Mantra Tolak Balak

Dalam sepuluh hari ini, tak ada lagi kesibukan, semuanya lebih banyak berpangku tangan dan saling pandang satu sama lain sambil menarik nafas dalam-dalam ….
Oleh: Burhanuddin

Neomisteri – Tampaknya, Dewi Fortuna sedang dekat pada diri Syamsu. Perlahan namun pasti, cafe-nya menjadi salah satu tempat vaforit bagi sebagian masyarakat di Jakarta Barat untuk melepaskan penat barang sejenak akibat macet yang berkepanjangan.

Belakangan, tak hanya menambah jumlah karyawan, ia juga mengontrak lahan kosong di sebelah cafe-nya untuk dijadikan sarana parkir — tak cukup sampai di situ, untuk membuat pengunjung nyaman bandwith wifi-nya pun turut diperbesar. Namun yang pasti, selain suasana yang nyaman, harga di cafe itu tidak membuat saku harus dirogoh dalam-dalam. Itulah yang membuat kenapa cafe milik Syamsu menjadi pilihan banyak orang.

Selain itu, kedekatan Syamsu dengan para pengunjung atau pelanggan karena ia sering berinteraksi untuk menanyakan kepuasan mereka, membuat suasana pun menjadi begitu hangat dan akrab. Mereka yang datang baik keluarga besar yang sedang berkumpul ….

Tak heran, jika kebetulan tidak sempat singgah, ada beberapa di antara pelanggan yang sengaja memesan beberapa jenis makanan dan minuman untuk diantarkan ke rumahnya.

Sayangnya, masa itu berjalan tidak sampai enam bulan. Tanpa sebab yang jelas, cafe itu mulai ditinggalkan oleh para pelanggannya. Bahkan, sudah sepuluh hari ini, semua karyawan lebih banyak berpangku tangan dan saling tatap satu sama lain sambil sesekali menghela nafas panjang. Maklum, dalam sehari, hanya satu atau dua pengunjung saja yang singgah.

Syamsu mulai gelisah, karena, sudah dua bulan ia tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada bank.

Di tengah-tengah kegalauan, mendadak teleponnya berdering, Dari seberang sana, Yanto, sahabatnya ketika masih kuliah menelepon dan menanyakan lokasi cafe-nya. Dengan menggerutu, Syamsu pun menerangkan letak cafe-nya.

Dua puluh menit kemudian, Yanto turun dari motornya dengan menggerutu; “Gila … Hampir sejam gua muter-muter di jalan ini, tapi, cafe lu gak keliatan.”

“Alesan”, kata Syamsu sambil bersungut, “takut ditagih utangnya ya …,” sambungnya lagi sambil memeluk Yanto.

“Bener … sumpah, gak keliatan,” kata Yanto meyakinkan.
Setelah duduk dan meminta kepada karyawannya untuk menyiapkan minuman pembuka, kedua sahabat itu terlibat dalam pembicaraan yang serius. Yanto meminta Syamsu sekarang juga ikut ke rumahnya untuk berjumpa dengan kakak ayahnya yang baru saja datang dari kampung halamannya, Klaten, Jawa tengah.

“Gua bukan ngomporin, lu harus ketemu, Pakde gua jago kebatinan,” kata Yanto sambil menarik tangan Syamsu agar menuruti kehendaknya. Karena desakan yang terus menerus, akhirnya, Syamsu pun menuruti keinginan sahabatnya.

Singkat kata, setibanya di rumah Yanto dan setelah sejenak berbasa-basi dengan ayah dan ibu sahabatnya serta memperkenalkan diri kepada Pakde Abdullah, Syamsu pun menceritakan apa yang tengah dialaminya.

loading...

Pakde Abdullah hanya diam dan sekali-kali menghisap rokoknya dalam-dalam. Tak lama kemudian, terdengar katanya; “Ya … cafe Nak Syamsu diganggu orang karena dianggap saingan.”

“Lalu, bagaimana cara mengatasinya Pakde?” Potong Syamsu dan Yanto hampir bersamaan.

“Harus dibersihkan dengan cara ritual,” jawab Pakde Abdullah.

“Caranya?” Tanya Syamsu cepat.

“Puasa mulai Selasa, Rabu, dan Kamis. Tiap tengah malam, sambil membawa air putih dalam wadah, bacalah mantra tolak balak dengan tahan nafas. Tiap selesai, tiupkan ke air yang sudah disediakan. Ulang sampai sembilan kali,” papar Pakde Abdullah.

“Artinya, tiap malam, baca sembilan kali?” Tanya Yanto menegaskan.

“Betul”, jawab Pakde Abdullah sambil tersenyum. “Campurkan air tadi dengan air yang lain untuk membersihkan (mengepel lantai) dan menyiram tiap sudut cafe serta tempat parkir. Nah … silakan catat mantranya,” imbuhnya mengingatkan agar Syamsu segera mempersiapkan alat tulis ….

Bismillahirohmanirrohim
Pande awang-awang pandelah jiwa ragaku
Pande awang-awang pandelah atiku
Sedulurku cocak ijo sing manggon kraton tanah Jowo
Siro datengo manggono ono rohaniku, kuku wojo, lar gongso, ilu upas,
mripat saloko.
Opo agem-agemme pulung kraton pulung “Poncosuno” pulung
cangkok joyo molyo
Opo pangananmu teluh tenung, jengges,santet, telkim komodong, tuju
gono, tuju basah, tuju layar, tumbak mripat, sak akee loro sak akee
upas, Jin, setan, setan putih, demit purih, jin putih, peri perayangan
putih turai wong kanung.
Kulhu balik sumpah balik luputo eleh ngarah balio marang sing
sumpah.
Lailahhaillallah sopo jail marang insun dadi satruneng Allah keno
bendune Allah.
Yo ingsun mustikane Allah waras slamet sak lawase.
Sallalahusalam.

Setelah menghaturkan terima kasih, Syamsu pun kembali. Ia bertekad untuk menjalankan segala petuah Pakde Abdullah. Minggu pertama dan kedua, ia gagal melaksanakan karena ketiduran.

Pada minggu ketiga, usai karyawannya mendirikan salat Jumat, ia meminta semuanya untuk kerja bakti membersihkan cafe-nya.

Semuanya bekerja dengan harap-harap cemas ….

Minggu, tepat pukul 10.30 beberapa pelanggan yang selama ini menghilang kembali datang sambil mengeluh; “Kemana saja … Pulang kampung kok lama banget. Tiap kami lewat, cafe selalu tutup.”

“Tutup …?” Kata yang lainnya, “Rasanya cafe ini pindah. Kita bahkan enggak liat bangunannya,” sambungnya lagi.

“Ya … biasa, kangen sama suasana kampung,” kilah Syamsu yang disambut dengan derai tawa. “Oke … Silakan pesan dan nikmati,” tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ia tak pernah menyangka, di zaman yang serba modern, ternyata, masih ada orang-orang yang menggunakan cara-cara lama untuk menjatuhkan saingannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *