Ajian Kalalanangan

Sony hanya dapat tertunduk lesu di tengah-tengah keceriaan yang diperlihatkan sepasang anak angkatnya yang tengah bermain dengan teman-teman sekolahnya di sebuah taman di kota sejuta bunga ….
Oleh: Budi Kusuma

 

Neomisteri – Sungguh beruntung, kali ini, neomisteri berjumpa dengan sosok yang bersedia menceritakan kisah kelam hidup yang pernah dijalaninya.

Kota Sejuta Bunga di awal November 2019. Langit mulai menyemburatkan warna jingga, dan lampu-lampu penerangan di tepian jalan juga mulai menyala. Tak lama lagi, Kota Sejuta Bunga bakal dipeluk oleh gelap dan hawa yang dingin.

Di seberang sana, tampak seorang lelaki paruh baya yang sesekali menguarkan senyum dan menghela napas dalam-dalam dan merapikan rambutnya yang tertiup semilir angin. Karena tak ada lagi kursi taman yang kosong, maka, neomisteri sengaja datang dan memohon izin untuk duduk.

Lelaki itu tersenyum dan mempersilakan neomisteri duduk. Selintas tampak, lelaki di sebelah merupakan orang yang berada. Hampi semua yang melekat di badannya branded. Udara dingin membuat neomisteri meminta izin untuk merokok. Kembali lelaki itu tersenyum dan mempersilakan. Tanpa terasa, kami pun terlibat dalam pembicaraan yang hangat dan menyenangkan ….

Sony (52 tahun) demikian sapaan lelaki yang bernama Marsono, sejatinya berasal dari Kendal dan melanjutkan studinya di salah satu universitas swasta yang cukup ternama di Jakarta.

Wajah yang tergolong ganteng, otak yang encer dan humoris membuat dalam waktu singkat ia memiliki banyak sahabat. Dari pergaulan itu, karena situasi eknomi, akhirnya ia mengikuti jejak Dodi bertualang dari pelukan tante yang satu ke pelukan tante yang lainnya.

Mulanya, ia hanya mendapatkan sekadar makan dan transport. Namun akhirnya semuanya berubah setelah ia bertemu dengan Mas Taslam, tukang becak asal Tegal yang selama ini menjadi sahabatnya bermain gaple atau catur di sudut jalan dekat dengan tempat ia indekos.

Dari bisik-bisik tetangga, Sony tahu kalau Mas Taslam adalah pemuas nafsu dari beberapa wanita malam yang indekos di sepanjang jalan itu. Konon, keperkasaan Mas Taslam sungguh luar biasa. Ia mampu “bermain” antara 2-3 jam nonstop, bahkan bermain dengan 2-3 wanita dalam semalam.

Cerita itu benar-benar menggelitik hati Sony. Ketika hal itu ditanyakan, Mas Taslam pun tertawa. Dengan lagak jumawa ia menceritakan bahwa apa yang dilakukan adalah berkat Ajian Kalalanangan, suatu ilmu Jawa yang mungkin sudah punah. Dengan hati-hati, Mas Taslam menerangkan;

“Beli tiga puluh limagotri (logam bulat kecil-pen), dan tiap hari hanya makan nasi dan minum air putih. Tiap tengah malam, bacalah mantranya dengan tahan nafas sambil memegang gotri. Setelah selesai tiup ke gotri dan telan. Bayangkan gotri tadi lewat tenggorokan, turun ke perut dan dorong ke kemaluan….”

“Ingat, semua itu dimulai bersamaan dengan hari kelahiran dan berakhir juga di hari kelahiranmu,” tambahnya mengingatkan. Adapun mantranya:

Hong Sang Hyang Aditya,
Hapanas kamaku,
Kadi wawa,
Hapanas lalanangku kadi wawa teja,
Hapanas kamaku kadi murub abang panas
Hong, Hong Sang Hyang Aditya ….

loading...

Sony begitu gembira. Betapa tidak, ia ingin menyaingi Dodi yang selalu mendapatkan keinginannya dari para tante yang butuh kehangatan darinya.

Singkat kata, usai menjalankan ritual, di salah satu mal Sony bertemu dengan Tante Mira yang selalu melecehkannya. Setelah sejenak berbincang, Tante Mira mengajak Sony ke salah satu hotel yang terletak di Ancol.

“Sebentar saja yah. Seperti biasanya”, kata Tante Mira.

Sony hanya tersenyum penuh arti. Sekali ini, ia ingin menguji keampuhan Ajian Kalalanangan sekligus membuat Tante Mira benar-benar takluk.

Dan benar, setibanya di dalam, Sony pun mulai menjalankan aksinya. Sekali ini Tante Mira sempat terpekik kecil. Betapa tidak, ia merasakan sesuatu besar, panjang, keras namun lentur memasuki tubuhnya. Matanya terbeliak, desahannya pun kian keras, bahkan kedua tangannya mencengkeram bahu Sony dengan keras sampai lecet dan perih akibat keringat yang mulai membanjir.

“Aduuuuh Son… Ampun… Tolong istirahat sebentar…,” demikian rintih Tante Mira.

Sekali ini Sony enggan menuruti kemauannya. Ia terus saja memacu dengan cepat kuda tunggangannya. Entah berapa kali Tante Mira mengeluarkan laharnya.

Seiring Sony menyudahi permainannya, Tante Mira pun tertidur dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia lupa akan janjinya untuk segera pulang. Ketika terbangun, Tante Mira hanya bisa berkata; “Aduuuh, aku terlambat. Padahal aku mau jemput Hanny dan ada janji ketemu Dodi.”

Sony hanya tersenyum sambil mendengarkan celoteh Tante Mira yang masih terbaring di tempat tidur tanpa selembar benang pun di tubuhnya. Ia mengangsurkan kedua tangannya kepada Sony dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.

Sambil saling menyabuni tubuh, Tante Mira pun berkata dengan nada penuh ancaman; “Kamu hanya jadi milikku. Jangan coba-coba dengan yang lain.”

Sony hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Ia benar-benar puas. Ternyata ilmu yang didapat dari Mas Taslam benar-benar luar biasa.

Singkat kata, sejak itu, penampilan Sony jadi berbeda. Dari Tante Mira ia mendapatkan rumah lengkap dengan isinya, sementara dari Tante Hanny ia mendapatkan mobil, sedang dari Tante Iin, Tante Rosa, dan Tante Telly yang kesemuanya dikencani dengan diam-diam ia mendapatkan banyak uang dan barang-barang mewah.

Ia melakoni hidup sebagai gigolo hampir sepuluh tahun.

Kini, dengan didampingi istrinya dan sepasang anak angkatnya, Sony sengaja memilih untuk pindah ke Kota Sejuta Bunga untuk merajut kasih sayang dengan keluarga kecilnya dengan mendalami ilmu-ilmu agama dan mengelola Yayasan Yatim Piatu.

“Silakan tulis, saya hanya berharap sebagai penambah wawasan saja. Dan jangan sekali-kali menirunya. Ingat… Azab Allah teramat pedih,” demikian pesannya kepada neomisteri sambil menutup pembicaraan.

 

Baca juga:

Mengenal Lebih Dekat Ajian Brajamusti

Mengenal Ilmu Kanuragan Lembu Sekilan

Mantra Awet Muda

Kekuatan Mantra Halimunan

Ajian Kabedasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *