Mantra Keabadian Cinta

Siapa pun yang mengenal pasti akan terkejut, betapa tidak, Dinar dan Amran adalah pasangan abadi yang selalu berdua dalam suka dan duka sejak duduk di bangku SMA.
Oleh: Nizma A

Neomisteri – Sekali ini neomisteri sangat terkejut. Maklum, baru saja duduk di suatu cafe di Surabaya, mendadak melihat pasangan yang begitu serasi dan romantis duduk di seberang kanan.

Setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata keduanya adalah Dinar dan Amran yang merupakan sahabat ketika tujuh tahun lalu sama-sama menjadi Senat Fakultas di salah satu perguruan tinggi di Jakarta Pusat.

Suasana langsung cair. Ternyata keduanya menikah lima tahun yang di Banjarmasin, dan sekarang telah dikarunai sepasang buah cinta.

Yang membuat Neomisteri berdesir adalah kemampuan keduanya dalam mempertahankan cinta hingga sampai ke pelaminan. Maklum, keduanya mulai menjalin cinta sejak duduk di bangku SMA dan merupakan cinta pertamanya.

Bukan tanpa lika-liku, namun, keduanya berhasil melalui segala rintangan dengan sangat baik dan menjadikannya sebagai hikmah.

Neomisteri yang penasaran dengan merajuk meminta keduanya untuk menceritakan kunci keabadian cinta. Dinar sontak menunjuk Amran sambil berkata; “Ini jagonya”.

“Ah … enggak,” kelit Amran sambil menawarkan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan.

Amran terus mencoba berkelit dan akhirnya berkata; “Aku harus tanya dulu ke Ayah di kampung. Bolehkah ini ilmu diberikan dan dipakai.”

“Baik, aku tunggu banget kabarnya ya,” sahut neomisteri dengan bernafsu.

Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, malam itu ketika neomisteri sedang terjebak macet di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, telepon pun berdering. Dari seberang sana terdengar suara dengan nada galau; “Di mana? Temenin nongkrong yuk.”

“Oke … Di mana?” sahut neomisteri sekenanya.

Dari seberang sana menyebutkan suatu tempat, dan neomisteri pun kembali berputar arah menuju tempat yang dimaksud. Neomisteri sangat terkejut. Maklum, Bayu yang seharusnya tengah menikmati manisnya madu pernikahan, tampak lusuh.

“Kenapa?” Tanya neomisteri penasaran.

“Biasa … Ternyata begitu menikah banyak maunya,” rutuk Bayu sambil duduk dan memesan kopi serta beberapa jenis penganan.

Sambil menyesap kopi dan menikmati penganan yang tersedia, Bayu pun menyatakan penyesalannya. Kali ini neomisteri menjadi pendengar yang baik dan sesekali berkomentar untuk menenteramkan Bayu.

Tampaknya, sekali ini, Bayu meminta pendapat untuk berpisah walau pernikahannya baru berjalan dua bulan.

“Sabar Bro … mulanya memang sulit, karena pacaran yang sesungguhnya adalah begitu kita menikahinya,” kata neomisteri mencoba menenangkan sambil menceritakan keharmonisan Dinar dan Amran.

Neomisteri pun langsung teringat dengan janji Amran yang akan memberitahu rahasia keharmonisan dan keabadian cinta keduanya. Mulanya Amran menanggapi sambil bergurau. Namun ketika neomisteri menceritakan keadaan Bayu yang tengah galau akibat terpaan angin di biduk rumah tangganya, Amran pun langsung saja menjawab;

“Yang penting jangan tinggalkan salat lima waktu. Baca amalan ini setiap usai mendirikan salat fardu, sebanyak tujuh kali sambil menahan napas dan menengadahkan kedua telapak tangan. Begitu usai, tiupkan ke telapak tangan dan sapukan ke sekujur tubuh.”

“Lakukan selama tujuh belas hari tanpa putus. Akan lebih baik jika ditambah dengan puasa sunah dan menjadikannya sebagai salah satu zikir harian,” lanjut Amran.

Kemudian, dari seberang sana Amran pun membacakan amalannya;

samarlulut samar lige,
ketige dengan beras selaseh,
hati kau kusut campur suke,
jangan becerai kite kekasih,
berkat doaku lailahaillallahmuhammadarrasulullah.

Neomisteri pun langsung menyerahkan apa-apa yang dicatat kepada Bayu sambil menyampaikan salam dari Amran dan keluarganya untuk Bayu. Bayu kelihatannya kembali bersemangat untuk mempertahankan biduk rumah tangganya.

“Baik … trims berat. Semoga dikabulkan oleh Allah,” katanya sambil menjabat tangan neomisteri dan pamit pulang karena waktu terus merangkak.

Singkat kata, tiga bulan setelah itu, ketika sampai di tumah, neomisteri terkejut. Ternyata, Bayu dan Srie sudah menunggui cukup lama di ruang tamu ditemani oleh Yani dan Arya, istri dan putra pertama neomisteri.

Bayu langsung memeluk sambil berkata lirih; “Trims berat … Sekarang semuanya berubah sama sekali”.

“Itu semua karena Allah yang dengan demikian mudah membolak-balikan hati umatnya,” kata neomisterti mengingatkan agar Bayu tidak terjebak dalam syirik sebagaimana yang diingatkan Amran waktu memberikan amalan itu beberapa waktu yang lalu.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, Bayu dan Srie semakin mesra dan harmonis. Boleh dikata, tiap hari, tak sekalipun terlontar kata-kata yang bernada tinggi dari keduanya. Yang ada hanyalah panggilan sayang dan canda ria. Dan yang paling menggembirakan adalah, di tempat mereka tinggal, diam-diam, pasangan ini dijadikan sebagai panutan bagi keluarga muda lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *