Furnitur Berdarah

Ia tak pernah menyangka, papan kayu jati yang teronggok di pinggir pagar pemakaman umum yang diambil dan dibuat furnitur ternyata bekas nisan dari makam korban kecelakaan tunggal yang belum lama ini dimakamkan ….
oleh: D Pramathana

 

Neomisteri Walau baru tiga bulan pindah ke salah satu perumahan yang terletak di ujung paling selatan Jakarta, namun, keluarga Mas Bayu begitu cepat dikenal orang. Maklum, lelaki berusia 43 tahun, kurus, berambur gondrong dan perokok berat itu memang sosok yang mudah bergaul. Begitu juga Yanti (40 tahun) ibu muda berkulit kuning langsat juga murah senyum dan mau berbaur, apalagi, ketika sedang bermain di taman yang ada di tengah-tengah komplek perumahan bersama Wisnu (3 tahun) sang buah cintanya.

Keseharian, Mas Bayu sibuk di studionya yang terletak di bagian belakang rumahnya. Boleh dikata, begitu terdengar suara mesin potong atau serut, pasti Mas Bayu sedang mengerjakan furnitur rancangannya. Sementara, Mbak Yanti bekerja di salah satu bank di bilangan Jakarta kota dan baru kembali sekitar pukul 18.30, sedang Bayu diasuh oleh Mbok Yem, wanita paruh baya yang mengaku tinggal satu kampung dengan Mas Bayu.

Baca: Hantu Rumah Mertua

Ya … Mas Bayu sedang mengembangkan idenya membuat furnitur model puzzle — tujuannya agar orang tidak bosan dan kapanpun dapat merubah bentuk furnitur yang ada sesuai dengan keinginannya. Selain pengerjaannya rapi dan cepat serta harga yang terjangkau, kadang, Mas Bayu juga melakukan tambal sulam terhadap furnitur yang rusak, sehingga jadi baru dan bahkan lebih baik dari aslinya. Itulah salah satu kelebihannya, sehingga dalam waktu singkat pelanggannya pun terus saja bertambah.

Hingga suatu malam, Mas Bayu keluar dengan sepeda lipat kesayangannya untuk membeli rokok. Ketika lewat Pos Satpam ia melihat ada beberapa orang sedang duduk-duduk sambil main gaple. Mas Bayu pun melambaikan tangannya; “Bentar … beli rokok dulu”.

“Oke …”, jawab yang ada serempak.

Tak sampai 20 menit, ia sudah kembali dan menghampiri yang sedang bermain gaple sambil memberikan beberapa bungkus rokok dan martabak telur.

“Biar enggak ngantuk dan masuk angin”, katanya sambil tersenyum.

“Wah … emang cuman Mas Bayu yang tau perasaan kitah”, kata Dewo sambil menerima rokok kotak pembungkus martabak, “ini langsung kita sikat yaaaa”, tambahnya.

Bayu mengangguk, kemudian berjalan mendekati Bang Sopar yang sedang duduk di depan pos jaga. Ia penduduk asli daerah itu dan merupakan keamanan komplek. “Bang, gua nemu papan itu di pager makam. Bang Opar tau, siapa yang punya?” Tanyanya kepada Bang Opar.

Bang Opar mengangkat bahu dan terdiam sejenak. Tak lama kemudian menyahut, “Kalo di luar pager artinya milik orang banyak”.

“Gua tunggu sampai lusa. Kalo enggak ada yang nyari, lumayan buat ambalan bufet”, kata Mas Bayu.

“Jangan lupa komisinya”, sahut Bang Opar sambil menggesekkan ibu jari dengan telunjuknya.

Semua yang mendengar sontak tertawa. Dewo pun langsung menyahut; “Kita mah cukup, rokok, martabak, sesekali nasi goreng ya …”.

“Yes …!” Kata semuanya.

Mas Bayu pun langsung pamit pulang untuk beristirahat.


Tiga hari kemudian, karena tidak ada yang mencari, maka, Mas Bayu pun langsung saja menyerut, memelitur dan memasang papan jati tersebut sebagai ambalan furnitur ruang tamunya. Ia tampak puas. Tak lama kemudian, ia pun menyusun beberapa buah buku tebal agar kelihatan lebih menarik.

Baca: Misteri Tol Jombang Lokasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel

Ketika pulang, Mbak Yanti pun tampak kagum dengan karya suaminya. Ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tak seperti biasanya, malam itu, tanpa sebab yang jelas, Wisnu terus saja menangis, menangis dan terus menangis. Alih-alih kedua orang tuanya, Mbok Yem yang selama ini mengasuhnya tak dapat menenangkan Wisnu.

