Kekuatan Mantra Pangucap

Walau usianya belum mencapai tiga puluh tahun, namun, hampir semua supervisor dan karyawan merasa segan hingga tak ada seorang pun ada yang berani menentang pendapat apalagi melanggar segala aturannya ….
Oleh: Arya Setyaki

 

Neomisteri – Masuknya Rita (28 tahun), wanita jebolan Teknologi Manajemen Industri dari salah satu perguruan tinggi ternama dan melanjutkan studinya di Jepang, di perusahaan yang bergerak dalam ekspor pelbagai barang jadi di bilangan Karawang, mulanya, membuat banyak orang merasa was-was.

Maklum, segala aturannya, terasa begitu mengikat. Misalnya, segala sesuatunya dimulai dan diakhiri sesuai dengan waktu yang tertera. Dengan kata lain, beberapa saat sebelum pukul 08.00 segala sesuatunya sudah benar-benar siap sehingga tepat pukul 08.00 pekerjaan harus bisa dimulai.

Tidak ada lagi alasan mulai membersihkan atau memanaskan mesin atau yang lainnya. Imbal baliknya pun jelas, jika target dapat dicapai atau melebihi, semuanya diatur di dalam pemberian jasa produksi (bonus-pen) yang berlaku tiap akhir tahun berjalan.

Boleh dikata, Rita menerapkan prinsip kesalahan kerja harus bisa diminimalisir sampai ke batas terendah.

Walau dengan menggerutu dan sumpah serapah dalam hati, namun tak ada pilihan lain, semua unsur mulai dari supervisor dan karyawan menjalankan apa yang diarahkan dan diminta oleh wanita cantik yang satu ini. Boleh dikata, tak ada yang berani menentang apalagi melanggar segala aturan yang dibuatnya. Ketika akhir tahun, barulah semua merasakan hasilnya.

“Wah … kalo bonusnya begini terus, tahun depan kita bisa ganti motor,” kata Hidayat, mekanik yang mulanya paling terkenal banyak protes.

“Benar Bang,” sahut lainnya hampir bersamaan.

Keberhasilan Rita yang baru setahun bergabung, hampir tiap saat jadi pembicaraan yang hangat di kantin perusahaan, terutama pada saat-saat istirahat dan makan siang.

Neomisteri yang ruangannya bersebelahan dengan Rita mulai terusik ingin menelisik. Maklum, apa yang dilakukan oleh Rita, walau tidak berhasil, namun, pernah diterapkan oleh Pak Andry, Direktur Produksi yang dipromosikan menjadi Direktur Keuangan perusahaan. Inilah yang menggelitik perasaan Neomisteri, kenapa Rita mampu menerapkan aturan itu tanpa menimbulkan gejolak sama sekali.

Ketika hal itu neomisteri tanyakan saat istirahat makan siang, Rita hanya berkilah; “Mungkin pendekatan dan cara penyampaiannya yang berbeda.”

Neomisteri menggelengkan kepala sambil menerangjelaskan pelbagai program Pak Andry kepada Rita yang mendengarkan sambil tersenyum. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulutnya sampai kita kembali ke ruang masing-masing untuk mulai bekerja lagi.

Hari terus berganti, tiap bertemu, neomisteri selalu saja menanyakan hal yang serupa. Mungkin karena sungkan atau risih karena pertanyaan neomisteri, akhirnya, Rita pun menjawab; “Nanti … setelah mendapatkan izin ibu, akan saya kasih tahu.”

Sebulan kemudian, pada suatu siang, sambil menggamit bahu neomisteri, Rita pun berkata; “Baik … menurut ibu di Bandung, saya boleh menceritakan apa yang dimita kemarin.”

Sejatinya, Rita terlahir dari keluarga yang biasa saja. Tidak berlebih, tidak pula kekurangan. Walau sang ayah telah meninggal karena sakit saat Rita duduk di bangku SMP, namun, sang ibu yang bekerja di bagian kredit macet salah satu bank mampu menghidupi keluarganya dengan layak. Boleh dikata, setelah ditelepon oleh sang ibu, cepat atau lambat para kreditur akan menyelesaikan tunggakkannya. Itulah sebabnya, kenapa sang ibu terus dipertahankan oleh para direksi walau sudah waktunya pensiun.

Sama seperti neomisteri, Rita pun tergelitik untuk mengetahui rahasia keberhasilan ibunya. Saat ia kuliah, tepatnya waktu duduk di semester 3, sang ibu pun menceritakan rahasia keberhasilannya; “Pertama pasrah kepada Allah, selanjutnya, lakukan puasa Senin-Kamis sampai tujuh Senin dan tujuh Kamis.”

“Tapi bisa juga puasa lainnya, misalnya Puasa Daud atau mutih (hanya minum air putih dan makan nasi putih) yang penting tujuh hari.” lanjut sang ibu.

“Tepat tengah malam, sucikan badan dan keluar rumah (tidak di bawah bangunan yang dibuat oleh manusia-pen). Dengan tengadah dan kedua belah tengan membuka (seperti layaknya berdoa-pen), baca amalan tujuh kali dengan tahan napas. Setelah itu, tiupkan ke kedua belah telapak tangan dan sapukan dengan merata ke seluruh tubuh dari mulai kepala sampai kaki,” sambungnya panjang lebar.

“Semakin banyak waktu puasa yang dijalani akan semakin baik. Karena puasa adalah sarana untuk mencapai pelbagai hal besar yang kita inginkan,” ujar sang ibu mengingatkan kelebihan dari berpuasa. “Adapun doanya adalah sebagai berikut,”

Sir putih entik manik,
Ret sajagat emut aing,
Ratu Galuh ucap aing,
Rasululloh anu asih di sunan,
Wong sajagat pada asih,
Malik asih ka Ashadualaillahaillallohwaashaduannamuhammadarosullulloh.

“Terima kasih,” kata neomisteri setelah mencatatnya.

“Sama-sama, semoga bermanfaat. Yang perlu menjadi catatan adalah, jangan gunakan Ilmu Pangucap ini untuk kejahatan. Karena akibatnya bakal luar biasa. Si pengamalnya bisa gila atau bahkan celaka tanpa sebab yang jelas,” kata Rita mengingatkan sambil berjalan menuju ke ruangannya untuk kembali bekerja.

Neomisteri pun mengangguk tanda mafhum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *