Sendang Keramat Pocot

Tak dapat dipungkiri, kampung Banyuurip yang terletak di sebelah tenggara Kabupaten Bantul, Jogjakarta, adalah merupakan sebuah perkampungan tua yang sampai sekarang masih meninggalkan jejak sejarah yang disakralkan ….
oleh: Bre Kumara

Neomisteri – Warta berkisah, pada suatu masa, Sunan Kalijaga kembali dari pengembaraan dan langsung mencari salah seorang muridnya, Ki Cokro Joyo, yang diminta olehnya untuk menunggui tongkatnya yang sengaja ditancapkan di tanah di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Jatimulyo.

Entah tak ada catatan pasti yang menyatakan berapa lama Sunan Kalijaga mengembara, namun, ketika ia kembali ke daerah tersebut yang tampak hanyalah rumpun bambu yang di sela-selanya dipenuhi dengan pepohonan yang merambat. Ia tak melihat wujud Ki Cokro Joyo yang mulanya adalah penderes kelapa (pengambil nira kelapa-Jw) untuk dibuat menjadi gula kelapa dari daerah Bagelen, Purworejo.

Akhirnya, Sunan Kalijaga memutuskan untuk membakar tempat itu. Tak lama kemudian, api pun melahap tetanaman yang tumbuh di tempat itu dengan cepat — seiring dengan padamnya api yang menyisakan kepulan asap di sana-sini, di sebelah sana, tampak ada sesosok tubuh yang terbakar. Ya … itu adalah tubuh dari Ki Cokro Joyo.

Sunan Kalijaga langsung mendekati tubuh muridnya. Ia pun berniat untuk memandikan jenazah sang murid sebelum memakamkan sebagai mestinya — tapi apa daya, nyatanya, daerah tersebut kering kerontang. Sunan Kalijaga lalu berdoa dan menancapkan tongkatnya ke tanah … ajaib, dari tanah keluar air jernih yang berlimpah dan dirasakan lebih dari cukup untuk memandikan jenazah Ki Cokro Joyo.

Baca: Kuntilanak di Studio Alam TVRI

Keajaiban kedua terjadi, begitu Sunan Kalijaga menyiram tubuh Ki Cokro Joyo yang sudah gosong (hangus-Jw) dengan air, tubuh tersebut langsung saja menggeliat dan hidup kembali tanpa meninggalkan luka bahkan lecet barang segaris pun.

Oleh sebab itu, mata air tempat ditancakpannya tongkat Sunan Kalijaga pada akhirnya dikenal sebagai Sendang Banyuurip atau Sendang Penguripan yang mengandung arti telaga air kehidupan, sedang tempat untuk memandikan Ki Cokro Joyo dan membuang segala kotoran berupa hangus dari tubuhnya dikenal dengan sebutan Sendang Pocot.

Neomisteri yang mencoba melakukan penerawangan merasakan getaran gaib teramat kuat yang berasal dari Sendang Pocot, agaknya, inilah sebabnya, kenapa mereka yang datang ke tempat ini harus dipandu oleh juru kunci. Tujuannya tak lain, agar kekeramatan sendang yang satu ini tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, jika ada pemimpin yang zalim, maka, lewat Sendang Pocot, jabatannya bisa saja copot. Sudah barang tentu, itu semua karena Allah dan Sendang Pocot hanya sebagai sarana belaka.

Jika diperhatikan dengan saksama, Sendang Pocot terjadi akibat dari memandikan tubuh Ki Cokro Joyo yang hangus karena terbakar — sudah barang tentu, pelbagai kotoran dari tubuh tersebut mengandung aura yang kurang baik. Bertalian dengan hal tersebut, selain angker, maka, mereka yang datang ke tempat itu harus dipandu oleh juru kunci untuk menghindari pelbagai hal yang tidak diinginkan.

Ketika neomisteri mencoba menghubungi sang juru kunci, sayangnya, yang bersangkutan baru saja keluar rumah untuk suatu keperluan yang amat mendesak. Namun, dari salah seorang tetangga yang kebetulan ada, neomisteri mendapatkan jawaban; “Semua itu terpulang kepada kehendak Yang Maha Kuasa”.

Baca: The Flying Dutchman, Kapal Hantu Yang Meneror Tujuh Samudra

“Artinya, jika kezaliman sang pemimpin dirasa sudah kelewatan, biasanya bisa copot. Tapi kita harus ingat, itu semua karena Allah apalagi doa orang-orang yang terzalimi biasanya langusng diijabah oleh Allah”, lanjutnya lagi.

“Lalu bagaimana dengan Sendang Pocot?” Pancing neomisteri.

“Nah … hal itu bagaimana kita menyikapinya”, jawabnya sambil tersenum.

Neomisteri pun mengangguk tanda setuju, biarlah pembaca sekalian yang memberikan penilaian terhadap pelbagai peninggalan dan bukti-bukti sejarah masa lalu ….

Apa komentarmu?