Jadilah, malam itu serumah tak ada yang bisa tidur.

Malam berikutnya, menjelang Maghrib, Wisnu langsung berulah. Selain menangis, ia juga tak mau masuk ke dalam rumah. Tak hanya itu, ruang tamu rumah juga terasa bau anyir darah segar … hal itu terasa ketika Mbak Yanti pulang kerja.

“Kok bau anyir darah? Siapa yang luka?” Berondongnya kepada Mbok Yem dan Mas Bayu, suaminya.

Keduanya saling pandang dan mengangkat bahu. Sementara, Wisnu terus saja merengek dan meminta ibunya agar segera keluar dari rumah sambil memejamkan matanya. Ia seolah begitu ketakutan.

Naluri ibu langsung saja bekerja. Yanti pun berjalan ke arah masjid untuk menemui Ustaz Mas’ud. Beruntung, Ustaz Masud baru saja akan beranjak pulang. Setelah uluk salam, Yanti pun menceritakan keadaan Wisnu ….

Ustaz Masud langsung mengajak Yanti pulang. Setibanya di depan rumah, ia meminta Mbok Yem untuk menyiapkan segelas air putih, setelah itu, dengan khusyuk Ustaz Mas’ud membaca doa-doa dan menyerahkan gelas airnya kepada Yanti. “Bacalah selawat tiga kali, kemudian minumkan dan basuh mukanya tiga kali. Insya Allah, Wisnu akan tenang”.

Baca: Kisah Mistis Pedagang Burung Pelihara Perkutut

Dan benar, setelah itu, Wisnu langsung saja tertidur dalam gendongan ibunya. Maklum, hampir seharian ia tidak mau makan, dan minum. Ustaz Mas’ud yang tanggap lalu meminta Mas Bayu untuk mencopot ambalan papan jati dan mengembalikannya ke tempat semula ditemukan sambil berkata; “Itu papan adalah nisan dari anak muda yang tiga minggu lalu dimakamkan. Karena bagian kaki, maka, tidak ada tulisan namanya”.

“Oh …”, hanya itu yang keluar dari mulut Mas Bayu.

Mulanya Mas Bayu agak takut dan meminta Bang Opar yang baru sampai untuk mencopotnya. Tapi, Ustaz Mas’ud memberikan kode agar ia sendiri yang melakukannya. Mas Bayu langsung mencopot dan memegang papan jati itu sambil menatap ke arah Ustaz Mas’ud dengan perasaan tak menentu.

Maklum, Mas Bayu merasakan tangannya seolah memegang papan yang dipenuhi darah. Bau anyir darah sontak saja menguar amat menyengat. Semua yang ada di tempat itu dapat merasakannya. Bahkan, Yanti sampai menutup hidungnya. Melihat Mas Bayu jadi amat ketakutan, Ustaz Mas’ud pun berkata; “Ayo saya antar”.

Bergegas keduanya langsung menaiki motor Bang Opar dan mengantarkan papan jati itu ke tempatnya semula. Setelah papan jati disandarkan, Ustaz Mas’ud pun berdoa. Tak lama kemudian, ia pun mengajak pulang sambil berkata; “Sekarang sudah aman. Ayo kita pulang”.

Baca: Nyaris Jadi Tumbal Pesugihan

Di tengah jalan, Ustaz Mas’ud pun bercerita, “Anak muda itu mengalami kecelakaan tunggal ketika balik belajar dari rumah temannya. Ia memafkan, karena Mas Bayu memang tidak berniat mencuri. Apa yang dilakukan karena ketidak tahuannya”.

Mendengar itu, Bang Opar pun langsung saja mengingatkan Mas Bayu dengan bahasa Betawi yang kental; “Makenye laen kali, kalo mo ngambil apa-apa, numpang-numpang dulu”.

Sejak itu, Mas Bayu berjanji untuk tidak mengambil apapun yang dilihatnya walau barang itu ia butuhkan dan sangat menarik ….

Furnitur Berdarah

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Masjid Kobe: Tetap Kokoh Meski Diterjang Bom dan Gempa Dahsyat

Serangan bom juga hanya membuat bagian luar bangunan masjid menjadi sangat hitam. Sejumlah tentara Jepang yang berlindung di ruang bawah tanah masjid dikabarkan selamat...

Akibat Susuk Kencana

Walau hanya tinggal tulang berbalut kulit dan lebih dari setahun tergolek lemah di pembaringannya, namun, wajahnya masih saja menguarkan aura kecantikan yang sangat menggoda...

Hantu Rumah Mertua

Artikel Terpopuler