpa sadar kakinya menendang sebuah kardus yang ternyata berisi uang ratusan ribu begitu banyak ….
oleh: Suraji

 

Neomisteri – Hidup memang penuh dengan misteri, begitu kata orang-orang bijak. Kenyataan itu ternyata dialami oleh Parno (29 tahun) setelah ia menikahi Nining (25 tahun) dan dikaruniai seorang bayi lelaki mungil yang diberi nama Bagus Aksoro (1 tahun) — pasangan muda yang tinggal di sebelah rumahku.

Sebagaimana lazimnya keluarga yang tinggal di kontrakan, hampir tiap ada kesempatan, kami selalu berkumpul untuk sekadar melepaskan penat setelah seharian bekerja sambil berbincang ngalor-ngidul. Mulai dari pengalaman lucu yang dialami atau dilihat sampai dengan beratnya beban kehidupan di tengah masa pandemi yang berkepanjangan ini.

Baca juga: Hantu Rumah Mertua

Tak seperti biasanya, Parno yang biasa ceria lebih banyak berdiam diri. Wajahnya murung dan sesekali menghela napas berat dan menghembuskannya kuat-kuat. Ia seolah hendak melepaskan beban berat yang tengah mengimpit dadanya. Semua mafhum, Parno sedang kebingungan karena bulan depan kontrakan rumahnya habis. Untuk memperpanjang, ia harus menyiapkan uang sekitar 4 juta rupiah. Alih-alih 4 juta, untuk keseharian saja ia sudah kesulitan. Maklum, akibat pandemi, ia terpaksa harus dirumahkan. Beruntung, ia bisa langsung bekerja di pergudangan berkat pertolongan salah seorang sahabatnya.

Hendak meminjam di kantornya yang baru, rasanya tidak mungkin. Maklum, ia baru dua minggu bekerja di sana. Mau meminjam kepada teman-teman yang biasa berkumpul, juga sama — meminjam kepada keluarga di kampung, apa lagi — inilah yang membuat Parno jadi gelisah.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali hanya pasrah dan mengadukan segala masalahnya kepada Allah SWT ….

Waktu terus berjalan. Saat pelunasan pembayaran kontrak rumah pun kian mendekat. Hari itu, Parno harus lembur karena begitu banyak barang yang datang. Ia harus menyusun sesuai dengan jenis barangnya. Ia baru selesai ketika waktu menunjukkan pukul 23.25 WIB.

Baca juga: Nenek Penunggu Turunan Nagreg

Seperti biasa, ia berboncengan dengan Hendrik, teman sekantor yang kebetulan satu arah. Parno diturunkan di pinggir jalan raya. Untuk sampai ke rumahnya, Parno harus melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri trotoar di antara toko-toko yang sudah tutup dan berbelok ke gang yang cukup dilalui motor. Sebenarnya, Hendrik memaksa Parno untuk diantarkan sampai ke rumah. Tapi apa daya, ia selalu menolak dengan halus. Alasannya, sekalian melemaskan otot-otot tubuhnya ….

Hatinya berdesir, maklum, malam ini rasanya berbeda dengan sebelumnya. Jalan yang biasanya ramai lalu-lalang kendaraan kini sepi mencekam. Pada saat akan berbelok ke gang, tanpa sadar, kakinya menendang sebuah kardus hingga isinya berhamburan keluar. Hah … matanya mendelik dan hatinya tercekat. Betapa tidak, di depannya tampak serakan uang ratusan ribu dalam jumlah yang tidak sedikit.

Parno mengumpulkan uang-uang itu dan memasukkan kembali ke dalam kardus. Ia berdiri hampir 30 menit untuk menunggu, jangan-jangan si pemilik datang mencarinya. Karena tak ada yang datang, Parno pun memutuskan untuk membawa uang itu pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan, hatinya terasa berdebar-debar ….

Baca juga: Legenda Hantu Wanita yang Kerap Menteror Toilet Sekolah di Afrika

Parno mulai merasakan keanehan ketika ia masuk ke rumahnya. Sang istri menatapnya dengan tajam seolah tak mengenal dirinya, begitu juga sang anak. Bagus langsung saja meronta dan menangis sejadi-jadinya. Parno hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan dan membuka pakaiannya serta masuk ke kamar mandi. Selesai itu ia duduk di teras untuk sejenak beristirahat sambil merokok — sementara, istrinya, Nining telah berhasil menenangkan bahkan membuat Bagus tertidur.

Tepat tengah malam, Parno kembali ke kamar mandi untuk berwudu dan mendirikan qiyamul lail yang dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebanyak 7 kali diakhiri dengan membaca Selawat barulah ia tidur. Ini suatru kebiasaan Parno yang sudah dilakukan sejak ia lulus SMP.

Malam terus merangkak. Ketika sedang berselawat, Parno merasa seolah didatangi Mbah Kiai Muchdor, guru mengajinya dan berpesan dlam bahasa Jawa yang kental; “Nanti akan datang seorang wanita paruh baya yang sakit dan minta air. Jangan sekali-kali diberi”.

“Ingat itu … jangan diberi”, ulang Mbah Kiai Muhdor dan kemudian raib.

Parno tersentak. Ia sadar dan menyudahi Selawatnya, kemudian tidur di samping istrinya.

Seperti biasa, sebelum Subuh Parno sudah bangun. Ia langsung menjerang air sambil menunggu waktu Subuh untuk mendirikan salat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumahnya.

Singkat kata, ketika hendak berangkat ke kantor, sekitar pukul 06.30, ia kedatangan seorang lelaki muda memapah wanita paruh baya yang tengah sakit. Dengan terengah-engah, si wanita paruh baya meminta sedikit air untuk pelepas dahaga. Tak seperti biasanya, sekali ini, Parno dengan tegas langsung menolaknya. Setelah meminta beberapa kali dan selalu ditolak, akhirnya, dengan langkah gontai lelaki dan wanita paruh baya itu pergi entah kemana dan Parno pun berangkat ke kantor. Sebelumnya ia berpesan kepada istrinya; “Jangan sekali-kali memberi air kepada siapa pun juga”.

Baca juga: Nenek Penunggu Turunan Nagreg

Malamnya, sekembalinya dari kantor, Parno membuka kardus berisi uang yang diketemukannya. Ajaib, tak lagi penuh seperti semula. Yang tertinggal hanya 4 juta rupiah.

“Alhamdulillah … inilah cara Allah memberikan karunia kepadaku”, bisik hati Parno sambil menangis.

Malamnya, di tengah-tengah ke-khusyuk-an berselawat, kembali Mbah Kiai Muhdor datang sambil berkata; “Jangan sekali-kali meninggalkan salat wajib, qiyamul lail, yasinan dan selawat. Uang yang kemarin kamu temukan sebenarnya adalah tumbal pesugihan yang sengaja diletakkan di sembarang tempat umum untuk perangkap bagi yang menemukan dan menyimpannya. Beruntung kamu yang menemukan, jika orang lain, pasti sudah jadi tumbalnya”.

“Orang itu tidak mau menumbalkan istri, anak atau keluarganya. Tiap tahun, ia selalu mencari tumbal orang lain. Tapi, sekarang ia sudah berhenti karena dirinya sendirilah yang menjadi tumbal”, tambah Mbah Kiai Muhdor.

“Kalau saja kemarin Parno memberi air yang diminta, maka, selain kekayaannya bertambah tiap tahun ia akan terus mencari tumbal”, pungkasnya dan tak lama kemudian lamat-lamat terdengar kata; “Assalamualaikum …”.

Mbah Kiai Muhdor pun hilang dari pandangan mata.

Esoknya, Parno menceritakan apa yang dialaminya kepada Nining, istrinya dan beberapa tetangga yang sempat melihat ia menolak wanita paruh baya yang tengah sakit meminta air. Akhirnya, semua hanya bisa saling tatap dan berkata lirih; “Ternyata … uangku yang sering ilang itu diambil oleh Mak Lampir yang kemarin itu ….”.

artikel terkait

Apa komentarmu?

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Hidangan Sahur dari Mbah Dal

Mungkin karena tak punya keturunan dan hidup sendiri, maka, Mbah Dal begitu perhatian dan sangat menyayangi ibu sampai akhir hayatnya .... oleh: Tim Redaksi   Neomisteri -...

Penunggu Kamar Belakang

Terus teteh kebangun dan badannya enggak bisa gerak tapi masih bisa liat. Tiba-tiba ada dorongan yang menyuruh lihat ke arah kakinya. Dan ternyata... Dari...

Tuyul Alas Kucur

Artikel Terpopuler